Artikel lain

Jumat, 23 Juni 2017

Buku: Seni Membuat Herbarium

Cara pembuatan herbarium dipelajari dalam mata pelajaran IPA. Kegiatan ini sangat menarik dan dapat menstimulasi anak untuk menyukai penelitian ilmiah dalam ruang lingkup sederhana. Berbekal kepercayaan dari penerbit Tiga Ananda, saya coba menyusun buku dengan tema tersebut, dan alhamdulillah sekarang buku sudah dapat dibeli secara online.

Isi buku menggabungkan unsur sains, pengetahuan umum, prakarya, dan seni. 

Anak-anak akan diajak untuk mengenal pembuatan herbarium menggunakan alat press sederhana, sasak, gliserin, dan juga silika gel. Selain itu, di dalam buku ini juga disajikan tutorial untuk memanfaatkan tumbuhan yang sudah diawetkan menjadi benda seni.


Judul: Seni Membuat Herbarium
Halaman: 58
Penerbit: Tiga Ananda (Imprint Buku Anak Penerbit Tiga Serangkai)
Harga: Rp. 34.000,-


Tertarik membeli? Silakan klik BELI

Selasa, 11 April 2017

Buku Belajar Menulis Huruf untuk Anak-Anak

Ikut meramaikan arena pembuatan buku belajar menulis huruf untuk anak-anak, saya luncurkan ebook dalam beberapa model di bawah ini. Silakan klik pada gambar untuk melihat deskripsi:


Belajar menulis dengan cara menebalkan huruf
dan  tambahan aktivitas mewarnai gambar

Buku belajar menulis huruf (PDF)
Belajar menulis dengan menebalkan huruf (PDF)



Jumat, 07 April 2017

Cara Mudah Mengajar Anak Membaca




Ebook ini sudah pernah dibuat dalam bentuk buku fisik, dengan judul, "Cara Efektif agar Anak Senang dan Mahir Membaca", namun untuk edisi revisi saya kembali meluncurkannya dalam bentuk digital, dengan judul yang lebih gampang diingat.

Tujuh puluh persen halaman saya bubuhi ilustrasi foto agar Anda  tidak bosan. Bagi pembaca yang ingin membeli ebook ini, silakan klik tautan berikut ini: http: //belajar-membaca.com/product/cara-mudah-mengajar-anak-membaca-pdf/





Kamis, 14 April 2016

Novel vs Buku Akademik

Setiap kali bepergian, anak-anak kemungkinan besar akan membawa beberapa buku untuk dibaca di perjalanan. Tidak selalu buku baru, seringnya malah buku lama yang mereka baca ulang entah untuk ke berapa kali. Tapi kemarin (Kamis, 16 April 2016) ada sedikit anomali. Kalau biasanya Luqman baca buku-buku ringan dari jenis komik, saya lihat ia tengah serius banget memegang sebuah novel agak tebal. Terdengarlah celotehan, "Duh, jadi hoyong ceurik ini mah,".

"Memangnya baca buku apa, De?" tanya saya. "Hafalan Sholat Delisa." "Menghanyutkan ini mah bukunya," ujarnya lagi. Meski ia sudah menonton kisah versi film, baca bukunya tetap lebih membekas ternyata.

Berandai-andai, baca buku pelajaran akademik bisa hanyut seperti baca novel. Entah siapa yang harus diubah, pembacanya atau bukunya, atau biarkan saja begitu adanya sebagai sebuah ciri khas :).

Rabu, 07 Oktober 2015

Membuat Halaman LibreOffice Menjadi Putih

Salah satu masalah ketika menggunakan LibreOffice di ubuntu 11 adalah warna screen standar yang nampak hitam. Hal itu cukup mengganggu, terutama bagi mereka yang sudah terbiasa memakai word, di mana warna layar putih dan tulisan hitam.

Setelah beberapa lama bersahabat dengan gangguan tersebut, akhirnya hari ini saya menemukan tips untuk mengubah layar menjadi putih. Saya simpan catatannya di blog ini untuk mengikatnya sebagai arsip. Adapun sumber pencerahan yang saya praktikkan berasal dari forum ini:

1. Setelah layar pengetikan terbuka, KLIK menu Format --> pilih Styles & Formatting

2. KLIK menu Page Styles (icon ke-4 dari kiri)

3. KLIK kanan pada tulisan Default, lalu klik modify

4. Klik menu Page, lalu atur ukuran kertas standar yang diinginkan, dan ubah semua margin menjadi 0

5. Klik menu Background, pilih warna putih

6. Klik menu Borders, lalu atur dengan pengaturan sebagai berikut:

- Pada Line arrangement, pilih Set All Four Borders

- Pada Line, atur warnanya menjadi sama dengan warna Background (putih)

- Pada Spacing to Contents, atur menjadi 2 cm (atau 20mm jika satuannya milimeter) dan bisa juga lebih besar, tergantung kebutuhan.

7. KLIK Apply, lalu klik OK. Insya Allah, layar sekarang menjadi putih.

8. Untuk menyesuaikan warna huruf sehingga menjadi hitam, KLIK icon Font Colors, pilih hitam.

Pengaturan selesai. Selamat mencoba!




Selasa, 09 Juni 2015

ASUS ZenPower: Rekomendasi "Powerbank" Aman, Elegan, dan Daya Maksimal

Saat kita memiliki "gadget" dan sering bepergian, terlebih jika berbisnis online, maka "powerbank" menjadi barang penunjang yang tak bisa ditawar lagi. Ia perlu ada dan dibawa ke mana saja. Namun masalahnya, tak semua "powerbank" yang pernah kami gunakan terasa aman.

Dua "powerbank" yang pernah kami pakai, sering membuat suhu handphone meningkat cukup tinggi. Akibatnya, ada rasa cemas hal itu akan menimbulkan ledakan. Dalam kasus lain, "powerbank" juga terlalu kecil kapasitasnya, sehingga sangat cepat habis, padahal jika pemakaian handphone sedang tinggi, kebutuhan kapasitas baterai juga makin besar. Akan tetapi, setelah mencoba powerbank ASUS ZenPower masalah semacam itu bisa teratasi.

