<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765</id><updated>2012-02-02T06:18:21.216-08:00</updated><category term='Homeschooling'/><category term='portofolio HE'/><category term='resensi buku'/><category term='LombaBlogDepok 17 Juli – 17 September 2010'/><category term='intermezzo'/><category term='buku saya'/><category term='inspirasi pembelajaran'/><category term='artikel'/><category term='Jalan-Jalan'/><category term='pendidikan informal'/><category term='kreativitas'/><title type='text'>Pendidikan Rumah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>199</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-2867582277042280568</id><published>2012-01-23T20:48:00.000-08:00</published><updated>2012-01-23T21:52:43.702-08:00</updated><title type='text'>Peta Pikiran untuk Merangkum Pelajaran</title><content type='html'>Azkia (9 tahun) sekarang sedang belajar tentang 'Rangka dan Alat Indera Manusia' (pelajaran IPA kelas 4 SD semester 1). Awalnya begitu sulit dan moodnya juga lambat muncul saat pertama membuka pelajaran ini. Tapi, alhamdulillah, ketika diarahkan dengan sabar, akhirnya ia menemukan 'passion' dalam mempelajari hal-hal seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azkia sekarang belajar dengan menggunakan peta pikiran. Dia membuat rangkuman inti pelajaran dalam bentuk lingkaran-lingkaran peta yang mudah dibaca. Dan dengan inisiatifnya sendiri, setiap sub ia bagi-bagi menjadi kerangka tersendiri yang bisa ia pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini contoh catatan yang dibuatnya:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-LsZ6k9Btwio/Tx5F_rJeWfI/AAAAAAAABC8/_NLzEfJnCSE/s1600/foto%2B248.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 204px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-LsZ6k9Btwio/Tx5F_rJeWfI/AAAAAAAABC8/_NLzEfJnCSE/s320/foto%2B248.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701071138514164210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-BUf5wkGNvts/Tx5GLDn507I/AAAAAAAABDI/aB1XACX3c9s/s1600/foto%2B249.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 209px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-BUf5wkGNvts/Tx5GLDn507I/AAAAAAAABDI/aB1XACX3c9s/s320/foto%2B249.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701071334062805938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motto yang kami tularkan sekarang pada anak-anak: "&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;JANGAN HANYA KARENA SEBUAH PELAJARAN ITU SULIT LALU KITA BILANG ITU TIDAK PENTING. BERSUNGGUH-SUNGGUH ADALAH PINTU KEBERHASILAN, TEKUN DAN GIGIH ADALAH KUNCINYA&lt;/span&gt;" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-2867582277042280568?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/2867582277042280568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=2867582277042280568&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2867582277042280568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2867582277042280568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2012/01/peta-pikiran-untuk-merangkum-pelajaran.html' title='Peta Pikiran untuk Merangkum Pelajaran'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-LsZ6k9Btwio/Tx5F_rJeWfI/AAAAAAAABC8/_NLzEfJnCSE/s72-c/foto%2B248.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-5806499223931961954</id><published>2012-01-16T16:57:00.000-08:00</published><updated>2012-01-16T18:22:16.978-08:00</updated><title type='text'>Apa Manfaatnya Bagiku?</title><content type='html'>AMbak  (Apa Manfaatnya bagiku?) Bagi anak-anak yang dibesarkan dengan iklim belajar tanpa paksaan, pertanyaan tersebut nampaknya sangat penting. Saya sebagai orang tua pun menyadari bahwa menjawab pertanyaan itu adalah "tugas" penting. Saya bercermin pada diri saya sendiri. Jika saya mengetahui bahwa sebuah perbuatan yang saya lakukan bermanfaat, biasanya akan mendongkrak semangat saya jauh lebih besar dibandingkan jika saya hanya melakukannya tanpa tujuan atau karena sebuah tugas saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering melihat binar-binar semangat menyala di mata anak-anak ketika kami berkumpul dan menceritakan banyak hal tentang fase-fase dan proses sebuah pelajaran berubah menjadi profesi yang penting dalam kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita-cerita semacam itu sangat efektif untuk menyuntik semangat mereka saat merasa kesulitan dengan sebuah pelajaran. Pesan moralnya: "Jangan hanya karena sebuah pelajaran itu sulit, lalu kita bilang itu tak berguna. Belajarlah terus meskipun lambat, karena ketika kita berhasil mempelajarinya, kelak hal itu akan menjadi simpanan berharga yang bisa dipergunakan ketika kita membutuhkannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-5806499223931961954?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/5806499223931961954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=5806499223931961954&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5806499223931961954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5806499223931961954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2012/01/apa-manfaatnya-bagiku.html' title='Apa Manfaatnya Bagiku?'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-5418664119726684394</id><published>2012-01-03T06:02:00.000-08:00</published><updated>2012-01-03T16:24:37.672-08:00</updated><title type='text'>Pembelajaran Terintegrasi</title><content type='html'>Beberapa waktu terakhir, karena sebuah 'tugas', saya mempelajari sejarah beberapa ilmuwan muslim. Walaupun terasa sulit pada awalnya, namun hikmah buat saya adalah berpijarnya kembali pemikiran tentang dunia belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data yang saya peroleh, rata-rata para ilmuwan muslim zaman dulu menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus, tidak dikotomis. Mereka menguasai matematika, kimia, kedokteran, dan juga ilmu tanaman, bahkan musik pada taraf faqih (mahir/ahli). Hal itu membuat saya menduga bahwa pada zaman dahulu ilmu  memang tidak disekat-sekat menjadi cabang-cabang yang sempit. Setiap orang yang cinta ilmu belajar apa saja yang sekiranya diperlukan dan dianggap saling berkaitan satu sama lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun munculnya pengelompokkan ilmu, sehingga disebut-sebutlah ilmuwan A ahli di bidang X atau ilmuwan B ahli di bidang Y, terjadi sesudahnya, oleh para akademisi, ketika memasuki era sekolah formal (baru dugaan saya, belum meneliti lebih jauh sejarahnya ^_^).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui dugaan tersebut, saya makin tertarik untuk melanjutkan proses belajar yang terintegrasi. Satu bidang ilmu dengan yang lainnya ditempatkan saling berkaitan, karena memang demikianlah faktanya di dunia nyata. Secara alami kita bisa menggabungkan semuanya dalam sebuah kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan yang diperoleh anak-anak biarlah nantinya dikelompokkan dalam cabang ilmu yang mana, terpenting mereka belajar dengan antusias apapun yang mereka minati. Biar saja informasi tentang cabang-cabang ilmu itu diketahui sesudahnya, dengan sendirinya. Tidaklah hal-hal semacam itu harus dijadikan pelajaran pertama  seperti pada umumnya isi BAB 1 buku pelajaran sekolah. Bukankah isi lebih penting didahulukan daripada kerangka, meski kerangka juga penting pada akhirnya. ^_^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sketsa ide pembelajaran terintegrasi adalah seperti gambar di bawah. Kalau dikembangkan terus setiap kelompoknya akan melahirkan banyak turunan gagasan yang seru. Hanya dari kegiatan memasak saja, kita bisa menyentuh beberapa cabang ilmu.  Saya yakin, para pembaca bisa mengeksplorasi sendiri pengembangan gagasan berikutnya. Selamat mencoba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-osLMd6IsVj4/TwMMjunL2qI/AAAAAAAABAg/lB9qKG69PbY/s1600/grafik1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 291px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-osLMd6IsVj4/TwMMjunL2qI/AAAAAAAABAg/lB9qKG69PbY/s320/grafik1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693408161873779362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-5418664119726684394?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/5418664119726684394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=5418664119726684394&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5418664119726684394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5418664119726684394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2012/01/pembelajaran-terintegrasi.html' title='Pembelajaran Terintegrasi'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-osLMd6IsVj4/TwMMjunL2qI/AAAAAAAABAg/lB9qKG69PbY/s72-c/grafik1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-7545449251918943999</id><published>2011-12-08T16:30:00.000-08:00</published><updated>2011-12-08T16:56:41.556-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan informal'/><title type='text'>Budaya Berguru</title><content type='html'>Salah satu pe er kami tentang pendidikan anak-anak adalah budaya berguru. Tanpa sadar, keseringan belajar mandiri, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;self exploration&lt;/span&gt;, kayaknya bisa memicu sikap tidak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;teacheble&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sarana dan prasarana belajar mandiri makin banyak sekarang ini, namun kegiatan berguru punya arti tersendiri. Kegiatan berguru menurut saya menanamkan sikap 'mau diajari', dan itu berdampak pada bertambah luasnya ilmu dan menekan sikap egosentris di mana mereka merasa hebat sendiri. Hal itu tentunya berseberangan dengan ideal akhlak seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dalam tahap-tahap kecil, kami mulai membawa anak-anak pada guru lain selain kami, orang tuanya. Berharap dengan cara itu, mereka  menyadari pentingnya sosok guru di samping kemauan untuk belajar sendiri. Azkia sudah hampir 6 bulan ikut les bahasa Inggris dengan 12 murid dalam satu kelas dan guru berumur 27-an tahun. Mulai ikut les piano dengan guru berumur 70-an tahun; ikut les robotika dengan guru berusia sama dengan guru les Inggrisnya; belajar craft bersama Nenek, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar fakta bahwa banyak guru formal juga belum tentu kompeten dalam mengajar, namun budaya berguru tidak akan bisa dilepaskan dari budaya belajar jika ingin anak-anak menjadi seorang pembelajar sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajar mandiri bukan hanya sekadar tentang bisa belajar sendiri (tanpa sosok guru), namun juga selalu siap menyerap ilmu dari orang lain dan berguru padanya.Saya semakin menikmati proses perenungan ini. Pendidikan informal mewadahi pendalaman hakikat banyak hal, terutama soal belajar. Karena pada dasarnya bukan hanya anak-anak yang belajar, melainkan juga kami sebagai orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-7545449251918943999?