Jumat 03 Juli 2009

Film Alternatif Lebih Ramah Anak



Semua orang tua pasti miris melihat tayangan televisi yang mayoritas tidak cocok untuk anak-anak. Selain tayangan orang dewasa pada jam anak-anak, ternyata masalahnya juga terdapat pada pilihan film-film anak yang kebanyakan miskin nilai edukasi positif.

Tak perlulah disebutkan apa saja film-film semacam itu, yang jelas ciri-ciri umumnya meliputi: Menampilkan adegan kekerasan dan mengekspos kata-kata 'kotor' (misalnya: Bodoh! Brengsek! Kurang ajar! dan kata makian lainnya).

Memindahkan kesenangan anak dari menonton pada kegiatan membaca buku memang paling ideal. Akan tetapi tak semudah itu memindahkan minat anak yang sudah terlanjur maniak nonton. Selain itu, sebenarnya juga tak ada salahnya anak-anak menonton jika tontonannya bermanfaat dan tidak berlebihan durasinya.

Nah, info ini mungkin berguna buat teman-teman sesama orang tua yang belum tahu tentang alternatif film yang lebih "ramah" anak, tentunya sebagai pengganti tontonan televisi yang kini makin riskan. Berikut daftar film-film-nya:

1. Postman PAT (Cerita boneka tentang seorang tukang pos yang baik hati, suka menolong, dan kreatif. Terdiri atas beberapa seri. (Harga Rp. 15.000, kecuali sedang discount bisa 10 ribuan)

2. Bob The Builder (Cerita boneka seputar kegiatan membuat bangunan), terdiri atas beberapa seri. (Harga Rp. 15.000--- kecuali sedang discount bisa 10 ribuan)

3. Aku Anak Jenius (Seri ilmu pengetahuan animasi yang menarik. Belajar sains jadi asyik dan tidak membosankan), terdiri atas beberapa seri. (Harga Rp. 12.500 atau 10 ribuan kalau discount)

4. VCD edutalk Bahasa - berbagai bahasa: Inggris, Jepang, Arab(harga agak lebih mahal tapi variatif. Kelebihannya: memakai native speaker sehingga bisa melatih spelling anak-anak menjadi lebih baik)

5. Serial I Can Speak English (Harga 50 ribuan, isi 2 atau 3 CD. Isinya campuran film animasi dan dialog anak-anak oleh native speaker)

6. Edu-games Bobi Bola (VCD interaktif animasi yang cukup mendidik, harga agak lebih mahal)

7. Serial Tupi dan Ping (Kategori: film animasi Islami)

8. Serial Fireman Sam (Film boneka tentang sebuah tim Pemadam Kebakaran yang dipimpin oleh Sam yang kreatif dan senang mengajari anak-anak)

Mungkin banyak film lainnya yang kami belum tahu. Pada prinsipnya, meski mungkin akan terasa mahal jika membeli seri-seri film itu sekaligus, tapi kita bisa mencicilnya. Beli 1 VCD untuk 1 minggu atau mungkin 2 minggu atau mungkin 1 bulan. Jangan khawatir anak-anak bosan, toh film-film animasi di televisi juga biasanya terus diulang-ulang sampai beberapa kali untuk satu judul.

Berinvestasi sedikit untuk isi otak anak-anak jauh lebih baik daripada segalanya murah meriah di TV tapi merusak mereka di kemudian hari. Setuju?! :)

Selasa 30 Juni 2009

Mengunjungi Kebun Sayur

Jalan-jalan melihat kebun sayur sangat mengasyikkan. Anak-anak jadi tahu rupa tumbuhan sayur secara langsung. Saya sering mengajak mereka melihat-lihat kebun sayur di belakang komplek rumah kami di Tanjungsari.Dengan sepatu bot, menyandang tas dan payung, serasa deh akan berpetualang.

Beberapa waktu lalu kami juga berkunjung ke Balai Penelitian Tanaman Sayuran(BALITSA) Lembang. Memang tidak semua sayuran kebetulan bisa dilihat. Sebagian sayuran seperti kentang dan wortel baru saja dipanen.

Minggu 14 Juni 2009

Pendidikan Informal

Homeschooling atau yang di-Indonesiakan menjadi sekolahrumah, merujuk pada UU No. 20 tahun 2003 terkategori sebagai pendidikan informal. Apa artinya? Pendidikan informal adalah pendidikan yang dilaksanakan oleh keluarga dan lingkungan. Kedudukannya setara dengan pendidikan formal dan nonformal.

Hanya saja, jika anak-anak yang dididik secara informal ini menghendaki ijazah karena berniat memasuki pendidikan formal pada jenjang yang lebih tinggi, maka peserta pendidikan informal bisa mengikuti ujian persamaan melalui PKBM atau lembaga nonformal sejenis yang menyelenggrakan ujian kesetaraan.

Pendidikan informal selama ini memang kurang dikenal oleh masyarakat, padahal inilah model pendidikan paling 'buhun' (kata orang Sunda) atau klasik. Orang tua jaman dulu, saat sekolah belum ada, hanya punya satu pilihan untuk mendidik anak-anak mereka, yaitu dengan mendidik sendiri. Kalaupun anak-anak berguru pada orang lain, itu dilakukan untuk menguasai keterampilan khusus lain yang tidak dikuasai orang tuanya. Pondasi pendidikan tetap berpusat pada keluarga.

Nah, bagaimana peran pendidikan informal bagi perubahan bangsa ini menjadi lebih baik? Saya kira hal itu akan sangat signifikan. Apalagi jika hal itu didukung oleh pemerintah, menguatnya kesadaran keluarga untuk menanamkan pondasi pendidikan di rumah akan membuat anak-anak memiliki memiliki visi hidup yang jelas, rasa optimis dengan masa depan, dan memiliki sikap hidup yang lebih posisitf karena berada dalam dukungan keluarga yang peduli dengan mereka secara keseluruhan.