Setelah saya baca informasi lengkapnya, ternyata ASUS ZenPower memang dirancang dengan begitu banyak sudut ketelitian. Misalnya saja dalam perlindungan temperatur, sistem powerbank dirancang sedemikian rupa sehingga suhu baterai lithium akan berada pada rentang yang aman, yaitu antara 0-40 derajat celcius. Selain itu, untuk menghilangkan kekhawatiran terhadap kemungkinan dampak korsleting, tegangan arus yang berlebihan, atau pengisian daya yang terlalu penuh, ASUS ZenPower memiliki fasilitas deteksi, sehingga arus listrik akan diputus secara otomatis saat hal semacam itu terjadi. Tentu saja, dengan fasilitas tersebut, powerbank serta gadget akan terhindar dari dampak kerusakan.

Hal lain yang menarik dari ASUS ZenPower adalah ukuran dan bentuknya yang mirip kartu, sehingga "ramah" untuk disimpan di dalam saku atau tas kecil. Lebih praktis rasanya. Kabel penghubungnya yang pendek juga mempermudah kenyamanan saat melakukan pengisian daya di terminal USB laptop ASUS kami.

Selain itu, yang istimewa dari ASUS ZenPower, adalah daya simpannya yang jauh lebih besar dari "powerbank" kami sebelumnya. Untuk ukuran yang mungil: 90.5 x 59 x 22 mm, ASUS ZenPower bisa diandalkan dalam mencukupi daya listrik gadget, saat kami pergi hampir seharian. Pilihan warnanya yang elegan, juga membuat saya merasa nyaman saat melihatnya. Jadi, untuk "powerbank" yang tahan lama, berdaya maksimal, aman, dan nyaman dibawa, ASUS ZenPower layak untuk dipertimbangkan.

Senin, 14 April 2014

ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku

Saya mengenal ASUS pertama kali sekitar 4 tahun yang lalu. Tidak sengaja sebenarnya. Saat itu saya memang baru berniat membeli notebook. Saya pergi ke toko komputer di bilangan Bandung, diantar adik saya dan suaminya. Setelah mencoba memilih beberapa merek yang ada di sana, saya malah kebingungan karena tak punya preferensi tentang apa notebook terbaik. Akhirnya, saya tanya adik ipar saya. Ia bilang, "ASUS aja. Itu lebih bagus." Saya langsung setuju. Pembelian pun terjadi. Notebook yang saya beli adalah tipe ASUS Eee PC Seashell Series N550 ukuran 10". Ringan dibawa dan harganya juga sesuai dengan jumlah tabungan saya.

Sebelumnya, saya pengguna PC. Namun ketika bepergian jauh, PC jelas tidak efisien untuk dibawa. Karena itulah notebook benar-benar menjadi penting bagi saya. Di manapun saya bisa menyelesaikan pekerjaan yang berhubungan dengan surat-menyurat, membalas email, dan mengirim file.

Di antara sekian banyak pengalaman saya bersama notebook ASUS, ada beberapa momentum penting, di mana ia menjadi sangat berjasa. Sekitar tahun 2011 kami sekeluarga berkunjung menjumpai kerabat di Sumatra Barat dan Aceh. Waktu itu, saya masih menjadi anggota tim redaksi sebuah majalah anak. Saat berangkat, utang pekerjaan masih tersisa, sementara jadwal terbit sudah mendesak. Untunglah saya membawa notebook mungil ASUS kesayangan saya. Naskah bisa diselesaikan dengan baik. Dan karena mudahnya proses instalasi mobile broadband melalui USB drive, file juga bisa dikirim dengan cepat via email.

Selain mempermudah saya dalam proses penulisan, notebook ASUS hitam ini menjadi alat yang bisa diandalkan untuk melakukan transaksi online. Saya menjual buku dan e-book melalui internet, dan pembelian bisa terjadi kapanpun walau saya sedang bepergian ke daerah lain. Notebook ASUS menolong saya untuk tetap bisa merespon pembelian dengan leluasa.

Tersiram Air

Selain saat-saat bahagia, ada juga peristiwa buruk yang menimpa notebook ASUS kami. Si kecil sering membawa minuman saat menggunakannya. Biasanya tidak terjadi apa-apa, namun hari itu sangat mengejutkan. Hampir setengah cangkir teh manis tumpah menyiram keyboard. Suami saya berusaha mengeringkannya, namun notebook tetap tak mau menyala lagi. Jadilah notebook istirahat dari tugas-tugasnya.

Waktupun berlalu. Kami tak pernah berharap notebook akan hidup kembali. Namun rupanya perkiraan kami keliru. Beberapa minggu kemudian, entah ilham dari mana, suami saya penasaran untuk mencoba lagi menyalakannya. Beberapa data penting memang tersimpan di sana. Ia nyalakan tombol power lalu, cling! Layar menyala. Merupakan keajaiban bagi kami, notebook yang kami anggap sudah tiada itu benar-benar hidup lagi hingga saat ini.

Notebook ASUS Kedua
Karena tuntutan pekerjaan dan demi menyalurkan minat terhadap dunia grafis, tahun 2012 saya mulai membutuhkan notebook dengan ukuran LCD lebih lega. Walau bagaimanapun, layar yang lebih luas akan membuat detail desain menjadi lebih kentara, sehingga meminimalkan kesalahan. Selain itu, saya membutuhkan DVDstyler untuk membuat salinan file ke dalam CD. Anak-anak juga butuh DVD player untuk memutar VCD film. Membeli laptop berlayar besar makin beralasan.

Pengalaman yang memuaskan dengan notebook ASUS mini, membuat saya malas mencoba-coba merek lain. Bagi saya, notebook ASUS telah menjadi notebook terbaik dan favorit. Berdasarkan pengalaman adik saya yang menggunakan merek lain, ASUS punya daya tahan yang lebih lama dan bandel. Selain itu, saya juga menyukai modelnya yang sederhana. Cocok dengan kerpibadian saya :).