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/7545449251918943999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=7545449251918943999&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7545449251918943999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7545449251918943999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/12/budaya-berguru.html' title='Budaya Berguru'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-1140770875556489203</id><published>2011-12-01T20:13:00.001-08:00</published><updated>2011-12-01T21:51:30.595-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan informal'/><title type='text'>Menyentuh Pelajaran Akademik secara Informal</title><content type='html'>Anak-anak saya sekarang sudah 9 dan 7 tahun. Kalau merujuk tahapan perkembangan anak, memang sudah memasuki fase operasional kongkret, usia siap belajar terstruktur. Sekarang kami membuat jadwal belajar akademik secara rutin setiap hari dengan persetujuan mereka. Waktunya diatur oleh mereka sendiri tapi diusahakan selalu tetap setiap harinya. Dan atas permintaan mereka, kami mulai jam 9 pagi. Maksimal durasi belajar kami tetapkan hanya 30 menit, namun faktanya sering lebih pendek ^_^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mulai memakai kurikulum sekolah formal sebagai salah satu bahan. Dengan begitu, jika suatu hari berniat ikut ujian kesetaraan, anak-anak tidak lagi kaget dengan formulasi pelajaran yang diujikan. Kami mencoba untuk bersikap pertengahan saja soal model pendidikan ini. Hari ini kami memilih pendidikan informal dan besok-besok mungkin tertarik dengan formal, ijazah kesetaraan dari lembaga nonformal adalah mediatornya. Jadi, tak ada ruginya juga menyiapkan anak-anak untuk berakrab-akrab dengan pelajaran KURNAS, toh mereka juga jadi mendapat tambahan ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akui, buku pelajaran sekolah tidak terlalu menarik untuk dibaca anak-anak. Topiknya bermanfaat, tapi penyusunan isinya, dari mulai tipografinya, layoutnya, ilustrasinya, kalimat-kalimatnya, dan pertanyaan-pertanyaannya cenderung membosankan. Jadi bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya kami pun enggan memakai kurnas, tapi kemudian membalik cara berpikir. Bukankah beberapa hal dalam hidup ini juga tidak menyenangkan kita. Reaksi dan cara kita berpikirlah yang membuat semuanya berbeda. Karena itulah, kami coba bersahabat dengan BSE (Buku Sekolah Elektronik) dan mengambil intisari pelajarannya. Sesudah itu, metode penyampaian kami coba otak-atik dengan berkreasi sendiri, dan alhamdulillah anak-anak mulai terbiasa juga menikmati KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) pelajaran sekolah tapi secara informal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadwal belajar akademik berbahan baku kurnas kami coba permudah: Hanya 5 hari seminggu (Senin - Jumat), 1 atau 2 mata pelajaran per hari maksimal 30 menit. Satu kali belajar kami tetapkan hanya satu bab. Jika rata-rata buku pelajaran berisi 10 bab, maka dengan belajar seminggu sekali untuk setiap pelajaran, insya Allah anak-anak sudah selesaikan semuanya dalam 10 minggu (2,5 bulan) . Saya kira hal itu cukup ringan untuk dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Muatan Ekstra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, jika sebelumnya anak-anak hanya belajar hal-hal yang mereka suka, penambahan kurnas tidak membuat hobi mereka jadi 'terlarang'. Bisa kita hitung sendiri, belajar akademik 30 menit, maka sisa waktu untuk yang lain masih sangat banyak. Anak-anak bisa baca buku yang mereka suka, bermain-main di kebun, bikin-bikin craft bersama teman-temannya, nonton film anak-anak atau film-film dokumenter, dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menambah keterampilan, Azkia pilih kursus Bahasa Inggris 2x seminggu (@1 jam per pertemuan), kursus piano 1x per minggu (@30 menit). Luqman suka mekanika, dan mulai mau lagi belajar robotika seminggu sekali. Dan mungkin yang lain-lainnya jika mereka sudah mulai tertarik untuk belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun muatan ekstra yang terpenting dan kami usahakan tetap konsisten adalah hafalan Quran. Setiap hari, meski hanya 5 atau 10 menit kami rutinkan kegiatan tersebut supaya mejadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;habit&lt;/span&gt;. Mudah-mudahan Allah SWT selalu memberi kekuatan pada hati kami untuk konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar, selain merupakan hak, juga merupakan kewajiban bagi seorang mukmin setelah dewasa. Ketidaktahuan bisa mematikan langkah dan menyuburkan kebodohan. Seorang mukmin haruslah cerdas dan berpengetahuan. Satu-satunya jalan untuk mencapai titik tersebut adalah belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, tugas orang tua pada anak-anak dalam hal ini, bukan hanya mengikuti apa yang mereka mau, tapi juga menumbuhkan rasa senang dan butuh terhadap belajar. Dengan begitu, ketika sudah tiba waktunya anak-anak masuk usia taklif belajar hal-hal yang lebih tinggi dalam agama dan kehidupan bermasyarakat, mereka sudah bisa mengatasi faktor-faktor penghambatnya. Mudah-mudahan, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-1140770875556489203?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/1140770875556489203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=1140770875556489203&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1140770875556489203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1140770875556489203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/12/menyentuh-pelajaran-akademik-secara.html' title='Menyentuh Pelajaran Akademik secara Informal'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-7018982225717021281</id><published>2011-12-01T01:33:00.000-08:00</published><updated>2011-12-01T03:39:00.310-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kreativitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan informal'/><title type='text'>Kreasi dari Kain Perca</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ag1Z6fi7gMs/TtdfpfP2vZI/AAAAAAAAA_w/Hp2us_J0RUQ/s1600/1111222.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 156px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ag1Z6fi7gMs/TtdfpfP2vZI/AAAAAAAAA_w/Hp2us_J0RUQ/s200/1111222.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681114621318446482" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika nenek (ibu saya) berkunjung ke rumah, selalu menjadi peristiwa penting. Keterampilan-keterampilan klasik yang dikuasai nenek adalah harta karun. Jadi, saya selalu memanfaatkan kedatangan nenek untuk mengajar cucu-cucunya keterampilan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ini seni merangkai kain perca jadi topik utama. Kebetulan, lebaran yang lalu ibu mertua saya memberikan sekantung bahan baku kain perca yang sudah dibentuk. Setelah lama tersimpan di koper, hari ini saya bongkar dan dimulailah acara merangkai perca bersama anak-anak tetangga yang main ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata anak-anak antusias mau belajar. Cadangan jarum tangan pun dikeluarkan supaya semua anak kebagian mencobanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ePKYr4oEUbM/TtdjcaDKyyI/AAAAAAAAA_8/B2IBBDux9ZE/s1600/foto%2B412%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 188px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ePKYr4oEUbM/TtdjcaDKyyI/AAAAAAAAA_8/B2IBBDux9ZE/s200/foto%2B412%2Bcopy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681118794631269154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-NQzRdj4yDUA/TtdmrPdSdoI/AAAAAAAABAI/DUeFdy5vbCU/s1600/foto%2B410%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 184px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-NQzRdj4yDUA/TtdmrPdSdoI/AAAAAAAABAI/DUeFdy5vbCU/s200/foto%2B410%2Bcopy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681122348020954754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-7018982225717021281?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/7018982225717021281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=7018982225717021281&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7018982225717021281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7018982225717021281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/12/kreasi-dari-kain-perca.html' title='Kreasi dari Kain Perca'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ag1Z6fi7gMs/TtdfpfP2vZI/AAAAAAAAA_w/Hp2us_J0RUQ/s72-c/1111222.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-1151603239590099743</id><published>2011-11-28T13:00:00.000-08:00</published><updated>2011-11-28T14:40:59.070-08:00</updated><title type='text'>Belajar Fokus</title><content type='html'>Begitu banyak bahan belajar bertebaran di internet, link-link bagus yang canggih-canggih menggoda untuk dicoba, tapi dari sekian banyak sumber yang kita kumpulkan nyatanya hanya beberapa persen saja yang benar-benar bisa kita tekuni dalam waktu bersamaan.  Ketika  kita paksakan diri mempelajari semuanya atau menggunakan semuanya, muncul kebiasaan belajar yang tidak tuntas, dan otomatis juga tidak mendalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anak-anak dianggap cukup siap untuk menekuni bidang pelajaran yang mereka minati secara terstruktur, saya pikir itulah saat yang tepat bagi saya untuk menyusun prioritas jadwal. Tidak menggarap semua hal dalam rentang waktu bersamaan, tapi saya  mendorong anak menuntaskan pelajaran-pelajaran yang dianggap utama sampai pelajaran itu menginternal dalam diri mereka. Saya melihat hasil yang jauh lebih baik saat menerapakan model tersebut daripada mencekoki anak-anak terlalu banyak topik tapi hanya sekilas-sekilas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus, menjadi target utama saya menerapkan gaya ini. Saya, dengan background pekerjaan yang berbasis rumah, yang sebagian besar porsi supervisi adalah diri sendiri merasakan pentingnya sikap tersebut. Pekerjaan saya memang fleksibel, namun fleksibilitas juga bisa menjebak kita menjadi tidak biasa berdisiplin. Hal itu tentu saja bisa menggandakan potensi gagal menjadi lebih besar dalam menghasilkan sesuatu secara maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kebiasaan baik tanpa latihan. Semakin anak-anak beranjak besar saya yakin kebiasaan-kebiasaan yang nanti mereka butuhkan harus dilatih sedari sekarang. Oleh karena itu, saya pun berusaha lebih keras untuk mendisiplinkan diri dalam proses belajar ini. Saya berharap anak-anak menangkap spirit yang saya rasakan dan mengadaptasikannya secara alami ke dalam diri mereka. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-1151603239590099743?