Artikel lain

Minggu, 11 November 2007

Pusat Baca Masyarakat Desa: Edukasi Kerakyatan untuk Mencintai Buku

Tak bisa dipungkiri, pembeli buku di negeri kita belumlah seimbang jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Selain itu, fakta menunjukkan bahwa pembeli buku masih didominasi oleh orang kota, atau kalaupun ada orang desa, mereka adalah orang-orang sudah yang bermigrasi atau bersekolah ke kota. Oleh karena itu, wajar jika akhirnya mayoritas penerbit tidak membidik pasar pedesaan untuk pendistribusian buku-bukunya. Pertimbangan marketing menjadi faktor utama.

Akan tetapi, peluang untuk membidik pasar pedesaan sebenarnya masih terbuka lebar. Satu hal yang mungkin tidak disadari, orang desa itu sebenarnya juga konsumtif. Banyak orang desa sekarang ini mampu membeli TV, DVD, lemari es, mesin cuci, kendaraan bermotor, dan peralatan modern lainnya. Artinya, secara finansial sesungguhnya mereka juga mampu. Persoalannya adalah: ada atau tidaknya rasa butuh terhadap buku.

Bertitik tolak dari persoalan tersebut, maka edukasi terhadap masyarakat desa tentang penting dan asyiknya membaca buku adalah program awal. Karena menyuruh orang desa membeli buku pada tahap pertama sudah pasti akan sia-sia.

Prioritas dari program edukasi tersebut adalah menyediakan pusat baca pedesaan atau TBM (Taman Baca Masyarakat) jika kita mempergunakan istilah diknas. Buku-bukunya disuplai oleh orang-orang yang peduli dengan pentingnya membaca buku, sehingga buku-buku yang tersedia di pusat baca bukanlah buku-buku yang isinya kurang bermutu, melainkan buku-buku yang akan menginspirasi orang untuk maju. Setahap demi setahap, dengan semakin tingginya ketertarikan terhadap bahan bacaan, diharapkan buku pun akan diminati masyarakat desa sebagai sebuah produk yang wajib dibeli.

Prosesnya panjang dan lama? Hal itu harus siap dihadapi. Namun bukan tidak mungkin, dengan konsistensi para pengelolanya dan bantuan penuh dari banyak pihak, termasuk insan-insan penerbitan buku, proses itu akan berlangsung lebih cepat.

Bagaimana Mendirikan TBM
Siapapun yang tertarik mendirikan TBM, informasi berikut mungkin bisa dijadikan acuan.

Syarat Berdirinya TBM
1. Tersedia tempat/ruangan yang memadai dan nyaman berukuran minimal 3 x 4 m
2. Lokasi yang mungkin dipergunakan adalah PKBM, balai desa, PAUD, masjid, atau tempat tinggal yang dianggap memadai
3. Tersedia koleksi buku minimal 50 judul buku dengan minimal 2 eksemplar untuk setiap judul. Jadi total buku yang tersedia adalah 100 buku.
4. Tersedia Rak buku sederhana berikut karpet ataupun meja dan kursi.
5. Tersedia Papan Nama TBM
(Sumber: Iklan Layanan Masyarakat, Harian "Pikiran Rakyat" edisi Kamis, 8 November 2007)

Strategi Menghidupkan Taman Bacaan
Penyakit yang seringkali muncul dalam pengelolaan taman bacaan adalah kurangnya pengunjung. Akibatnya, para pengelola atau pengurusnya pun jadi patah arang. Baru seminggu atau paling lama sebulan, taman bacaan sudah tutup lagi.

Program-program pemancing sangatlah penting dalam hal ini. Adanya sekolah-sekolah setingkat SD dan SMP, atau mungkin juga SMU di setiap kecamatan merupakan modal untuk dijadikan pelanggan taman bacaan. Pengelola TBM bisa bekerja sama dengan pihak sekolah untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan siswa-siswanya, seperti bedah buku, lomba bikin resensi, lomba nulis cerita, lomba madding, dan lain sebagainya. Di sinilah para penggiat dan kolektor buku sangat dibutuhkan support-nya, minimal untuk menyediakan hadiah berupa buku bagi para pemenang.

Dampak Signifikan Lain TBM
Lebih jauh dari sekedar menumbuhkan minat baca dan minat membeli buku, kehadiran TBM diharapkan mampu memberikan edukasi tidak langsung bagi generasi muda pedesaan tentang kepedulian terhadap daerah dan masyarakatnya.

Urbanisasi yang tak terbendung dari desa ke kota telah menyebabkan ketimpangan komposisi penduduk. Wilayah perkotaan semakin sesak dan tak tertata karena banyaknya para urban yang mencari nafkah di kota. Salah satu penyebab urbanisasi adalah ketidakmampuan orang desa untuk melihat potensi daerahnya sebagai lahan untuk mencari nafkah.

Sumber daya alam yang melimpah di desa tidak terberdayakan dengan baik karena pengetahuan akan hal itu memang sangat minim. Orang desa akhirnya memilih jalan instan dengan bekerja di kota, entah sebagai buruh, PRT, dan lain-lain, karena langkah itulah yang dianggap lebih cepat membawa mereka pada uang.

Harapan akan terjadinya perubahan yang lebih baik pada masyarakat kita pasti ada di benak banyak orang. Namun melakukan langkah-langkah kecil untuk mewujudkan harapan itu akan jauh lebih berarti daripada merangkai imajinasi besar yang tak terpetakan dalam kapasitas kita masing-masing.

Mensedekahkan minimal 1 saja koleksi buku Anda untuk mendirikan Taman Bacaan Masyarakat akan sangat membantu pemerataan wawasan dan pengetahuan pada mereka yang sulit mengaksesnya. Insyaallah, kebajikan itu akan terus mengalir berkahnya hingga kita kembali kepada-Nya. Hal itu disabdakan Nabi Muhammad saw, "Semua amal akan terputus pada saat seseorang telah meninggal dunia, kecuali 3 hal: anak yang shaleh, ilmu yang bermanfaat, dan amal sedekah".

(Mohon Koreksi jika ada kesalahan)

Tidak ada komentar:

Tentang Saya

Saya, ibu dua anak. Anak-anak saya tidak bersekolah formal. Blog ini berisi perjalanan pemikiran saya tentang pendidikan di rumah dan turunannya.

Jika Anda menggunakan tulisan di blog ini sebagai referensi: (1) HARAP TIDAK ASAL copy paste, (2) Selalu mencantumkan link lengkap tulisan. Dengan begitu Anda telah berperan aktif dalam menjaga dan menghargai hak intelektual seseorang.