Notebook ASUS kedua yang saya beli adalah tipe ASUS-PC K84L berwarna cokelat. Kelebihan notebook ASUS tipe ini adalah dua buah USB port yang diletakkan di dua sisi berbeda. Hal itu memudahkan saya memasangkan USB mouse dan Flashdisk atau mobile broadband secara bersamaan tanpa bersempit-sempit.

Kapasitas hard disk sebesar 500 GB sangat memanjakan saya untuk menyimpan banyak file desain dan foto berukuran mega. MMC drive yang terletak di kiri depan menjadi alat berharga untuk memindahkan file foto dari Memory Card jika USB drive sedang penuh.

Sambil menulis atau mengerjakan proyek-proyek desain, saya juga bisa mendengarkan musik menggunakan headset. Dua buah port untuk memasang kabel suara dan mic di bagian depan notebook adalah fasilitas yang menunjang kebutuhan itu. Sesekali, anak-anak juga bisa merekam suaranya, sekadar untuk hiburan.

Alat Belajar Anak-Anak

Kami adalah keluarga homeschooler yang tinggal di daerah pinggiran. Akses untuk mendapatkan guru bermutu dan lembaga pendidikan penunjang menjadi tidak mudah. Karena itulah kami menggunakan sarana digital untuk menutupi kebutuhan tersebut. Kami berlangganan “resource” online di beberapa website secara personal maupun patungan dengan teman-teman lain. Selain itu, anak-anak juga sudah menjadi pengguna aktif aneka software, baik software edukasi maupun pembuat gambar 2D atau 3D. Hal itu membuat Notebook ASUS kami menjadi begitu penting. Belajar secara digital menjadi mudah dan hasilnya memuaskan.

Tahun Sukacita

Notebook ASUS mungil kami telah berumur 4 tahun dan Notebook ASUS-PC K84L sudah menemani saya hampir 2 tahun. Kebersamaan saya dengan notebook ASUS berbuah manis pada tahun 2014 ini. Puji syukur ke Hadirat Allah, 4 judul buku anak yang saya susun, kini sedang dalam proses cetak. Semuanya saya olah menggunakan notebook ASUS.

Namun di luar semua keunggulannya, ada satu masalah antara kami dengan notebook ASUS: kami butuh tambahan satu lagi agar tak perlu lama mengantri untuk menunggu giliran ^_^. Terima kasih ASUS, semoga kami bisa memiliki ASUS versi terbaru yang akan menambah produktivitas kami dan menambah kepandaian anak-anak saya.

Jumat, 06 September 2013

Belajar Sepanjang Hayat

Punya laptop baru setahun lalu adalah momentum untuk mengganti sistem operasi komputer dengan OS opensource secara total. Meski tetap masih kagok menggunakannya, namun lama-lama terbiasa.

Bertemanlah saya dan anak-anak dengan GIMP sebagai pengolah foto, inkscape untuk bikin gambar vektor, libre office word untuk pengetikan dokumen, libre office calc untuk perhitungan keuangan, scribus untuk membuat layout, pitivi untuk mengedit video, GeoGebra untuk anak-anak bermain geografi, stellarium untuk anak-anak belajar astronomi, tuxmath untuk latihan matematika, dll.

Setiap kali mentok dalam menggunakan "tools" dari program-program tersebut, google menjadi tempat bertanya dan hampir selalu pasti saya mendapatkan jawabannya. Lama kelamaan, satu demi satu rahasia setiap "tools", meski belum semua, terungkap. Dan itu berarti, satu demi satu ilmu datang pada saya.

Pada akhirnya saya menyadari sekarang, untuk melakukan perubahan (apapun bentuknya) memang selalu harus melewati 3 tahapan: 1. Tujuan dan niat 2. Aksi 3. Konsisten, ketiganya akan membawa kita pada "ghirah" (semangat) untuk mencari solusi dan Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-hambaNya. Ilmu itu akan datang ketika kita memang mencarinya dan haus akan itu.

Terima kasih kepada Mbak Maria Magdalena Husain yang telah memperkenalkan OS opensource kepada saya dengan semangat "komporter" :D dan bahkan mengirimi saya CD software mandriva sebagai modal awal bagi saya memulai penjelajahan di dunia opensource. Tengkyu, tengkyu, tengkyu ^_^.

Setiap orang yang telah mengenalkan kepada saya sebuah ilmu, mereka adalah guru. Mereka mungkin hanya memberikan benih yang membuatnya bertunas kecil di benak saya, namun lewat benih itulah saya punya bahan baku untuk mengembangkannya.

Hakikatnya, Dialah yang mengantarkan ilmu-ilmu itu sehingga kita memahaminya. Namun salah satu bentuk syukur kepada-Nya adalah dengan berterima kasih terhadap orang-orang yang telah mengajarkannya.

Jumat, 23 Agustus 2013

Fokus

Akhir-akhir ini saya memang sedang tertarik memperdalam makna fokus. Harus saya akui, saya masih belum bisa fokus dalam mengerjakan banyak rencana, terutama berkaitan dengan pengelolaan belajar anak-anak saya. Sementara itu, fokus adalah salah satu bentuk sunatullah yang harus diperhatikan untuk mencapai keberhasilan. Kalau konsentrasi kita terpecah, semudah apapun aktivitas yang kita kerjakan, biasanya akan berakhir tidak optimal.

Satu obrolan menarik membuat mata saya tambah menyala, menatap si fokus dengan penuh takjub. Kita tahu, sinar matahari itu mengandung energi yang luara biasa besar. Andai bukan karena perlindungan Allah, apapun bisa terbakar. Akan tetapi, mengapa energi sebesar itu tidak membuat makhluk bumi hangus, namun justru memperoleh kehangatan secara merata. Jawabannya, karena sinar matahari itu menyebar dan tidak difokuskan ke satu titik. Hal itu akan berbeda, ketika kita mengambil sebuah loop, letakkan kertas di bawahnya, lalu fokuskan sinar matahari persis menembus loop. Tak lama kemudian, kertas pun akan terbakar. Itulah efek fokus.