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/1151603239590099743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=1151603239590099743&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1151603239590099743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1151603239590099743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/11/belajar-fokus.html' title='Belajar Fokus'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-7047988451850956748</id><published>2011-11-22T21:42:00.000-08:00</published><updated>2011-11-23T03:03:15.042-08:00</updated><title type='text'>Perjalanan di Bulan Ramadhan 4</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-VRkS3SuPd-c/TszD60TxvcI/AAAAAAAAA-0/SFWXoNRU42g/s1600/aceh7.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-VRkS3SuPd-c/TszD60TxvcI/AAAAAAAAA-0/SFWXoNRU42g/s200/aceh7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678128645448777154" /&gt;&lt;/a&gt;Lelahnya perjalanan dari Bukittinggi-Singkil sedikit sirna ketika mengetahui bahwa sisa perjalanan tinggal 4 jam lagi. Dan, kami betul-betul harus melewati jalanan yang berbukit-bukit. Turunnya turun sekali, naiknya juga tak tanggung-tanggung mendaki. Hampir sama dengan medan di hutan Tapanuli, namun bedanya jalanan di Aceh mulus sekali, hampir tak kami temui jalan berlubang keculi di sedikit titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak tertidur sampai kakek berseru, "Tuuh, laut sudah kelihatan!" Luqman terbangun dan mulai memandang ke depan. Biru samar-samar dari kejauhan. Makin lama makin jelas. Namun jalanan yang berkelok-kelok membuat sesekali pemandangan laut tertutup. Kami terus menuruni lembah hingga akhirnya kami benar-benar menyusuri jalanan di lereng bukit yang jaraknya hanya ratusan meter dari laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-VLTtZBYifOs/TszErHidAxI/AAAAAAAAA_A/-ghnlpgq7JU/s1600/aceh8.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 190px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-VLTtZBYifOs/TszErHidAxI/AAAAAAAAA_A/-ghnlpgq7JU/s200/aceh8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678129475244327698" /&gt;&lt;/a&gt;Anak-anak seperti kehilangan rasa lelahnya. Makin terus berjalan, kami pun berjumpa dengan semakin banyak pemandangan khas laut yang begitu memesona. Barisan pohon kelapa berjejer di tepi pantai, ikan-ikan yang dijemur, perkampungan nelayan, membuat Azkia memekik kecil, "Rasanya seperti mimpi!". Anak 'gunung' yang baru melihat laut, begitulah ^_^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan berkelok ke bawah makin mendekati tepi pantai. Saat itulah saya menyadari, mengapa papa mertua saya begitu bersikeras mengajak kami pergi ke kampung halamannya, "Setidaknya sekali seumur hidup", begitu beliau berkata. Ternyata, kampung tempat beliau menghabiskan separuh masa kecilnya memang luar biasa. Kami beruntung bisa berkunjung ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-gube0stIPz4/TszFj3O4JiI/AAAAAAAAA_M/0y1K_14SzDo/s1600/aceh9.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 230px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-gube0stIPz4/TszFj3O4JiI/AAAAAAAAA_M/0y1K_14SzDo/s200/aceh9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678130450119796258" /&gt;&lt;/a&gt;Tiba di rumah, di hadapan membentang barisan kelapa menjulang tinggi, dan ujung pandangan benar-benar hamparan laut. Tinggal menyeberang jalan raya, 50 meter setelahnya kami sudah bisa merendam kaki di pantai, mencari cangkang siput, kerang, dan tentu saja pasir putih dan pecahan batu karang yang terpahat secara alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima hari kami di Aceh, dan sungguh tak akan terlupakan. Azkia dan Luqman selalu ingin balik lagi ke sana suatu hari nanti. Berenang di laut, bermain ombak, membuat istana pasir, merasakan desau angin pantai, dan pengalaman melihat orang menangkap ikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-54l3IBNwrMc/TszKeyRT4tI/AAAAAAAAA_Y/h9G-MCr2UmQ/s1600/aceh10.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-54l3IBNwrMc/TszKeyRT4tI/AAAAAAAAA_Y/h9G-MCr2UmQ/s200/aceh10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678135860446618322" /&gt;&lt;/a&gt;dengan bilah bambu, dan badai yang menjatuhkan buah-buah kelapa kering,tak akan bisa dilakukan di rumah kami yang ada di perbukitan. Jadi, meski kesan tentang Aceh selama ini lekat dengan tsunami dan getaran bumi, buat Azkia dan Luqman Aceh adalah tempat terindah yang pernah mereka datangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-7047988451850956748?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/7047988451850956748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=7047988451850956748&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7047988451850956748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7047988451850956748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/11/perjalanan-di-bulan-ramadhan-4.html' title='Perjalanan di Bulan Ramadhan 4'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-VRkS3SuPd-c/TszD60TxvcI/AAAAAAAAA-0/SFWXoNRU42g/s72-c/aceh7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-4275674712677402009</id><published>2011-11-21T05:15:00.000-08:00</published><updated>2011-11-21T06:44:30.470-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Homeschooling'/><title type='text'>Perjalanan di Bulan Ramadhan 3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-LeAMvgQW8so/Tspd0q2CsUI/AAAAAAAAA9s/U0ZKvkadnDc/s1600/aceh1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 182px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-LeAMvgQW8so/Tspd0q2CsUI/AAAAAAAAA9s/U0ZKvkadnDc/s200/aceh1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677453439689470274" /&gt;&lt;/a&gt;Memasuki wilayah Tapanuli, terlebih Tapanuli Utara, medan perjalanan mulai berat. Jalannya berlubang-lubang dan berundak-undak naik-turun. Turunannya curam, demikian juga tanjakannya 'patah' sekali. Pada beberapa ruas, malah terasa cukup mengkhawatirkan. Selain jalannya berlubang dalam, di kiri-kanan terbentang jurang dangkal yang dipadati pohon kelapa sawit dan rawa-rawa yang entah isinya apa. Yang jelas, di sepanjang jalanan di Tapanuli Utara babi hutan wara-wiri bebas bahkan di tengah-tengah manusia. Luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan peristiwa yang mungkin sedikit sulit dilupakan adalah ketika ban mobil kami slip di tengah-tengah tanjakan yang benar-benar patah (kemiringan nyaris 30 derajat). Saat mobil kami melaju dengan sekuat tenaga untuk mencapai puncak jalan, serombongan mobil dari arah berlawanan juga sedang menuju jalanan yang sama. Jalan itu luas, namun yang masih tersisa aspal keras hanya bagian tengah. Para pengemudi menghindari bahu kiri ataupun kanan jalan karena di bagian itu aspal sudah tergerus air, dan yang tersisa tinggal tanah lempung yang becek di saat hujan. Mobil kami yang sedang berkonsentrasi naik akhirnya terpaksa mengambil jalur kiri supaya tidak beradu dengan mobil dari atas. Akibatnya, ban slip dan perjalanan terpaksa harus tertunda di situ. Kami semua turun. Ibu-ibu dan anak-anak berjalan ke atas sambil menunggu ban mobil berhasil keluar dari kubangan tanah liat itu. Kami berada di hutan Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung datang bantuan dari pemiliki kendaraan yang berpapasan, namun mobil tak juga berhasil diangkat apalagi di dorong. Para penolong pun menyerah dan mereka terpaksa melajutkan perjalanan karena dikejar waktu. Atas inisiatif kakek, ibu-ibu dan anak-anak akhirnya ikut mobil penolong yang kebetulan kosong karena akan menjemput penumpang di Meulaboh. Tak dinyana, ternyata kami telah jauh meninggalkan bapak-bapak, termasuk sopir di tengah tanjakan. Kami pun sudah meninggalkan perbatasan Sumatera Utara dan tiba di tanah rencong. Rasanya seperti mimpi ^_^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/--K39VlZ-sWE/TspfSBsQMKI/AAAAAAAAA94/LIY1TsiNQ8E/s1600/aceh2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/--K39VlZ-sWE/TspfSBsQMKI/AAAAAAAAA94/LIY1TsiNQ8E/s200/aceh2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677455043550261410" /&gt;&lt;/a&gt;Luqman nampak sangat kelelahan dan terpaksa harus turun dari mobil tumpangan itu. Kami berhenti di sebuah Mesjid sambil menunggu mobil kami datang menjemput. Nyaris merasa, kami tak akan pernah sampai di tujuan karena kelelahan. Tapi, dengan niat menyambungkan silaturahim dengan keluarga besar kakek  di Aceh, kami menjaga semangat. Alhamdulillah semua bisa kami lewati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, mobil kami datang dengan belepotan tanah. Mobil berhasil dibebaskan dari kubangan dengan bantuan 6 orang pengangkut kayu yang kebetulan sedang lewat dengan bayaran cukup mahal (jika diukur dengan kebiasaan orang-orang di tanah Sunda), tapi mungkin tak seberapa jika dibandingkan dengan waktu dan keselamatan kami semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah kami berkumpul lagi. Setelah istirahat sebentar di kota Singkil, kami menuju tahap terakhir perjalanan menuju tujuan. Menurut kakek, lamanya kurang leih 4 jam dari kota Singkil tersebut. Kami pun bersiap. Saat itulah kami disuguhi pemandangan yang cukup membuat nelangsa. Hutan Aceh itu dulu nampaknya luas sekali. Bentangannya seujung pandangan. Sayang, pemandangan yang kami lihat waktu itu, hutan alami ternyata sudah dirusak dengan 'kasar'. Sisa-sisa pohon yang batang bawahnya di bakar bergelimpangan tak menentu. Sebagian besar lahan di sepanjang tepian jalan sudah ditanami kelapa sawit. Dalam hati saya bergumam, "Apa mungkin, ini juga salah satu penyebab bumi di Aceh tak lagi seimbang? Alamnya memang telah dirusak dan akibatnya bumi mencari keseimbangannya sendiri dengan senantiasa bergerak dan berguncang. Wallahualam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERSAMBUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-4275674712677402009?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/4275674712677402009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=4275674712677402009&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4275674712677402009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4275674712677402009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/11/perjalanan-di-bulan-ramadhan-3.html' title='Perjalanan di Bulan Ramadhan 3'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-LeAMvgQW8so/Tspd0q2CsUI/AAAAAAAAA9s/U0ZKvkadnDc/s72-c/aceh1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-5627038134323193291</id><published>2011-10-04T18:51:00.000-07:00</published><updated>2011-11-21T06:43:21.970-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Homeschooling'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-Jalan'/><title type='text'>Perjalanan di Bulan Ramadhan 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-CjhvNgngKCg/Tspfulq31TI/AAAAAAAAA-E/cruUTnuyEBk/s1600/aceh3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-CjhvNgngKCg/Tspfulq31TI/AAAAAAAAA-E/cruUTnuyEBk/s200/aceh3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677455534244484402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baru sempat menulis lagi. Perjalanan berikutnya di bulan Ramadhan 1432 H adalah mengunjungi salah satu kota kabupaten di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kota itu bernama Tapak Tuan. Kota di tepi pantai, bernuansa khas laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah mungkin perjalanan terpanjang sejauh ini yang dirasakan anak-anak setelah mereka besar. Menempuh perjalanan 24 jam non stop, kecuali istirahat untuk makan dan tidur beberapa jam di dalam mobil. Pengalaman yang benar-benar di luar kebiasaan. Saya agak khawatir awalnya, apakah mereka akan kuat? Tapi ternyata semua bisa dilalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 11.00 start berangkat dari Bukittinggi. Setengah jam kemudian kami mulai menapaki jalanan berkelok-kelok. Panorama hutan lebat di kiri kanan jalan memang begitu memesona, tapi kelokan pendek-pendek membuat anak-anak mulai mabuk. Kantong kresek laku keras. Mobil tetap melaju hingga menemui sebuah masjid kami berhenti. Anak-anak ke toilet sekaligus beristirahat. Di situlah terasa, suasana di 'negeri' asing. Pohon-pohon atau bunga-bunga bolehlah sama, tapi bentuk-bentuk atap rumah tak bisa berbohong, terlebih-lebih lagi bahasa. Terasa pada suasana seperti itu, Indonesia memang beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-0956UtWzJvM/TspjQYCFPgI/AAAAAAAAA-o/C49ac0TU-zA/s1600/aceh4.