Hal paling khas yang menjadi nilai lebih pendidikan informal dibandingkan model pendidikan lainnya adalah, kemungkinan yang lebih besar akan tergali dan terkelolanya potensi setiap anak secara maksimal. Bayangkanlah, banyak anak-anak yang bersekolah di sekolah formal, dengan aneka pelajaran dijejalkan pada mereka, ternyata pada akhirnya membuat mereka tak punya keterampilan mendeteksi bakat mereka sendiri, dan akhirnya mereka terjebak pada kebingungan memilih bidang kehidupan yang akan mereka jalani.

Ada yang kuliah jurusan Sastra Jerman tapi akhirnya jadi Bankir. Ada yang kuliah di jurusan Ekonomi, setelah lulus malah jadi artis. Begitu banyak kasus-kasus di mana orang menjalani bidang kehidupan dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang yang ditekuninya di sekolah. Mengapa bisa begitu?

Saya percaya bahwa itu disebabkan karena anak-anak tidak dapat menyadari talentanya sedari awal. Seringnya talenta ditemukan di luar gedung sekolah. Padahal jika orang tua menyadari dan anak-anak pun mampu menemukan bakat mereka sejak kecil, hasilnya pasti akan berbeda.

Mau mencoba?
Pendidikan informal tak buruk untuk dilirik oleh mereka yang menghendaki perubahan yang sangat mendasar dari generasi muda bangsa ini.

Selasa 26 Mei 2009

Belajar Bercocok Tanam

Dulu, anak-anak ikut berkebun bukanlah hal yang istimewa. Tanpa disuruh dan juga diprogramkan khusus, anak-anak di kampung dengan sendirinya berbaur dalam kegiatan berkebun orang tua mereka. Tetapi sekarang, bukan hanya anak-anak kota yang tak kenal dengan aktivitas ini, anak-anak kampung pun sudah meninggalkan kebiasaan bercocok tanam dan mengganti mainan mereka dengan play station.

Sekolah formal kurang bisa diharapkan dalam membentuk kebiasaan bercocok tanam murid-muridnya, maka orang tua-lah yang masih mungkin menanamkan kecintaan terhadap bidang yang satu ini.

Kami telah mencobanya di rumah dengan anak-anak, dan hasilnya alhamdulillah cukup menggembirakan. Banyak pula pelajaran yang kami dapatkan. Kami berharap, kelak mereka terbiasa "menghijaukan" lingkungannya:



Kamis 09 April 2009

Mitos tentang Belajar

Bertahun-tahun lamanya sejak sekolah lahir, hakikat belajar lambat laun terselubungi mitos-mitos yang mendukung keberadaan institusi tersebut. Apakah itu? Jeanette Vos dalam bukunya yang padat berisi, berjudul The Learning Revolution menuliskan 4 hal, yaitu:

1. Sekolah adalah tempat terbaik untuk belajar
2. Kecerdasan bersifat tetap
3. Pengajaran yang menghasilkan pembelajaran
4. Kita semua belajar dengan gaya yang sama.

Kini, bahkan di sekolah sekalipun, sedikit demi sedikit konsep tentang belajar seperti 4 mitos di atas semakin ditinggalkan. Meski masih "terbata-bata" menerjemahkan paradigma belajar yang lebih menyenangkan, banyak sekolah, khususnya sekolah swasta memberlakukan cara belajar mengajar yang lebih dinamis: Buku pelajaran full color, tempat belajar ditata penuh warna, guru yang bersahabat, metode mengajar berbasis konsep multiple intelligence, dan hal-hal menyenangkan lainnya.

Akan tetapi, ternyata tak semua orang bisa memasuki wilayah belajar senyaman itu, karena kenyamanan yang diperoleh tak bisa dibayar hanya dengan senyuman, melainkan harus dengan merogoh uang jutaan. Sanggupkah?

Terlepas dari sanggup ataupun tidaknya kita mengeluarkan dana jutaan untuk sekolah yang nyaman, saya justru menemukan esensi penting dari semakin gugurnya mitos belajar seperti dikatakan Vos. Menurut saya, sejak jaman dulu, saat sekolah belum se-eksis sekarang, belajar bukanlah pekerjaan, sehingga seseorang yang ingin belajar harus tunduk pada sebuah birokrasi kerja. Belajar adalah kebutuhan hidup yang dengannya manusia bisa menjadi manusia mandiri. Karena itulah, orang seharusnya bisa belajar di manapun mereka menemukan sesuatu yang pantas, yang menarik, atau yang berguna untuk dipelajari.

Bukankah kisah-kisah para pencari ilmu di masa lalu memang lebih seru. Saking menariknya, sampai-sampai bisa dibuat serial cerita pengembaraan berpuluh atau bahkan beratus-ratus episode. Para pencari ilmu mengembara dari satu tempat ke tempat lain, mencari guru-guru yang faqih di bidangnya masing-masing, lalu kembali pulang sembari mengamalkannya di sepanjang perjalanan.

Saya rasa, kini pun hal semacam itu masih relevan dan akan terus relevan sepanjang waktu. Modal pentingnya hanyalah satu, yaitu Semangat untuk Belajar. Tanpa semangat belajar, anak lulusan sekolahan pun acapkali tergagap-gagap melihat realitas hidup, karena sesungguhnya mereka tak boleh berhenti belajar jika berniat mengarungi dunia nyata. Selama anak-anak tak kehabisan semangat belajar, mereka akan terus menjadi pembelajar mandiri di manapun mereka berada, dan mereka Insya Allah akan sanggup menghadapi tantangan hidup.

Masih percaya mitos?