Dalam sebuah peribahasa Sunda saya pun pernah mendengar, “Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok.” artinya kurang lebih, “Tetesan air menimpa batu, lama-lama menjadi cekung.” Itulah efek fokus.

Dalam dunia usaha, fokus adalah kata yang mutlak. Ia akan senantiasa dibincangkan karena merupakan salah satu perangkat mental yang sangat penting dan bahkan utama. Saya membaca salah satu artikel terkait, dan menemukan kesimpulan, "Seorang enterpreneur sukses bukanlah mereka yang berpindah-pindah haluan atau mengubah-ubah jenis produk, melainkan mereka yang tekun mengelola produk yang dipilihnya dengan tingkat fokus yang besar, tanpa mudah tergiur sesuatu yang di luar jangkauannya."

Dan kalau kita mau jujur, semua bidang pekerjaan menuntut pelakunya untuk fokus jika mengharapkan hasil maksimal. Mahasiswa saat mengerjakan skripsinya kudu punya satu topik yang difokus dan menggeluti topik itu hingga beres, dokter bedah saat melakukan operasi mesti fokus dengan apa yang sedang dibedahnya, demikian juga saat seorang ibu akan melahirkan bayinya, dia harus fokus untuk mengeluarkan bayi itu kendati sakit menderanya.

Kalau semua aktivitas masih berserak-serak tak karuan, sampai bingung mau mulai yang mana dulu, tidak ada salahnya untuk memeriksa kembali semuanyanya bermula dari visi. Kadang-kadang, dari sekian banyak aktivitas yang kita kerjakan, sebenarnya sebagiannya bisa ditangguhkan, dialihkan, atau malah dihapus dari daftar pekerjaan. Semuanya merupakan upaya agar kita bisa fokus pada sesuatu yang benar-benar penting dalam pandangan kita masing-masing.

Tetapi untuk memutuskan fokus kadang kita harus mengorbankan sesuatu, penghasilan, kesenangan, atau apapun yang selama ini kita anggap berharga. Hal itu nyaris tak akan bisa kita hindari dan kita harus siap menerima konsekuensinya. Namun jika niat kita tulus, saya selalu yakin, segala yang tak menentu suatu saat akan menemukan keseimbangannya kembali.

Undangan dari Sumenep

Meski ada yang bilang, momentum tidak terduga itu adalah kebetulan, namun ketika direnungkan lagi, tidaklah ada kebetulan di dunia ini. Semua momentum yang kita lewati adalah lahan garapan, dalam rangka mengisi detik-detik kehidupan. Semua ada dalam rentang pengetahuan dan rencana Allah Yang Maha Mengetahui. Hanya saja, kita, dengan pengetahuan yang terbatas dibandingkan ilmu Allah, menganggapnya sebagai sebuah kebetulan.

Begitulah, sayapun mengalami peristiwa semacam itu di pertengahan bulan Mei hingga Minggu pertama bulan Juni 2012. Secara tidak terduga, seseorang dari kabupaten Sumenep, Madura, yang membeli ebook saya, “Cara Kreatif Mengajar Anak Balita Membaca"“, mengundang saya datang ke sekolahnya untuk sharing seputar pendidikan anak usia dini. Entah apa yang mendorong beliau ‘berani’ mengundang saya yang jelas-jelas bukanlah tokoh penting dunia PAUD. Beliau siap bertanggung jawab dengan akomodasi yang pastinya tidak sedikit dan seolah siap juga dengan kemampuan saya berbagi pengetahuan, padahal beliau tidak mengenal saya.

Selama ini, berulang kali saya meyakinkan diri bahwa saya tidak cocok berbagi pengetahuan dengan model ceramah, menjadi pembicara. Saya bukan tipe orang yang kuat lama-lama “berceramah”. Suara saya pasti ‘kabur’ dalam hitungan lebih dari 30 menit. Itulah sebabnya saya lebih suka menulis daripada ‘ceramah’. Tapi, suara telepon di seberang sana, seolah memiliki kekuatan’ magis’. Beliau sangat serius dan antusias. Setelah dipending selama seminggu, akhirnya dengan izin suami, saya memutuskan untuk berangkat.

Itulah awal perjalanan yang ingin saya ceritakan, mungkin dalam beberapa seri tulisan, di mana akhirnya saya temukan hal-hal luar biasa. Sesuatu yang seolah merupakan bayangan nyata dari beberapa kalimat menarik dalam sebuah buku inspiratif yang pernah saya baca, “Stones into Schools” karya Greg Mortenson. Kita bisa berbuat sesuatu untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik dengan tekad dan keberanian untuk menghadapi risikonya.

Ilmu dan Amal

Belajar dari risalah ilahi akan mensucikan tujuan, belajar dari pengalaman manusia memperkaya wawasan; sedangkan belajar dari pengalaman sendiri mengukuhkan keyakinan, seperti mengakarnya serabut pencari makanan pada tetumbuhan. Sembari aktif mencari sumber makanannya, akar menguatkan cengkeraman, sehingga batang tanaman semakin kokoh berdiri.

Dari manapun sumber pelajaran berasal, dengan kesadaran bahwa ilmu semata milik Allah dan bukan berasal dari diri kita, maka mudah-mudahan kita senantiasa berendah hati dan tidak menjadikan ilmu yang dimiliki sebagai penghalang untuk menjadikan kita mulia. Karena kemuliaan seorang berilmu ternyata bukan pada banyaknya ilmu yang dikuasainya, melainkan pada pengamalannya dan kerendahan hatinya.

Sungguh indah apa yang diungkapkan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berikut ini: ”Janganlah sekali-kali engkau tidak mengamalkan apa yang telah engkau ketahui. Sebab setiap orang yang melihat akan ditanya tentang perbuatannya, ucapannya, dan kehendaknya.”

“Bagian terpenting dari ilmu adalah kelemahlembutan, sedangkan cacatnya adalah penyimpangan.”