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-0956UtWzJvM/TspjQYCFPgI/AAAAAAAAA-o/C49ac0TU-zA/s200/aceh4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677459413234171394" /&gt;&lt;/a&gt;Usai istirahat perjalanan berlanjut menyusuri jalanan berhutan menuju perbatasan provinsi SUMBAR dan SUMUT.Kakek sebagai pemandu sangat antusias memberikan info pada cucu-cucunya tentang apa-apa yang ada di sepanjang daerah yang kami lewati. Sayang, kondisi sehabis mabuk mengganggu perhatian anak-anak untuk lebih cermat menyimak. Lewat area Equator di Bonjol kami hanya melintas saja, tidak singgah, padahal ada museum equator di sana. Kami mengejar waktu supaya tidak terlalu malam tiba di hutan Sawit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari kami memasuki satu daerah yang sangat cantik, dan sudah termasuk wilayah Provinsi Sumatera Utara.  Mandailing Natal nama daerah itu. Kami disuguhi pemandangan tertata alami. Hutan membentengi di ujung pandangan, pesawahan kemudian membentang di tahapan kedua, dan sungai besar yang jernih berada paling depan, tak jauh dari jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna padi berselang-seling hijau dan kekuningan berlatarkan hutan hijau yang kaya oksigen dan menyimpan cadangan air berlimpah. Tak heran kalau sungainya tak henti mengalir, memberikan kehidupan pada penduduk di sana. Rasanya ingin turun untuk sekadar mencicip segarnya aliran air yang sangat jernih itu. Sayang, waktu terbatas. Kami hanya bisa menikmati selintasan, bahkan memotret pun hanya bisa dari balik jendela mobil. Hasilnya jelas kurang memuaskan.Namun kesimpulan sementara sampai sejauh itu, Sumatera memang 'surga' bagi para pecinta dan penikmat panorama sungai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERSAMBUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-5627038134323193291?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/10/perjalanan-di-bulan-ramadhan-2.html' title='Perjalanan di Bulan Ramadhan 2'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/5627038134323193291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=5627038134323193291&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5627038134323193291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5627038134323193291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/10/perjalanan-di-bulan-ramadhan-2.html' title='Perjalanan di Bulan Ramadhan 2'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-CjhvNgngKCg/Tspfulq31TI/AAAAAAAAA-E/cruUTnuyEBk/s72-c/aceh3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-824872030390480217</id><published>2011-08-29T16:46:00.000-07:00</published><updated>2011-08-29T17:36:27.574-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan di Bulan Ramadhan 1</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)". (Ar Ruum : 42)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-JT0jNKPOS4k/Tlwv9tXdtII/AAAAAAAAA7E/XKeIA7B3RLM/s1600/lobang%2Bjepang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 171px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-JT0jNKPOS4k/Tlwv9tXdtII/AAAAAAAAA7E/XKeIA7B3RLM/s200/lobang%2Bjepang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5646440770012296322" /&gt;&lt;/a&gt;Ayat senada akan kita temukan juga pada Al Quran surat Al Israa':37, Al Hajj:46, Ar Ruum:9, Al An'am:11, dan Ali Imran:137. Tanpa sadar, anjuran untuk melakukan perjalanan di muka bumi ternyata begitu sering diungkapkan dalam Al Quran. Karena itulah, kami coba manfaatkan masa perjalanan jelang idul Fitri ke sanak family di pulau Sumatera dengan sebaik-baiknya. Kami usahakan agar perjalanan tersebut memberi manfaat untuk menambah pengetahuan, meningkatkan kemampuan bertadabur, menyelami makna-makna lewat segala sesuatu yang kami alami, kami lihat, dan dengar sepanjang perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Ye5ASKjY7Vg/TlwvlwwPvLI/AAAAAAAAA68/tu-SkZLIA-8/s1600/relief.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ye5ASKjY7Vg/TlwvlwwPvLI/AAAAAAAAA68/tu-SkZLIA-8/s200/relief.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5646440358604684466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak 19 Agustus 2011, kami sudah berada di Payukumbuh, Sumatera Barat. Memang terlalu jauh dari jadwal idul fitri, tapi banyak ketenangan yang dirasakan karena hal itu. Jalanan belum macet, kendaraan bisa melenggang bebas. Selama 8 hari kami berada di Payakumbuh, di sela-selanya kami bisa berkunjung ke Bukittinggi melihat-lihat tempat khas di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak-anak hal tersebut seperti hal baru lagi. Pernah kami ke sana saat mereka masih kecil. Memori mereka tentang hal tersebut mungkin sudah memudar. Kami berkunjung melihat jam gadang, istana bung hatta, dan lobang jepang, sekaligus memandangi ngarai sianok yang terkenal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memasuki gerbang lobang jepang, rasa penasaran Luqman meningkat. Mengapa disebut lobang jepang, apa yang yang dilakukan jepang di indoenesia, dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya. Momentum belajar pun begitu pas, apalagi bertepatan dengan hari proklamasi kemerdekaan. Kami bisa cerita tentang masa penjajahan yang dialami bangsa Indonesia dan berbagai peristiwa. Belum lengkap memang, tapi hal itu memunculkan daya tarik untuk belajar sejarah sendiri setelah pulang, seperti yang selama ini sering terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan yang terasa belajar sejarah lewat cerita ketimbang hanya menyalin catatan dari buku pelajaran sejarah saat saya sekolah dulu, anak-anak jadi terlihat antusias, bebas bertanya, bebas dari beban untuk menghafal, dan tentu saja bisa lebih leluasa mengait-ngaitkan dan menanamkan nilai-nilai heroisme secara lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Budaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika anak-anak hanya tinggal di satu tempat tanpa mengenal daerah-daerah lain, pastinya mereka hanya mengenal budaya yang homogen. Hal itu sedikit menyulitkan mereka ketika suatu hari harus beradaptasi di tempat yang berbeda. Saya kini malah merasakan pentingnya program pengenalan lintas budaya dengan mengunjungi banyak daerah yang berbeda. Dari sana anak-anak akan belajar tentang memahami, mengenal alternatif, dan mengharagai orang lain. Bahkan, tak jarang banyak kebiasaan positif di daerah lain bisa menginspirasi mereka untuk menemukan hal-hal baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-vFxJZ9cG5iA/TlwwHrNfXHI/AAAAAAAAA7M/oE4dLMSFHls/s1600/Picture%2B2227.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vFxJZ9cG5iA/TlwwHrNfXHI/AAAAAAAAA7M/oE4dLMSFHls/s200/Picture%2B2227.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5646440941232282738" /&gt;&lt;/a&gt;Yang paling saya rasakan, anak-anak benar-benar mengalami adaptasi terhadap makanan. Kami yang tinggal di tanah Sunda dan lebih sering makan makanan Sunda harus mau mencoba makanan yang disediakan tuan rumah, tidak menyulitkan mereka. Sebenarnya ada kontras tajam antara makanan Sunda dan Minang, tapi ternyata pengetahuan sebelumnya tentang menghargai makanan yang disajikan membuat adaptasi terjadi lebih mudah dan alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lainnya? Insya Allah akan saya ceritakan pada tulisan ke-2. Perjalanan kami ke Aceh Selatan pada tanggal 26 Agustus 2011 tak kalah menakjubkan dan memberi banyak pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-824872030390480217?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/824872030390480217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=824872030390480217&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/824872030390480217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/824872030390480217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/08/perjalanan-di-bulan-ramadhan-1.html' title='Perjalanan di Bulan Ramadhan 1'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-JT0jNKPOS4k/Tlwv9tXdtII/AAAAAAAAA7E/XKeIA7B3RLM/s72-c/lobang%2Bjepang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-5704788387011930059</id><published>2011-07-17T15:38:00.000-07:00</published><updated>2011-07-17T16:38:43.524-07:00</updated><title type='text'>Perpustakaan Buat Para Ibu</title><content type='html'>Perpustakaan anak, untuk anak, dan oleh anak, sudah kami coba walau praktiknya butuh dedikasi lagi. Kalau nggak diurus, perpustakaan ya begitu-begitu saja, tak berkembang. Satu lagi cita-cita yang masih belum terealisasi, yaitu perpustakaan buat para ibu. Mengapa ibu? Karena mereka-lah yang menjadi kontroler pendidikan di rumah. Mereka harus berpengetahuan untuk mendidik anak-anaknya, dan buku adalah satu media pendidikan yang efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan buat para ibu semestinya dianggap penting sejajar dengan taman bacaan/perpustakaan anak. Bahkan dengan gerakan 'ibu membaca', maka secara paralel akan memicu motivasi anak-anak untuk juga membaca. Bukankah anak-anak adalah peniru yang hebat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah saja tidak cukup untuk menumbuhkan minat membaca. Mayoritas anak-anak yang saya temui tidak terlalu memiliki kebutuhan terhadap buku sebagai 'makanan' otak. Buku bagi mereka hanyalah sumber hafalan yang dibaca untuk ulangan atau ujian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka dengan kebiasaan itu. Rumah dan sekolah faktanya memang sama-sama tidak terlalu membangun iklim membaca, sehingga wajar anak-anak pun tak merasa perlu untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, mengingat harga buku juga tidak-lah terlalu murah. Mengingat tak semua keluarga punya anggaran cukup untuk beli buku. Mengingat, sebagian ibu juga masih tidak merasa perlu membaca buku, maka perpustakaan yang disediakan khusus untuk mereka akan sangat membantu dan mengedukasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana ini bukan sebuah kemusykilan. Siapapun bisa membuka taman bacaan/perpustakaan semacam ini asalkan mau. Mulai dari visi di atas, energi mudah-mudahan terkumpul. Meski dalam praktik dibutuhkan keseriusan para pengelola perpustakaan, namun coba saja dan coba saja memulainya. Biarkan hasilnya bergulir. Mudah-mudahan memberikan perubahan yang signifikan. Kita tak bisa hanya andalkan sekolah formal untuk pendidikan. Kita butuh gerak tambahan, sehingga rasa butuh akan ilmu pengetahuan  tumbuh dari dalam, bukan dari 'paksaan' eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-5704788387011930059?