Artikel lain

Selasa, 08 Februari 2011

Pendidikan, Kompetisi, dan Pembuktian

Pendidikan adalah keseluruhan proses mempertahankan minat belajar (yang sejatinya sudah dimiliki anak-anak sejak lahir), menggali potensi, menanamkan nilai-nilai kebaikan, dan memberikan bekal keterampilan supaya akhirnya anak-anak mandiri dalam belajar. Lewat pendidikan berbasis rumah saya melihat proses itu paling memungkinkan terjadi untuk keluarga kami, yang berkecimpung di bidang yang juga tidak terlalu formal.

Awalnya saya menjalani keputusan ini dengan banyak perdebatan, bukan dengan orang lain, tapi hakikatnya adalah dengan keyakinan-keyakinan saya sendiri. Jikapun akhirnya pergulatan pemikiran itu bersinggungan dengan pikiran orang lain yang berbeda atau mirip tapi beda esensi, nyatanya saat saya benar-benar yakin dengan konsekuensi pendidikan tanpa sekolah formal semua perdebatan dengan pihak-pihak yang menolak, mencibir, atau sekadar tidak setuju tidak lagi menarik untuk diteruskan.

Saya tidak bisa mengubah pikiran orang lain dan juga tidak punya hak untuk memaksa mereka setuju dengan apa yang saya pilih. Spirit pendidikan rumah adalah kemerdekaan dalam menentukan model pendidikan dan bukan tentang meng-klaim bahwa home-education, homeschooling, atau pendidikan informal adalah cara paling baik sehingga cara lainnya menjadi tidak baik.

Apalagi, begitu banyak contoh, di mana nasib manusia, perubahan manusia, tak pernah bisa diprediksi. Tak sedikit orang yang masa kecilnya 'berantakan' tapi di usia dewasa mampu jadi teladan. Sebaliknya, di masa kecil nampak hebat, namun saat usia kian lanjut, malah berubah mengecewakan. Poin pentingnya, selalu-lah menempatkan segalanya dalam bingkai kerendahan hati di hadapan Allah dan juga di hadapan makhluk-makhluk-Nya. Kita hanya berusaha sesuai pengetahuan yang kita yakini (namun belum tentu itu yang paling benar), adapun hasilnya? Bagaimana mungkin kita berani menyombongkan diri atas sesuatu yang kita sendiri belum mengetahuinya. Meskipun kita punya harapan besar, namun masa depan anak-anak kita, tak pernah ada yang tahu akhirnya seperti apa. Kita hanya bisa berdoa untuk kebaikan mereka.

Kompetisi
Saya menyadari, ada banyak hal yang masih menjadi misteri. Apakah sebenarnya manusia butuh iklim kompetisi untuk menjadi maju ataukah tidak? Menurut saya, kompetisi seringnya hanya menjadi alasan yang temporer dan tidak hakiki. Betapapun seringnya melihat negara yang berprestasi, jika suatu bangsa belum memiliki karakter yang memungkinkan kemajuan itu datang, maka dilombakan atau dikompetisikan sesering apapun hasilnya tak akan jauh berubah.

Apalagi setelah mencoba mempelajari karakteristik pendidikan para nabi utusan Allah, saya menyimpulkan sementara ini, pendidikan bukan butuh kompetisi, melainkan semangat untuk menjadi lebih baik yang keluar dari kesadaran diri. Dan tidak ada semangat perbaikan yang paling hebat pengaruhnya bagi makhluk bumi kecuali semangat meningkatkan ilmu pengetahuan dan membina diri sehingga memiliki akhlak/kepribadian yang mulia. Saya yakin, spirit ini akan membuahkan kondisi yang berbeda dimanapun pendidikan dilaksanakan.


Pembuktian
Mungkin inilah yang tanpa sadar menjadi tujuan kompetisi, namun bisa jadi juga sebenarnya tidak sepenuhnya bisa dijadikan acuan. Membuktikan bahwa para 'pemenang' kompetisi adalah yang terbaik dari sekian banyak orang kini makin sulit untuk dipercaya seratus persen. Pada zaman di mana uang berkuasa, popularitas jadi tujuan, manusia lebih melirik harta benda dan kehormatan semu dibandingkan kejujuran. Karena itulah, mengandalkan kompetisi untuk membuktikan kehebatan seseorang tidaklah lagi terlampau relevan.

Pendidikan adalah sarana untuk mengantarkan manusia pada kedudukan yang terus naik, bukan dalam pandangan materil (kendati hal itu mungkin juga hadir bersamaan), namun dalam parameter yang lebih tinggi yaitu nilai-nilai ilahi yang terbuktikan dalam keseharian kehidupannya, lewat perilakunya. Kemajuan di dunia materi bisa hancur kapan saja dengan kuasa Allah SWT, namun kemajuan kualitas jiwa akan membuat manusia tetap 'tumbuh' dan bahkan menjadi bekal yang bisa dituai saat manusia kembali pada Tuhannya.

Wallahualam bishawwab.

1 komentar:

Andini Rizky mengatakan...

Kompetisi itu memotivasi bagi orang-orang yang punya kesempatan untuk menang. Jadi yang termotivasi untuk berkompetisi di sekolah itu memang anak-anak yang sudah termotivasi duluan. Sedangkan bagi anak-anak yang tidak punya kesempatan menang, hanya membunuh minat belajar dan kepercayaan diri mereka saja.

Tentang Saya

Saya, ibu dua anak. Anak-anak saya tidak bersekolah formal. Blog ini berisi perjalanan pemikiran saya tentang pendidikan di rumah dan turunannya.

Jika Anda menggunakan tulisan di blog ini sebagai referensi: (1) HARAP TIDAK ASAL copy paste, (2) Selalu mencantumkan link lengkap tulisan. Dengan begitu Anda telah berperan aktif dalam menjaga dan menghargai hak intelektual seseorang.