Rabu, 21 Agustus 2013

Mengentaskan Kemiskinan Kosa Kata

Sering saya bertemu beberapa anak SD, SMP, atau SMA, di desa atau di kota, saat mereka berkumpul, kata-kata yang mereka lontarkan nyaris seragam. Nama hewan dan umpatan meluncur deras berulang-ulang, seolah tak ada kata-kata lain. Dulu, saya hanya sampai pada kesimpulan, “saya tidak menyukainya”, tapi kini saya mulai prihatin dan penasaran mencari penyebabnya. “Why?”

Suatu hari saya obrolkan fenomena itu dengan seorang ibu. Mengejutkan, ia bilang, “Anak saya juga begitu, Bu. Tapi kan bukan saya yang ngajarin. Memang susah kalau sudah terpengaruh teman. Saya pengennya dia seneng baca, tapi susah sekali.” Saya manggut-manggut dan merasa salut juga pada si ibu. Dia terlihat berusaha keras agar anaknya senang membaca, meski ia tahu sudah tidak mudah lagi untuk menanamkan kebiasaan itu. Usia anaknya sudah beranjak remaja dan “habit” tidak suka baca sudah terlanjur terbentuk.

Usai obrolan pendek itu, saya “kok” terhubung dengan catatan Charlotte Mason (CM) tentang “Menyuplai ide-ide di benak anak lewat bacaan bermutu.” CM percaya, lewat buku yang menghadirkan ide-ide yang luhur, anak-anak dan orang dewasa sekalipun akan menyerap kosa kata yang beragam dan berharga, sehingga mereka akan mengeluarkan buah pikiran dan aksi yang berguna bagi masyarakatnya.

Dan sepertinya, saya melihat benang merah antara gagasan CM dengan masalah yang saya saksikan nyaris setiap hari itu. Dengan bermodalkan kosa kata yang kaya mudah-mudahan anak-anak akan berkomunikasi dengan sesama mereka dengan bahasa yang lebih baik.

Jadi, saya tidak ragu lagi, memang solusinya adalah meluaskan akses bagi masyarakat dari berbagai lapisan ekonomi untuk membaca buku-buku bermutu. Tidak mudah, itu jelas, tapi jika di setiap penjuru kampung atau komplek atau kota akses terhadap buku dibuat mudah, maka minimal 1% saja ada yang berubah menjadi pembaca buku setiap bulannya, maka jumlah anak/remaja yang “miskin” kata-kata akan semakin berkurang. Insya Allah.

Kita bisa lho mengentaskan kemisikinan kosa kata ini bersama-sama, minimal di lingkup kecil kita masing-masing. Caranya tak selalu harus dengan membuka Taman Bacaan. Jika punya buku berlebih di rumah, bukankah kita bisa meminjamkannya kepada saudara atau anak-anak tetangga yang tidak memiliki akses terhadap bahan bacaan. Meski nampak kecil, tapi insya Allah akan berpengaruh besar secara kolektif dalam jangka panjang.

Sabtu, 21 Juli 2012

Riyadhah Ramadhan: Sedikit Tapi Kontinyu

Ketika muncul buku-buku yang berisi tips untuk menumbuhkan rasa senang berpuasa pada anak-anak di bulan Ramadhan, saya sendiri merasa tidak punya tips khusus. Akan tetapi alhamdulillah, seiring usia anak-anak, mereka akhirnya sampai juga pada satu fase punya keinginan sendiri untuk berpuasa, tanpa paksaan, tanpa iming-iming.

Anak-anak kami bisa dikatakan agak terlambat untuk mulai berpuasa dibandingkan anak-anak lain yang bahkan sudah mulai pada usia 6 tahun. Baru di usia 8 Azkia mulai ingin belajar puasa setengah hari, dan di usia 9 tahun nyaris penuh, kecuali batal karena perjalanan jauh kami ke Sumatra Barat dan Aceh tahun lalu.

Sementara itu, si kecil Luqman, tahun lalu, di usia 7 tahun baru mulai mencoba puasa setengah hari sampai jam 3. Namun Ramadhan tahun ini, di hari pertama shaum, terlihat ia berusaha begitu keras. Setelah pukul 12 siang berdentang, ia masih bertahan, menjelang jam 3 ia minta izin berbuka dengan air tapi puasa lagi setelah itu. Saat maghrib tiba, ia tidak mau berbuka makan duluan kecuali bersama-sama.

Kunci inti yang saya simpulkan dalam menanamkan keinginan untuk berpuasa itu sebenarnya lahir dari integritas orang tua. Ketika orang tua menganggap penting puasa Ramadhan, memuliakan hari-hari di bulan ini maka lambat laun anak-anak akan memperoleh aliran energi untuk melakukan hal yang sama. Seperti sebuah celotehan ringan seorang kawan, "Untuk menjadikan anak-anak menjadi baik itu, gampang. Jadilah orang tua yang berakhlak baik, insya Allah anak-anaknya juga akan baik."

Segepok tips hanya diperlukan bagi mereka yang kurang memiliki ikatan emosional dengan anak-anaknya. Percayalah, dengan interaksi yang baik, dengan komunikasi yang baik, yang terjalin antara kita dan anak-anak, nilai-nilai itu tidak perlu dijejalkan, melainkan cukup hanya dicontohkan dan anak-anak akan tergerak untuk menirunya dengan kesadaran sendiri. Adapun pemahaman mereka tentang hakikat amalan yang mereka tiru adalah fase berikutnya, sebagai sebuah perjalanan spiritual mereka sendiri.

Saya tidak membuat form isian untuk melatihkan disiplin Ramadhan. Saya ganti form riyadhah dan semacamnya dengan cukup melatihkan sedikit (1-2) kebiasaan baru yang bisa mereka jangkau secara konsisten. Sederet aktivitas yang terlalu penuh bisa jadi malah tidak sanggup mereka jalani. Akibatnya, mereka tidak memiliki kesan yang baik dengan Ramadhan.