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/5704788387011930059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=5704788387011930059&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5704788387011930059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5704788387011930059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/07/perpustakaan-buat-para-ibu.html' title='Perpustakaan Buat Para Ibu'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-6984865767661706269</id><published>2011-05-22T17:28:00.000-07:00</published><updated>2011-05-22T21:23:05.975-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Rumah dan Basis Nilai</title><content type='html'>Ketidaksempurnaan adalah ciri dari makhluk, demikianlah halnya dengan manusia. Pendidikan, adalah salah satu upaya agar manusia menyempurnakan dirinya sehingga mencapai tingkatan yang lebih tinggi dalam berbagai segi, terutama sisi ruhani. Mengapa ruhani? Karena ruhani-lah yang kelak akan kembali kepada Rabb-nya, mempertanggungjawabkan semua amalan saat manusia hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pendidikan bukan hanya soal membuat anak tahu banyak hal atau terampil menguasai berbagai keterampilan, namun juga dipastikan memiliki pedoman sebagai basis nilai. Bagi seorang muslim sudah jelas, tak ada yang pedoman tertinggi kecuali Al Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang pengetahuan dari 'empat arah mata angin' kini menyerbu generasi anak-anak kita. Akan tetapi, bukankah tidak semua ilmu harus ditelan, sebagaimana tidak semua makanan yang Allah ciptakan di muka bumi ini boleh disantap semaunya. Sebagian ilmu cukup diketahui tapi tidak untuk dinikmati. Kalau kita tidak memiliki panduan, kita tak akan tahu mana kategori ilmu yang wajib diperdalam, mana yang tidak wajib, dan mana yang dilarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Euforia pengetahuan yang menyangkut edukasi terasa memang menumbuhkan optimisme pada banyak orang, tak terkecuali saya. Belajar dari buku-buku pendidikan yang kebanyakan berasal dari Barat banyak membuat saya tercengang, tercerahkan, sekaligus memunculkan sudut pandang baru yang membuat saya bisa melihat dengan jelas kekurangan-kekurangan yang ada pada pendidikan konvensional yang ada di negeri ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pencerahan itu saya peroleh, semilir ada kesadaran penting yang saya rasakan akhir-akhir ini, yaitu tentang NILAI. Semua orang pasti sudah tahu, tema pendidikan anak sangatlah krusial, sangat penting, amat sangat perlu dipelajari dan didalami. Namun seperti saya sampaikan di atas, bukan hanya soal mengajarkan pada anak-anak pengetahuan sebanyak-banyaknya atau keterampilan secanggih-canggihnya, melainkan juga stimulus agar anak-anak mampu melihat visi hidupnya di dunia ini berdasarkan nilai-nilai yang diajarkan Penciptanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, belajar jadi punya tujuan dan pelajaran pun dipilih sesuai kemashlahatan. Ilmu bertebaran di muka bumi ini. Internet menjadi perantara yang luar biasa menuju sumber-sumber ilmu. Namun, Al Quran mengajarkan satu hal penting tentang memilih, "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;font color="yellow"&gt;Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,&gt;" (Q.S Al Baqarah : 219)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hal yang diciptakan Allah SWT di dunia ini pasti ada manfaatnya, namun beberapa di antaranya ternyata LEBIH BESAR MADHARATNYA (KEBURUKAN/KESIA-SIAAN) DARIPADA MANFAATNYA. Itulah saya kira rambu-rambu bagi orang-orang mukmin untuk memilih apapun di tengah peluang mendapatkan segala sesuatu di dunia ini, termasuk tentang pelajaran apa yang penting buat anak-anak, dan mana yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih terus bermetamorfosis sebagai orang tua, dan doa saya untuk semua orang tua yang berniat ikhlas mendidik anak-anaknya untuk mencapai ridha Allah, "Semoga Allah Yang Maha Pengasih selalu menolong kita untuk selalu berada dalam petunjuk-Nya. Amin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-6984865767661706269?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/6984865767661706269/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=6984865767661706269&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6984865767661706269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6984865767661706269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/05/pendidikan-rumah-dan-basis-nilai.html' title='Pendidikan Rumah dan Basis Nilai'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-6042848329096317394</id><published>2011-05-19T22:06:00.000-07:00</published><updated>2011-05-20T01:38:25.694-07:00</updated><title type='text'>Lembaga Pendukung Homeschooling, Perlukah?</title><content type='html'>Tidak menyekolahkan anak di sekolah formal, yang kini terwadahi dengan sebuah istilah 'keren' homeschooling atau home-education memang gampang-gampang menantang. Gampang karena fleksibel (anak tak perlu didesak menguasai sebuah topik pelajaran ketika belum tertarik, juga mereka tak perlu harus stres ikut ujian manakala belum siap, serta anak bisa belajar di manapun mereka merasa nyaman, entah di kasur, di teras, di dapur, di rumah pohon, dll). Akan tetapi tantangannya dan juga idealnya, orang tua mau tak mau harus memiliki rancangan kasar 'kurikulum' (sesederhana apapun) untuk menunjang pendidikan di rumah. Kurikulum itu adalah pemandu arah sehingga pendidikan yang dilakukan punya tujuan yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panduan itu juga sekaligus bisa mengukur seberapa besar kapasitas orang tua, sehingga bisa menjadi pemandu dan mefasilitasi anak-anak pada bidang-bidang yang telah dirancang dalam kurikulum. Jika orang tua merasa tidak punya kapabilitas, tentu bukan alasan item kurikulum dihapus, tapi orang tua bisa gunakan guru yang ahli di bidang tersebut untuk mengajar anak-anak kita. Sebuah solusi sederhana yang menurut saya tak akan ada perdebatan. Bahkan anak-anak sekolah formal pun sering akhirnya memanggil guru atau ikut bimbingan belajar tambahan jika di sekolah anak-anak masih kurang mengerti pelajaran tertentu, dan juga pasti ikut kursus lain secara mandiri di luar untuk keterampilan-keterampilan yang tidak tersedia gurunya di sekolah. Prinsipnya begitu sederhana dan tidak ada yang aneh atau asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, saya hanya mengingatkan diri sendiri bahwa sangat-sangat wajar jika kebutuhan beberapa orang tua terhadap lembaga pendukung homeschooling itu ada. Bukan sebuah cela saya kira, ketika orang tua yang meng-homeschoolingkan anaknya untuk menggunakan jasa bimbingan belajar/lembaga pendukung yang menyediakan bahan-bahan ajar (modul) dan bahkan tenaga pengajar untuk membimbing anak-anak mereka. Hal itu adalah sebuah realitas sosial normal zaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, persoalan lain yang muncul dari lembaga pendukung ini adalah label homeschooling pada merek lembaga TANPA mencantumkan sub-nama penjelas lain yang membuat masyarakat jadi nyata jelas mengerti esensi lembaga tersebut. Misalnya saja bimbingan belajar (bimbel), meski yang diajarkan adalah sama-sama pelajaran sekolah, tapi nama mereka tidak pakai istilah sekolah, melainkan bimbel X, B, dll. Hal itu membuat masyarakat langsung mengerti perbedaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sayangnya, Lembaga Pendukung Homeshooling yang hari ini ada, tidak mencantumkan sub nama penjelas tersebut. Padahal ya, kalau mau memakai istilah Lembaga Pendukung Homeschooling dan dibuat singkatan LPH misalnya, hal itu akan menjadi lebih tepat-padan dengan esensi lembaga tersebut dan saya kira tidak akan mengurangi animo orang untuk daftar jika jasa yang ditawarkan memang dianggap penting dan bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa Pencantuman Sub-Nama itu Menjadi Penting?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apalah arti sebuah nama, mungkin begitu kata Sheakspeare. Namun tanpa sub-nama penjelas pada merek lembaga pendukung homeschooling terbukti membuat homeschooling jadi rancu dipahami masyarakat dan bisa berefek pada beberapa hal berikut ini:&lt;br /&gt;1. Karena tidak semua masyarakat mengetahui esensi homeschooling, maka penamaan homeschooling tanpa sub nama penjelas pada lembaga pendukung, membuat masyarakat menganggap bahwa homeschooling itu ya begitulah modelnya: HARUS daftar, HARUS bayar iuran bulanan, HARUS punya uang banyak, dll, tak beda dengan sekolah formal. Tentu akhirnya, orang-orang yang tertarik menjalankan homeschooling tapi tidak mampu secara biaya, menganggap homeschooling itu mustahil bagi mereka, dan menyerah kalah pada keadaan. Padahal homeschooling bisa dilakukan secara mandiri. Bukankah &lt;a href="http://bse.invir.com"&gt;&lt;font color="yellow"&gt;Buku Sekolah Elektronik&lt;/font&gt;&lt;/a&gt; kini digratiskan? Bukankah resource homeschooling berbahasa Inggris pun kini bertebaran di internet secara cuma-cuma? (&lt;a href="http://www.lessonpathways.com/"&gt;&lt;font color="yellow"&gt;Lesson Pathways&lt;/font&gt;&lt;/a&gt; misalnya. Dan orang tua yang merasa sanggup mengajar anaknya bisa memanfaatkan fasilitas tersebut dengan mengunduhnya dari internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Meski saya tak menafikan adanya kebutuhan lembaga pendukung pendidikan anak, namun tentunya haruslah dalam koridor mencerdaskan, bukan semata komersial. Tanpa kejelasan informasi tentang apa intisari homeschooling, maka sangat mungkin muncul lembaga-lembaga pendukung berlabel homeschooling yang bahkan pendirinya pun tidak mengerti apa itu homeschooling, memberikan layanan asal-asalan, karena hanya memanfaatkan ketidaktahuan orang tua saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu semua, jika praktisi/keluarga homeschooling butuh lembaga pendukung, saya kira siapapun tak akan bisa menghalangi mereka untuk mendaftarkan diri  ke lembaga tersebut jika hal itu benar-benar diperlukan dan dana yang tersedia memang memadai dan rasional untuk itu. Tentang untung-rugi, saya kira para orang tua zaman sekarang sudah cukup cakap untuk menilai, apakah jasa yang ditawarkan itu menguntungkan ataukah sebaliknya. Pastikan ada free trial untuk mencegah penyesalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun buat para owner Lembaga Pendukung Homeschooling: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Please&lt;/span&gt;, dengan segala kerendahan hati, saya sebagai orang tua homeschooler menyarankan, cantumkan sub nama penjelas Lembaga Pendukung atau apalah yang sekiranya tepat di depan Merek Lembaga Anda supaya masyarakat tercerdaskan soal istilah ini. Jangan sampai kita secara sengaja menyamarkan pengetahuan yang terang-benderang menjadi abu-abu untuk bangsa kita sendiri&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-6042848329096317394?