Mengalir. Mungkin agak tepat mewakili gambaran aktivitas belajar kami. Meskipun saya tak sepenuhnya setuju dengan kata 'mengalir' jika konotasinya tak tentu tujuan, namun mengalir dengan membawa visi, jelas itu sangat menyenangkan.

Alhamdulillah, perlahan-lahan, meski awalnya tak terlalu tertarik, Azkia dan Luqman mulai mau belajar menyulam. Nenek mereka yang sedang bersama kami menjadi sumber belajar yang penuh kasih sayang. Usai nenek mengajar anak-anak anggota perpustakaan yang juga antusias belajar menyulam, anak-anak kami mengambil sisa waktu setelahnya di saat senggang.
Keterampilan klasik lainnya secara bertahap mudah-mudahan bisa juga mereka pelajari. Selain menjadi terapi kesabaran dan ketelitian, keterampilan klasik menurut saya bisa melembutkan jiwa, membuat anak-anak lebih terlatih mengontrol dirinya. Karena itulah, saya tak hanya menstimulus anak perempuan saya untuk mempelajari keterampilan ini, tapi juga anak laki-laki saya. Toh dia tetap tak kehilangan identitas gender-nya dengan melakukan kegiatan ini. Ia tetap bersepeda, memanjat, main bola. Keterampilan dipilah-pilah berdasarkan gender sudah bukan zamannya lagi.
Mudah-mudahan semua usaha ini tak sia-sia. Dan kita semua tahu, pendidikan bukanlah pekerjaan yang setahun atau dua tahun bisa diperoleh hasilnya. Pendidikan adalah proses panjang. Semoga saya tetap konsisten. Amin.
4 komentar:
salam kenal....saya lagi blogwalking ni di blog2 yang betema pendidikan...dan siapa tahu mao tukaran link.....artikelanya bagus sekali....
Blog dan artikelnya bagus juga, komentar juga ya di blog saya www.when-who-what.com
Waduh saya jadi inget janji mau ngasi e-book or video cara merajut. Kalau dekat sih sudah pasti saya mau sekalian ajarin langsung. Biar lebih afdol. Kebetulan di rumah juga masih ada benang2 sisa yg masih bisa dimanfaatkan. Kapan Anna ke Bandung, kita janjian, nanti saya kasi benang yg sudah tdk terpakai, tapi masih bisa dibuat kreasi.
Terima kasih untuk blog yang menarik
Posting Komentar