Ketidakmampuan mencapai target bagi anak-anak tidaklah sederhana. Ketika impuls saraf di otak akan melontarkan energi listrik yang luar biasa sehingga gairah belajar naik saat anak berhasil mencapai sesuatu, maka ketika gagal dan terlalu banyak gagalnya, akan berdampak sebaliknya.

Kita tidak perlu membandingkan anak kita dengan anak lain. Setiap anak berkembang sesuai kapasitasnya. Terpenting, proses belajar tidak pernah berhenti. Proses adalah tahapan yang jauh lebih penting untuk dihargai daripada hasil. Tugas manusia adalah berikhtiar, sementara hasilnya ada dalam kekuasaan Allah Yang Maha Berkehendak.

Buat saya, perubahan kecil yang bisa dijalankan secara kontinyu jauh lebih baik daripada perubahan banyak yang hanya sesekali bisa dilakukan. Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Amalan yang lebih dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit”(HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu'alam bishshowwab. Selamat menunaikan ibadah Shaum Ramadhan.

Kamis, 17 Mei 2012

Belajar, Proses, dan Sunatullah

Ada semacam rasa perasaan tidak sreg dengan konsep pendidikan yang membiarkan anak-anak 'diabur', dilepas semaunya demi spirit kemerdekaan. Namun saya belum menemukan argumentasi yang pas untuk mematahkan konsep tersebut untuk diri saya pribadi (bukan untuk orang lain, karena setiap orang punya paradigma dan alasan sendiri-sendiri). Bersyukur, beberapa hari yang lalu, saya seolah mendapat insight tentang persoalan tersebut.

Proses. Bahkan para wali Allah pun memperoleh ilmunya melalui belajar. Ilmu tidak turun dengan begitu saja kepada mereka, melainkan dengan belajar. Proses adalah sunatullah, dan belajar adalah salah satu wujud kongkret sebuah proses. Mengapa harus menentang sunatullah itu?

Berharap agar kemerdekaan dalam belajar terpenuhi mengingat sekolah formal dirasa terlalu mengekang, tidak harus menghancurkan sunnah-sunnah yang sudah ditetapkan Allah. Manusia di dunia fana ini bergelut dengan proses. Manusia di dunia fana ini bergelut dengan usaha-usaha. Demikian juga halnya untuk membuat anak-anak berpengetahuan, berkepribadian baik, berketerampilan, dan ideal-ideal lainnya tidak cukup hanya dengan menyerahkan mereka pada 'alam' tanpa proses belajar.

Jikapun ada keberhasilan yang diperoleh dengan cara tersebut, maka hasilnya untung-untungan. Ketika lingkungan yang membentuknya memang menggiring anak pada bertumbuhnya kemampuan-kemampuan, mungkin mereka akan mencapai taraf yang diharapkan, namun ketika kondisi lingkungan ternyata sebaliknya, bagaimana? Suatu hari saya yakin kita akan menyesal karena membiarkan waktu berlalu tanpa usaha, dan menggerus kesempatan anak-anak untuk mencapai kemampuan-kemampuan diri sebagai bekal hidup mereka.

Seperti juga berharap ada sajian makanan tertentu di meja makan, manusia membutuhkan ikhtiar dari mulai menyediakan bahan bakunya hingga belajar proses mengolahnya. Sekali lagi saya meyakinkan diri saya sendiri: Ikhtiar adalah sunatullah untuk kehidupan di dunia fana ini. Maksimalkanlah ikhtiar untuk semua urusan, baru sisanya bertawakal kepada Allah.

Aplikasinya, orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya ke sekolah formal seperti saya, harus menuntun diri untuk konsisten dengan jadwal belajar anak-anak, betapapun sebentarnya. Jangan malas dan jangan lengah. Ilmu yang kita miliki akan dimintai pertanggungan jawab. Amanah yang diembankan juga akan ditanyai bagaimana kita menjaganya. Dan anak-anak adalah amanat besar bagi orang tuanya.

Kamis, 26 April 2012

Penyerbukan Bunga Markisa

Azkia belajar membantu penyerbukan pada bunga markisa. Karena posisi putik ada di atas, sedangkan benang sarinya ada di bawah, markisa sering harus dibantu penyerbukannya. Entah, walaupun banyak serangga yang berada di sekitar markisa, tapi mereka tidak terlalu tertarik dengan bunga ini rupanya. Padahal menurut saya, bunga markisa itu cantik sekali.

Awalnya, ketika kawan saya Mbak Suzanna Setiawaty, penghibah tanaman markisa ini :), memberi tahu bahwa bunga markisa harus dibantu penyerbukannya, saya hanya mencobanya dengan tangan. Dan sudah hampir 3 bunga yang saya 'bantu', tetap belum berhasil jadi buah. Bunga akhirnya jatuh tanpa meninggalkan buah. Namun suatu hari datang seorang tamu yang memberi tahu teknik lain, yaitu menggunakan alat bantu berupa lidi atau ranting berukuran kecil. Tidak ada salahnya mencoba, dan hore! Beberapa hari setelah itu, saat memeriksa kembali markisa kami, 2 buah markisa sudah mulai menggelantung.

Sayang jika tak dikenalkan pada anak-anak. Saya ajak Azkia mencobanya untuk 2 bunga baru. Penyerbukan bantuan dilakukan di hari Senin, dan saat hari Kamis diintip ke dalam bunga yang sudah mulai layu, tampak bakal buah mulai membesar. Berarti, Azkia juga berhasil. Tanpa sadar aktivitas itu menjadi ajang praktikum biologi, bukan? Pengalaman nyata yang luar biasa! Terima kasih buat Mbak Suzanna ^_^.

Tulisan menarik lainnya: Anglo Mini, Udara, dan Aku Bisa!

Senin, 23 Januari 2012

Peta Pikiran untuk Merangkum Pelajaran

Azkia (9 tahun) sekarang sedang belajar tentang 'Rangka dan Alat Indera Manusia' (pelajaran IPA kelas 4 SD semester 1). Awalnya begitu sulit dan moodnya juga lambat muncul saat pertama membuka pelajaran ini. Tapi, alhamdulillah, ketika diarahkan dengan sabar, akhirnya ia menemukan 'passion' dalam mempelajari hal-hal seperti ini.