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/6042848329096317394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=6042848329096317394&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6042848329096317394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6042848329096317394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/05/lembaga-pendukung-homeschooling.html' title='Lembaga Pendukung Homeschooling, Perlukah?'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-5078370577489641573</id><published>2011-04-10T20:57:00.000-07:00</published><updated>2011-04-17T06:34:28.043-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Mengangkat Kembali Nilai-Nilai Filosofis pada Permainan Tradisional (Bagian 2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-3-aPsQySidQ/TarsRdswx8I/AAAAAAAAA4c/OfkBkZQeASw/s1600/Picture%2B016-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 162px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-3-aPsQySidQ/TarsRdswx8I/AAAAAAAAA4c/OfkBkZQeASw/s200/Picture%2B016-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5596545271735568322" /&gt;&lt;/a&gt;Mencoba memenuhi janji, review hasil seminar saya lanjutkan kembali. Akan tetapi, sebelum saya masuk ke resume materi utama, saya ingin sekali membagi prinsip Kang Zaini yang sangat mencerahkan tentang mekanisme lomba anak-anak. Kang Zaini berprinsip bahwa lomba untuk anak-anak, apapun objek lombanya, sebaiknya tidak menciptakan kompetisi ketat, di mana juaranya begitu terbatas. Anak-anak sedang berada pada tahap belajar. Jika mereka menggambar, maka gambarnya (sejelek/sebagus apapun) adalah proses dan bukan hasil akhir. Penyematan juara pada segelintir anak dan tidak juara pada banyak peserta lainya hanya akan membentuk citra diri negatif terlalu dini pada diri mereka sendiri. Terlebih jika berkali-kali mereka ikut lomba dan tidak juara, maka bukan tidak mungkin akan menghapus semangat anak-anak untuk terus belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Zaini menyarankan, buatlah kategori juara sebanyak mungkin, sehingga (bahkan kalau mungkin) semua peserta menyandang juara pada berbagai kategori: misalnya jika lomba gambar, maka buatlah kategori terlucu, terfavorit, terkreatif, dan lain sebagainya. Jangan sampai penyelenggaraan lomba untuk anak-anak berikut penilaian juri-jurinya menjadi hanya sebuah kompetisi berebut piala, sehingga menafikan dan mengkerdilkan proses belajar yang justru lebih penting dari sekedar juara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menjadi Media Stimulasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain mengandung nilai-nilai filosofis sebagaimana telah disampaikan pada tulisan bagian pertama, permainan tradisional kalau diamati, ternyata memenuhi juga manfaat lain, di antaranya stimulasi fisik, emosi, dan sosial. Multiple intelegence yang dipopulerkan oleh Howard Gardner, yang kemudian diaplikasikan di sekolah-sekolah dengan berbagai alat stimulasi rekaan berharga mahal (kadang-kadang) sebenarya bisa dipenuhi dengan aneka permainan dan mainan tradisional berbahan baku benda-benda alam. Selain murah, juga ternyata jauh lebih aman, karena bebas dari unsur &lt;span style="font-style:italic;"&gt;toxic&lt;/span&gt; (racun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan tersebut di atas sekaligus membuat saya terkoneksi dengan pengetahuan sebelumya tetang alat-alat stimulasi. Dulu, di tengah-tengah membuncahnya pikiran tentang pentingnya stimulasi, saya terbentur dengan masalah lain, yaitu alat-alat stimulasi yang ternyata cukup mahal jika bahan-bahannya memenuhi kriteria aman bagi anak-anak. Balok-balok geometris dari kayu misalnya, kalau beli dari bahan kayu kualitas rendah dan cat kayu biasa (yang pastinya berbau dan ada unsur toxicnya) memang harganya cukup terjangkau, namun harga balok kayu berkualitas baik dan (katanya) aman bisa 2 atau 3 kali lipatnya. Belum lagi peralatan main dari jenis lainnya yang beragam, pastinya butuh dana yang tidak sedikit untuk sebuah proses stimulasi. Ibu-ibu yang kantongnya kering mungkin hanya bisa menelan ludah saja kalau tidak kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, apa yang disampaikan Kang Zaini benar-benar menyadarkan saya. Ilmu masa lalu dalam membuat alat-alat bermain dari bahan-bahan alam sebenarnya harta tak ternilai. Walaupun sekarang anak-anak saya sudah jauh melewati masa balita, namun pencerahan ini mudah-mudahan tersampaikan kepada keluarga lain yang masih punya anak balita. Jangan cemaskan ketiadaan alat stimulasi, cukup keluarkan ilmu-ilmu masa kecil kita dalam membuat mainan, maka anak-anak masa kini juga bisa menikmati proses stimulasi yang tak kalah hebat kualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa permainan yang saya kenal dan menurut hemat saya punya manfaat stimulasi yang luar biasa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Congklak, encrak, bola bekel (melatih kesabaran dan konsentrasi)&lt;br /&gt;b. Permainan kelompok seperti galah asin (untuk anak-anak usia 9 tahun ke atas - melatih kemampuan adaptasi sosial dan disiplin)&lt;br /&gt;c. Sondah mandah, bermain kelereng, gatrik, gasing(untuk stimulasi visual-spasial. &lt;br /&gt;d. Sapintrong, loncat tinggi, sondah mandah (untuk melatih kemampuan fisik dan kegigihan).&lt;br /&gt;e. Membuat mainan dari daun kelapa, jerami, ranting-ranting kayu, ataupun dedaunan (untuk melatih motorik halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bermain Tanah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentang bermain tanah. Meskipun selama ini saya memang menyengajakan agar anak-anak sering menyentuh tanah namun motivasinya lebih pada agar mereka memiliki pengalaman sensoris yang lengkap. Jangan sampai, mereka kehilangan kesempatan untuk bermain bebas di luar rumah. Kadang-kadang, ya masih juga ada larangan jika mereka sudah terlalu asyik :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, seperti disampaikan Kang Zaini, ternyata bermain tanah memberi efek lebih pada anak-anak selain motivasi saya di atas. Bermain tanah terutama tanah lempung memiliki manfaat yang sama dengan fungsi memainkan playdough. Bahkan di negara-negara Eropa, tanah liat katanya kini sudah menjadi penggati playdough(yang diduga memiliki kandungan racun berbahaya). Sebuah ironi tentu saja, di mana negara-negara maju mengganti playdough dengan tanah liat terbaik (dari Indonesia) tapi orang Indonesia justru berbangga-bangga memakai playdough dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang tua zaman dulu bahkan teryata menganjurkan agar anak-anak dibiarkan sesering mungkin bermain tanah. Hal itu bukan tanpa maksud. Tanah adalah simbol kehidupan, tempat manusia bermula dan berakhir.  Tanah juga adalah representasi dari karunia Allah atas manusia, di mana segala sesuatu yang menjadi kebutuhan manusia keluar darinya. Lebih jauh, tanah juga memiliki sifat-sifat menyerupai seorang ibu, sehingga muncul ungkapan dari para tetua, “Biarkan anak-anak bermain tanah supaya mereka jadi dekat dengan ibunya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dipikir-pikir , pernyataan tersebut  tidaklah berlebihan. Bayangkan saja, meski diinjak-injak setiap hari, dimasuki kotoran setiap beberapa jam, digali  untuk diambil bebatuan dan pasir-pasirnya, diterobos beribu-ribu ton alat berat untuk eksplorasi, namun  tanah pula-lah yang memberi kehidupan pada makhluk-makhluk yang hidup di permukaannya. Bukankah dari bumi-lah keluar berbagai tetumbuhan yang buahnya mampu mengenyangkan, bahan baku sandang sehingga kita bisa berpakaian, dan mengeluarkan pohon-pohon berkayu yang dengannnya manusia dan bahkan hewan bisa mendirikan tempat tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat bumi tersebut  tak ubahnya karakter seorang ibu. Meski bayinya menumpahkan kotoran di tubuhnya saban hari, membuatnya pusing karena kerewelannya, dan amat lelah karena memenuhi kebutuhannya, namun ibu tetap menyuapkan makanan pada anaknya, mengganti dan mencuci popoknya, dan memberi tempat tidur yang nyaman  setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bermain tanah, baik ditinjau dari sisi  kongkretnya (bumi) maupun nilai  filosofisnya (ibu) diharapkan anak-anak jadi memilki kedekatan emosional dengannya, tumbuh kecintaannya, tumbuh keinginan besar untuk menjaga dan merawatnya. Jadi, edukasi pada anak  tentang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;save the earth&lt;/span&gt; semestinya tidaklah harus bersusah payah”: Cukup ikuti nasihat para leluhur, “Biarkan anak-anak bermain tanah”  ^_^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian resume saya tentang materi Seminar Permainan Tradisional. Banyak hal lain yang mungkin terlewat. Tetapi jangan khawatir, kita bisa mencari tahu lebih jauh dengan mengunjungi 'markas' &lt;a href="http://kaulinanbudak.multiply.com"&gt;&lt;font color="black"&gt;Komunitas Hong&lt;/font&gt;&lt;/a&gt; di Jl. Bukit Pakar Utara 35 Dago Bandung. Yuk, belajar lagi permainan tradisional, dan temukan manfaatnya bagi pendidikan anak-anak kita!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-5078370577489641573?