Azkia sekarang belajar dengan menggunakan peta pikiran. Dia membuat rangkuman inti pelajaran dalam bentuk lingkaran-lingkaran peta yang mudah dibaca. Dan dengan inisiatifnya sendiri, setiap sub ia bagi-bagi menjadi kerangka tersendiri yang bisa ia pahami.

Berikut ini contoh catatan yang dibuatnya:




Motto yang kami tularkan sekarang pada anak-anak: "JANGAN HANYA KARENA SEBUAH PELAJARAN ITU SULIT LALU KITA BILANG ITU TIDAK PENTING. BERSUNGGUH-SUNGGUH ADALAH PINTU KEBERHASILAN, TEKUN DAN GIGIH ADALAH KUNCINYA"

Senin, 16 Januari 2012

Apa Manfaatnya Bagiku?

AMbak (Apa Manfaatnya bagiku?) Bagi anak-anak yang dibesarkan dengan iklim belajar tanpa paksaan, pertanyaan tersebut nampaknya sangat penting. Saya sebagai orang tua pun menyadari bahwa menjawab pertanyaan itu adalah "tugas" penting. Saya bercermin pada diri saya sendiri. Jika saya mengetahui bahwa sebuah perbuatan yang saya lakukan bermanfaat, biasanya akan mendongkrak semangat saya jauh lebih besar dibandingkan jika saya hanya melakukannya tanpa tujuan atau karena sebuah tugas saja.

Saya sering melihat binar-binar semangat menyala di mata anak-anak ketika kami berkumpul dan menceritakan banyak hal tentang fase-fase dan proses sebuah pelajaran berubah menjadi profesi yang penting dalam kehidupan.

Cerita-cerita semacam itu sangat efektif untuk menyuntik semangat mereka saat merasa kesulitan dengan sebuah pelajaran. Pesan moralnya: "Jangan hanya karena sebuah pelajaran itu sulit, lalu kita bilang itu tak berguna. Belajarlah terus meskipun lambat, karena ketika kita berhasil mempelajarinya, kelak hal itu akan menjadi simpanan berharga yang bisa dipergunakan ketika kita membutuhkannya."



Selasa, 03 Januari 2012

Pembelajaran Terintegrasi

Beberapa waktu terakhir, karena sebuah 'tugas', saya mempelajari sejarah beberapa ilmuwan muslim. Walaupun terasa sulit pada awalnya, namun hikmah buat saya adalah berpijarnya kembali pemikiran tentang dunia belajar.

Berdasarkan data yang saya peroleh, rata-rata para ilmuwan muslim zaman dulu menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus, tidak dikotomis. Mereka menguasai matematika, kimia, kedokteran, dan juga ilmu tanaman, bahkan musik pada taraf faqih (mahir/ahli). Hal itu membuat saya menduga bahwa pada zaman dahulu ilmu memang tidak disekat-sekat menjadi cabang-cabang yang sempit. Setiap orang yang cinta ilmu belajar apa saja yang sekiranya diperlukan dan dianggap saling berkaitan satu sama lain.

Adapun munculnya pengelompokkan ilmu, sehingga disebut-sebutlah ilmuwan A ahli di bidang X atau ilmuwan B ahli di bidang Y, terjadi sesudahnya, oleh para akademisi, ketika memasuki era sekolah formal (baru dugaan saya, belum meneliti lebih jauh sejarahnya ^_^).

Melalui dugaan tersebut, saya makin tertarik untuk melanjutkan proses belajar yang terintegrasi. Satu bidang ilmu dengan yang lainnya ditempatkan saling berkaitan, karena memang demikianlah faktanya di dunia nyata. Secara alami kita bisa menggabungkan semuanya dalam sebuah kegiatan.

Pengetahuan yang diperoleh anak-anak biarlah nantinya dikelompokkan dalam cabang ilmu yang mana, terpenting mereka belajar dengan antusias apapun yang mereka minati. Biar saja informasi tentang cabang-cabang ilmu itu diketahui sesudahnya, dengan sendirinya. Tidaklah hal-hal semacam itu harus dijadikan pelajaran pertama seperti pada umumnya isi BAB 1 buku pelajaran sekolah. Bukankah isi lebih penting didahulukan daripada kerangka, meski kerangka juga penting pada akhirnya. ^_^.

Contoh sketsa ide pembelajaran terintegrasi adalah seperti gambar di bawah. Kalau dikembangkan terus setiap kelompoknya akan melahirkan banyak turunan gagasan yang seru. Hanya dari kegiatan memasak saja, kita bisa menyentuh beberapa cabang ilmu. Saya yakin, para pembaca bisa mengeksplorasi sendiri pengembangan gagasan berikutnya. Selamat mencoba!




Kamis, 08 Desember 2011

Budaya Berguru

Salah satu pe er kami tentang pendidikan anak-anak adalah budaya berguru. Tanpa sadar, keseringan belajar mandiri, self exploration, kayaknya bisa memicu sikap tidak teacheble.

Meskipun sarana dan prasarana belajar mandiri makin banyak sekarang ini, namun kegiatan berguru punya arti tersendiri. Kegiatan berguru menurut saya menanamkan sikap 'mau diajari', dan itu berdampak pada bertambah luasnya ilmu dan menekan sikap egosentris di mana mereka merasa hebat sendiri. Hal itu tentunya berseberangan dengan ideal akhlak seorang muslim.

Jadi, dalam tahap-tahap kecil, kami mulai membawa anak-anak pada guru lain selain kami, orang tuanya. Berharap dengan cara itu, mereka menyadari pentingnya sosok guru di samping kemauan untuk belajar sendiri. Azkia sudah hampir 6 bulan ikut les bahasa Inggris dengan 12 murid dalam satu kelas dan guru berumur 27-an tahun. Mulai ikut les piano dengan guru berumur 70-an tahun; ikut les robotika dengan guru berusia sama dengan guru les Inggrisnya; belajar craft bersama Nenek, dan lain sebagainya.

Di luar fakta bahwa banyak guru formal juga belum tentu kompeten dalam mengajar, namun budaya berguru tidak akan bisa dilepaskan dari budaya belajar jika ingin anak-anak menjadi seorang pembelajar sejati.

Pembelajar mandiri bukan hanya sekadar tentang bisa belajar sendiri (tanpa sosok guru), namun juga selalu siap menyerap ilmu dari orang lain dan berguru padanya.Saya semakin menikmati proses perenungan ini. Pendidikan informal mewadahi pendalaman hakikat banyak hal, terutama soal belajar. Karena pada dasarnya bukan hanya anak-anak yang belajar, melainkan juga kami sebagai orang tuanya.



Kamis, 01 Desember 2011

Menyentuh Pelajaran Akademik secara Informal

Anak-anak saya sekarang sudah 9 dan 7 tahun. Kalau merujuk tahapan perkembangan anak, memang sudah memasuki fase operasional kongkret, usia siap belajar terstruktur. Sekarang kami membuat jadwal belajar akademik secara rutin setiap hari dengan persetujuan mereka. Waktunya diatur oleh mereka sendiri tapi diusahakan selalu tetap setiap harinya. Dan atas permintaan mereka, kami mulai jam 9 pagi. Maksimal durasi belajar kami tetapkan hanya 30 menit, namun faktanya sering lebih pendek ^_^.

Kami mulai memakai kurikulum sekolah formal sebagai salah satu bahan. Dengan begitu, jika suatu hari berniat ikut ujian kesetaraan, anak-anak tidak lagi kaget dengan formulasi pelajaran yang diujikan. Kami mencoba untuk bersikap pertengahan saja soal model pendidikan ini. Hari ini kami memilih pendidikan informal dan besok-besok mungkin tertarik dengan formal, ijazah kesetaraan dari lembaga nonformal adalah mediatornya. Jadi, tak ada ruginya juga menyiapkan anak-anak untuk berakrab-akrab dengan pelajaran KURNAS, toh mereka juga jadi mendapat tambahan ilmu.

Saya akui, buku pelajaran sekolah tidak terlalu menarik untuk dibaca anak-anak. Topiknya bermanfaat, tapi penyusunan isinya, dari mulai tipografinya, layoutnya, ilustrasinya, kalimat-kalimatnya, dan pertanyaan-pertanyaannya cenderung membosankan. Jadi bagaimana?

Awalnya kami pun enggan memakai kurnas, tapi kemudian membalik cara berpikir. Bukankah beberapa hal dalam hidup ini juga tidak menyenangkan kita. Reaksi dan cara kita berpikirlah yang membuat semuanya berbeda. Karena itulah, kami coba bersahabat dengan BSE (Buku Sekolah Elektronik) dan mengambil intisari pelajarannya. Sesudah itu, metode penyampaian kami coba otak-atik dengan berkreasi sendiri, dan alhamdulillah anak-anak mulai terbiasa juga menikmati KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) pelajaran sekolah tapi secara informal.

Jadwal belajar akademik berbahan baku kurnas kami coba permudah: Hanya 5 hari seminggu (Senin - Jumat), 1 atau 2 mata pelajaran per hari maksimal 30 menit. Satu kali belajar kami tetapkan hanya satu bab. Jika rata-rata buku pelajaran berisi 10 bab, maka dengan belajar seminggu sekali untuk setiap pelajaran, insya Allah anak-anak sudah selesaikan semuanya dalam 10 minggu (2,5 bulan) . Saya kira hal itu cukup ringan untuk dilaksanakan.

Muatan Ekstra
Tentu saja, jika sebelumnya anak-anak hanya belajar hal-hal yang mereka suka, penambahan kurnas tidak membuat hobi mereka jadi 'terlarang'. Bisa kita hitung sendiri, belajar akademik 30 menit, maka sisa waktu untuk yang lain masih sangat banyak. Anak-anak bisa baca buku yang mereka suka, bermain-main di kebun, bikin-bikin craft bersama teman-temannya, nonton film anak-anak atau film-film dokumenter, dan banyak lagi.

Untuk menambah keterampilan, Azkia pilih kursus Bahasa Inggris 2x seminggu (@1 jam per pertemuan), kursus piano 1x per minggu (@30 menit). Luqman suka mekanika, dan mulai mau lagi belajar robotika seminggu sekali. Dan mungkin yang lain-lainnya jika mereka sudah mulai tertarik untuk belajar.

Namun muatan ekstra yang terpenting dan kami usahakan tetap konsisten adalah hafalan Quran. Setiap hari, meski hanya 5 atau 10 menit kami rutinkan kegiatan tersebut supaya mejadi habit. Mudah-mudahan Allah SWT selalu memberi kekuatan pada hati kami untuk konsisten.

Belajar, selain merupakan hak, juga merupakan kewajiban bagi seorang mukmin setelah dewasa. Ketidaktahuan bisa mematikan langkah dan menyuburkan kebodohan. Seorang mukmin haruslah cerdas dan berpengetahuan. Satu-satunya jalan untuk mencapai titik tersebut adalah belajar.

Menurut saya, tugas orang tua pada anak-anak dalam hal ini, bukan hanya mengikuti apa yang mereka mau, tapi juga menumbuhkan rasa senang dan butuh terhadap belajar. Dengan begitu, ketika sudah tiba waktunya anak-anak masuk usia taklif belajar hal-hal yang lebih tinggi dalam agama dan kehidupan bermasyarakat, mereka sudah bisa mengatasi faktor-faktor penghambatnya. Mudah-mudahan, insya Allah.

Tentang Saya

Saya, ibu dua anak. Anak-anak saya tidak bersekolah formal. Blog ini berisi pemikiran, hasil belajar, dan beberapa pengalaman.

Jika Anda menggunakan tulisan di blog ini sebagai referensi: (1) HARAP TIDAK ASAL copy paste, (2) Selalu mencantumkan link lengkap tulisan. Dengan begitu Anda telah berperan aktif dalam menjaga dan menghargai hak intelektual seseorang.