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/5078370577489641573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=5078370577489641573&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5078370577489641573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5078370577489641573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/04/mengangkat-kembali-nilai-nilai.html' title='Mengangkat Kembali Nilai-Nilai Filosofis pada Permainan Tradisional (Bagian 2)'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-3-aPsQySidQ/TarsRdswx8I/AAAAAAAAA4c/OfkBkZQeASw/s72-c/Picture%2B016-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-4195736931865013414</id><published>2011-04-05T23:58:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T21:02:02.881-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Mengangkat  Kembali Nilai-Nilai  Filosofis pada Permainan Tradisional (Bagian 1)</title><content type='html'>Alhamdulillah, saya bersyukur sekali, ketika saya begitu antusias memikirkan sesuatu, Allah juga menolong saya dengan "mengirimkan" teman-teman yang memiliki spirit yang sama. Bulan April 2011 ini saya memperoleh sesuatu yang begitu berharga melalui "Seminar Permainan Tradisional", yang diselenggarakan Temasek International School. Kang Muhammad Zaini Alif (dari komunitas Hong!), sebagai pembicara, benar-benar membuat saya terdorong untuk merealisasikan satu lagi item yang menurut saya penting, yaitu mengangkat kembali spirit permainan tradisional bagi anak-anak. Insya Allah akan saya buat dalam 2 bagian, karena terlalu banyaknya bahan yang harus dituliskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, saya memang pernah mencoba mengajarkan anak-anak permainan zaman dulu, ya minimal permainan yang saya ketahui (sebagai jejak masa kecil di kampung). Sudah pernah juga anak-anak saya dan teman-temannya di komplek perumahan kami diajak main bersama. Akan tetapi, praktiknya hanya seumur jagung. Lama-lama mereka menghilang, seiring melemahnya motivasi saya yang waktu itu belum terlalu jelas melihat manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis mengikuti seminar Kang Zaini, mata saya seperti dibukakan pada sebuah visi yang sangat luhur dari permainan tradisional, yang kini mulai ditinggalkan. Judulnya bolehlah 'permainan', tapi kandungan nilai filosofis dan edukasinya ternyata tidak main-main. Kang Zaini ternyata sudah melakukan penelitian mendalam terhadap berbagai permainan tradisional di Nusantara. Bukan hanya jenis dan variasinya yang digali, melainkan juga jejak historis dan nilai-nilai filosofis permainan tersebut. Subhanallah, sangat mengagumkan buat saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau pernah menulis buku kumpulan permainan hasil penelitian tersebut melalui proyek dana pemerintah, namun sayangnya tak terlacak jejak buku-buku tersebut ada di mana. Tapi kabar baiknya, beliau saat ini sedang berusaha menyusun kembali buku tersebut dengan banyak revisi dan akan diterbitkan untuk umum. Kalau belum ada penerbitnya, mudah-mudahan tulisan ini bisa menghantarkan dan menghubungkan. Bukankah naskah bermutu banyak ditunggu-tunggu para penerbit buku? ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke acara seminar. Buat saya ada beberapa hal yang menarik dari paparan Kang Zaini, berikut saya sarikan poin-poinnya. Mudah-mudahan juga akan menginspirasi teman-teman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Permainan anak tradisional di berbagai negara satu sama lain ternyata memiliki kemiripan. Perbedaannya mungkin lebih kepada model, variasi aturan permainan, nama, media yang dipergunakan. Akan tetapi, esensinya tetap sama. Hal ini memang memicu banyak pertanyaan, terutama bagi mereka yang tertarik dengan hubungan temuan arkeologis dengan proses penyebaran budaya serta ras manusia. Terlebih-lebih lagi, kini sedang ramai-ramainya dibahas penelitian mengenai The Lost Continent Atlantis, yang diduga justru berada di Indonesia. Apakah benar, peradaban negeri Atlantis yang hebat itu memang berada di Nusantara? Benarkah telah terjadi banjir besar pada suatu masa di ribuan tahun yang lalu, sehingga manusia terpecah-pecah ke berbagai benua dan melahirkan ras-ras yang masih mengadopsi kebudayaan dari negeri asalnya? Apakah itu juga penyebab dari kemiripan jenis permainan tradisional berbagai negara di dunia yang ada saat ini? Pe er buat kita ^_^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Setiap jenis permainan memiliki maksud tertentu, dan ternyata penuh dengan filosofi pendidikan. Misalnya saja pada permainan sondah mandah, dimana bidang permainan dibuat dalam bentuk bangun persegi beberapa kotak, dan diujungnya dibuat lingkaran besar. Menurut penelitian Kang Zaini, petak pertama media sondah adalah simbol dari bumi, sedangkan lingkaran besar di ujung adalah simbol dari surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan para pemain sondah untuk mencapai tahap demi tahap permainan adalah simbol dari usaha di dunia ini. Ketika seorang pemain gigih bekerja keras, maka ia pun sedikit demi sedikit akan mendapat bintang di salah satu petak. Bintang itu sendiri adalah simbol kenikmatan duniawi. Jika satu kotak sudah ditandai bintang oleh satu pemain, maka pemain lain tidak boleh menginjaknya, tapi harus melangkahinya. Hal itu adalah simbol dari aturan dalam menghormati hak milik seseorang di dunia ini. Semakin banyak seorang pemain mendapat bintang ia semakin santai, dan sebaliknya pemain yang bintangnya sedikit ia pasti kerepotan karena harus melangkahi banyak petak orang lain untuk berjalan (begitulah juga kehidupan di dunia nyata, bukan? :)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi lain yang tak kalah menarik adalah pada bintang yang diperoleh para pemain di lingkaran besar. Kalau pada petak permainan (dunia) para pemain dilarang meletakkan bintang di wilayah yang sudah dimiliki orang, namun berbeda dengan lingkaran di ujung itu (surga). Meskipun hanya satu area, tapi semua pemain boleh berbagi tempat meletakkan bintang di sana, tak peduli apakah pada petak permainan mereka punya banyak bintang (orang kaya) atau sedikit bintang (miskin). Sungguh filosofi yang menarik menurut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tahukah permainan paciwit-ciwit lutung? Entah di daerah lain selain Tatar Sunda bernama apa. Permainan itu adalah saling mencubit punggung tangan menumpuk ke atas. Lagu pengiringnya kalau di Tanah Sunda: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Paciwit ciwit lutung si lutung pindah ka tungtung (saling mencubit para lutung (monyet), si lutung pindah ke ujung).&lt;/span&gt; Maka tangan yang paling bawah akan pindah ke atas, mencubit tangan temannya yang lain. Begitulah terus-menerus sampai setiap tangan bergantian naik ke atas dan kemudian tergeser rotasi permainan kembali ke bawah, dst. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, permainan itu adalah juga simbol kehidupan dunia. Manusia itu tidak selamanya sengsara, dan tidak selamanya juga kaya raya; tidak selamanya mendapat berkah, tidak selamanya juga berada dalam kesusahan. Hal itu sepertinya untuk menyadarkan manusia agar tidak sombong saat berjaya, dan juga tidak merasa rendah diri dan putus asa saat kondisi materil tidak terlalu memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Permainan berikutnya adalah hompimpa. Lagu pengiringnya kurang lebih sebagai berikut, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hompimpa alai hom gambreng dst.&lt;/span&gt; Menurut Kang Zaini, kata 'hom' setelah ditelusuri dalam berbagai konteks bahasa memiliki makna yang hampir sama, yaitu Tuhan. Jadi, hompimpa alai hom, artinya dari Tuhan kembali kepada Tuhan (Ummat muslim mungkin mengenal istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;innalillahi wa inna ilaihi rajiuun&lt;/span&gt;. Jadi, permainan ini sesungguhnya mengajarkan tentang hakikat kehidupan manusia. Semua makhluk berasal dari Allah dan pasti akan kembali kepada Allah, tidak ada yang abadi. Kata 'gambreng!" artinya menyentak atau menyadarkan agar manusia ingat akan hakikat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang lebih menarik lagi adalah aturan permainan setelah hompimpa. Seingat saya, biasanya hompimpa dipakai sebagai undian dalam permainan ucing sumput (petak umpet), yaitu untuk menentukan siapa yang duluan sembunyi dan siapa yang kebagian mencari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam permainan petak umpet, pemain yang sudah ditemukan akan diseru, "Hong!"(sambil disebut namanya), maka ia harus keluar dan tidak boleh ke mana-mana. Ia harus berdiri di dekat orang yang menemukannya untuk melihat permainan berlangsung sampai semua pemain yang sembunyi ditemukan. Menurut Kang Zaini lagi, permainan tersebut adalah simbol, bahwa orang-orang yang bermain itu adalah manusia di dunia ini. Ketika mereka akhirnya ditemukan, itu artinya mereka sudah dipanggil kembali kepada Allah. Dan pekerjaan dia adalah menonton manusia lain yang masih sedang "bermain" di dunia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya kaitkan dengan beberapa ayat Al Quran, maka korelasinya menjadi begitu jelas, dan tentu saja jadi membuat saya juga merenung, apakah mungkin banjir besar pada zaman Atlantis (seperti di-klaim seorang peneliti)itu memang terkait dengan kisah Nabi Nuh A.S? Dan permainan-permainan zaman dulu itu memang dirancang oleh utusan Allah untuk mengajarkan anak-anak tentang hakikat kehidupan dan eksistensi Tuhan lewat permainan? Memang masih misteri, namun sulit dipercaya rasanya jika hanya orang biasa saja yang menciptakan permainan dengan kandungan nilai setinggi itu. Pastinya, siapapun dia/mereka, adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan makrifat yang luar biasa(hanya Allah Yang Maha Mengetahui).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Q.S Al Hadiid : 20)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;BERSAMBUNG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-4195736931865013414?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/4195736931865013414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=4195736931865013414&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4195736931865013414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4195736931865013414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/04/menghidupkan-kembali-permainan.html' title='Mengangkat  Kembali Nilai-Nilai  Filosofis pada Permainan Tradisional (Bagian 1)'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-1698174970628730568</id><published>2011-02-27T18:28:00.000-08:00</published><updated>2011-02-27T20:06:33.235-08:00</updated><title type='text'>Jangan Takut, Home-Education Bukanlah Musuh Sosialisasi</title><content type='html'>Sebenarnya ini topik lama yang pada masa-masa awal kami menjalani homeschooling (HS)/home-education (HE) sempat juga membuat kami khawatir. Terlebih lagi karena memang itulah bagian yang paling banyak di'pertanyakan' oleh mereka yang tidak sepakat dengan HS/HE. Pemula yang sedang membangun jati diri tentu saja bisa limbung dan mempertanyakan ulang keputusannya ber-HE. Akan tetapi saya bersyukur, justru dengan banyaknya benturan keraguan dari orang lain dan juga diri sendiri keputusan ber-HE menjadi semakin berargumentasi, bukan sekedar ikut-ikutan trend, bukan juga karena kekecewaan sesaat dan juga parsial terhadap pendidikan massal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan terakhir pertanyaan serupa kembali saya dengar dari 3 orang yang berbeda. Karena itulah saya jadi tertarik untuk merenung ulang dan menuliskannya. Saya sudah tak mempermasalahkan 'sosialisasi', namun ternyata tanpa sadar saya belum bisa menjabarkan secara definitif tentang hal ini bagi diri saya, terlebih-lebih lagi bagi orang lain yang penasaran mempertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi perlu digarisbawahi, tulisan ini bukan untuk membela HS dan menjelek-jelekkan sekolah. Ini hanyalah argumentasi terbalik dari asumsi bahwa &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HS/HE bisa menyebabkan anak tidak bisa bersosialisasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang dimaksud dengan sosialisasi adalah bertemu dengan banyak orang selain keluarganya maka tidaklah tepat jika anak homeschooling jadi tidak bisa bersosialisasi gara-gara tidak sekolah. Sesungguhnya mereka justru punya PELUANG lebih banyak untuk bersosialisasi dengan berbagai orang dari rentang usia yang heterogen (lebih muda, sebaya, dan bahkan lebih tua). Mengapa bisa begitu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkanlah, anak-anak HE tidak dihalangi jadwal belajar sekolah yang penuh selama seminggu. Pada saat anak-anak sekolah berada di kelas untuk menyimak guru-guru mengajar, anak-anak HE bisa memilih pergi ke berbagai tempat, dengan beragam orang, melakukan kegiatan yang bervariasi dengan orang-orang berbeda, berguru/belajar pada orang-orang yang berbeda dengan topik yang juga berbeda-beda sesuai minat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak HE bisa ikut kursus bahasa, kursus robot, latihan wall climbing, kursus masak, ikut kelas sains, musik, olah raga, atau mungkin juga ikut bantu orang tuanya jualan, dan kegiatan lainnya pada jam anak sekolah bersekolah. Pada setiap moment kegiatan-kegiatan tersebut bukankah anak-anak juga sebenarnya sama-sama bertemu banyak orang. Mereka bertemu guru dan teman-teman kursus atau latihannya, bertemu para pembeli (jika ikut jualan), dll. Bagaimana bisa anak HS/HE dikatakan tidak punya kesempatan bersosialisasi dengan kondisi seperti itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak semua para pelaku HS/HE memiliki jadwal bepergian atau belajar ke tempat-tempat yang jauh dengan banyak orang, namun jika mereka mau, semua itu sangat memungkinkan terjadi. Sama halnya dengan anak-anak sekolah yang setelah pulang punya pilihan yang semacam itu. Sebagian anak mungkin kelelahan dan memilih di rumah saja, namun sebagian kecil ada juga yang memilih ikut kegiatan ekstra di luar jam pelajaran dan bahkan di luar sekolah. Semuanya kembali pada pilihan anak dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan bahwa anak HS/HE tidak mampu bersosialisasi memang sering melekat pada awal-awal orang mendengar istilah homeschooling. Tidak salah juga sih sebenarnya, karena yang terbayang dari istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;homeschooling &lt;/span&gt;adalah kebalikan schooling secara mutlak. HS itu belajar di rumah saja dan yang ada di dalamnya hanya anak dan orang tua, sementara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;schooling &lt;/span&gt;berarti belajar di sebuah bangunan sekolah yang ada banyak anak-anak lain di dalamnya. Sedikit orang vs banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya pribadi, kalau sosialisasi itu sendiri lebih pada makna bertemu, berkegiatan, berbincang, berinteraksi, maka dalam soal belajar akademik tidaklah mesti harus begitu (walaupun bisa saja memilih demikian). Toh, pada dasarnya, anak-anak sekolah pun menyerap betul-betul pelajaran sekolah bukan pada saat guru menerangkan di sekolah, melainkan justru pada saat mereka sendirian di rumah, ketika mereka membaca ulang poin-poin pelajaran yang di sekolah hanya dikenalkan gambaran kasarnya karena keterbatasan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, khususnya bagi teman-teman yang berminat menjalankan HS/HE dan masih terbentur oleh ketakutan soal sosialisasi, yakinlah bahwa tidak bisa bersosialisasi bukanlah karena faktor HS atau sekolah, melainkan pilihan kita sendiri. Kita-lah yang akhirnya memutuskan, apakah akan mengajak anak bersosialisasi mengenal banyak orang atau hanya mengurungnya di rumah. HS/HE bukanlah halangan untuk mengenalkan anak-anak pada kehidupan sosial dan berinteraksi dengan manusia secara sehat. Insha Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-1698174970628730568?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/1698174970628730568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=1698174970628730568&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1698174970628730568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1698174970628730568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/02/jangan-takut-home-education-bukan-musuh.html' title='Jangan Takut, Home-Education Bukanlah Musuh Sosialisasi'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-5600674849009893357</id><published>2011-02-21T00:08:00.000-08:00</published><updated>2011-02-21T03:32:33.604-08:00</updated><title type='text'>Bijak  Memanfaatkan Teknologi</title><content type='html'>Saya pernah menulis tentang peluang belajar dengan memanfaatkan teknologi digital, dan itu tetaplah sebuah pilihan yang bagus jika tujuannya adalah kepraktisan dan dalam rangka menyambut zaman. Akan tetapi, belajar secara virtual tetap tidak bisa mengalahkan integrasi pengalaman nyata dengan benda-benda nyata. Tetap ada yang luput dari pembelajaran digital dibandingkan belajar dengan benda-benda kongkret dan kegiatan kongkret, yaitu terfungsikannya alat motorik karunia Allah SWT dan terlibatnya anak-anak dalam sebuah proses nyata yang ter-inderai secara menyeluruh dan bukan semata menekan'tombol-tombol' instan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba bersikap moderat dalam memilih alat belajar. Anak-anak kami di rumah tidak ditabukan dari teknologi digital tapi juga tak kami biarkan terlena dengannya. Menganggap teknologi hanya sebuah alat tentu berbeda dengan mereka yang menjadikannya tujuan. Jika penguasaan teknologi jadi tujuan atau output pendidikan maka tanpa sadar seseorang bisa dikendalikan oleh teknologi tanpa mampu bersikap kritis. Pesona teknologi memang mampu menjerat siapa saja pada penjelajahan tanpa batas, namun dengan mengenal tujuan hidup, tujuan penciptaan, manusia akan terlatih untuk 'waspada' dengan apa yang ditawarkan di depan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski zaman terus mengajak anak-anak untuk bergerak cepat dengan fasilitas teknologi yang kian canggih, namun saya berpendapat, pendidikan tetaplah sebuah proses panjang. Pendidikan bukan hanya tentang anak harus menguasai keterampilan A atau hafal pengetahuan C, pendidikan meliputi pemenuhan seluruh kebutuhan fisik dan ruhani anak-anak: kasih sayang, sikap mental yang positif, pengetahuan tentang dunia dan Penciptanya, sifat-sifat mulia, makanan yang sehat dan baik, dan aktivitas yang mampu membangun potensi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memainkan permainan bertani secara digital misalnya, meski dengan gambar-gambar yang menyerupai kenyataan, namun tetaplah permainan itu bukan sebuah kenyataan. Anak-anak melewatkan banyak fase yang di dunia nyata membutuhkan waktu dan kesabaran, dan justru itulah pelajaran berharga yang harusnya didapat anak-anak dari kegiatan bertani yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas lalu, interaksi intensif anak-anak dengan dunia digital mungkin tak terlalu menunjukkan dampak-dampak negatif yang mengkhawatirkan, namun dalam jangka panjang saya melihatnya tidak sederhana. Jiwa yang selalu tergoda serba cepat, impulsif, emosional, kurang peduli pada sekitar, adalah ancaman yang harus diwaspadai dari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;interaksi berlebihan &lt;/span&gt;anak-anak dengan perangkat digital, mainan digital, termasuk  juga aktivitas belajar digital. Dibalik kemudahan yang ditawarkannya, sekalipun untuk tujuan pendidikan,tetap saja kita harus bijak menggunakan teknologi. Dunia virtual dan dunia nyata, meski nampak punya kemiripan di antara keduanya, namun tetaplah berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-5600674849009893357?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/5600674849009893357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=5600674849009893357&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5600674849009893357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5600674849009893357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/02/bijak-memanfaatkan-teknologi.html' title='Bijak  Memanfaatkan Teknologi'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-8797228511280452260</id><published>2011-02-11T16:55:00.000-08:00</published><updated>2011-02-11T17:49:59.273-08:00</updated><title type='text'>Mengenalkan Kembali  Teknologi Lama</title><content type='html'>Berasal dari kampung mungkin juga ada pengaruhnya bagi saya dalam menentukan apa yang penting untuk anak-anak ketahui. Berkolaborasi dengan pengetahuan-pengetahuan baru setelah mulai berinteraksi dengan teman-teman aktivis lingkungan, bersinergi pula dengan minat besar terhadap dunia tumbuhan dan kesehatan alami, saya melihat bahwa banyak teknologi sederhana warisan orang-orang tua jaman dulu yang tak boleh dilupakan dan bahkan tetap harus dikenalkan pada generasi sekarang. Alasannya, karena teknologi 'jadoel' itu justru lebih ramah lingkungan, lebih bersahabat terhadap alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengomposan dengan cara paling murah, misalnya. Tak perlu bahan baku yang aneh-aneh, jika kita masih punya tanah kosong di halaman sekitar 1x1 meter, sampah organik bisa langsung ditampung pada lubang yang kita buat di sana. Setelah penuh bisa ditutup, menunggu sampai sempurna menjadi kompos dan kita buat lagi lubang dengan ukuran yang sama di area berbeda secara bergilir. dan kalau tak punya lahan kosong lagi, kita bisa memakai model sederhana lainnya seperti penggunaan keranjang takakura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga mulai kenalkan pada anak-anak 'spons' alami dari sabut kelapa. Dulu, ketika saya masih kecil, memang sabut kelapa-lah yang biasa dipakai mencuci piring, selain juga daun bambu yang diremas-remas. Mungkin dulu dipilih karena tak ada pilihan lain, namun sekarang, saya memlihnya karena sabut kelapa jauh lebih ramah lingkungan ketimbang spons busa buatan pabrik. Sabut kelapa akan terurai di tanah dengan mudah setelah jadi sampah, sedangkan spons busa butuh waktu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan minyak kelapa buatan sendiri. Banyak orang sekarang menjadikan minyak kelapa asli sebagai obat. Produk sudah diberi botol khusus dan merek. Di rumah, kita bisa membuatnya sendiri dan motivasinya sudah berbeda.Membuat minyak kelapa sendiri berarti akan mengurangi sampah plastik kemasan minyak goreng yang begitu cepat menumpuk dari minggu ke minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumbu masak, cukup gunakan bawang putih dan bawang merah sebagai penyedap masakan, ditambah daun-daun dan rimpang bumbu yang bisa kita tanam di pekarangan. Hal itu banyak mengurangi penumpukan sampah plastik kemasan dan juga sampah toxic dalam darah kita. Bukankah zat kimia dalam penyedap rasa juga tak terelakkan masuk ke dalam tubuh kita saat kita menyantapnya bersama makanan. Kalau anak-anak tidak dikenalkan pada bumbu-bumbu alami, pastinya mereka hanya akan tahu bumbu instan saja, yang memperolehnya cukup dengan memiliki uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanam sendiri beberapa jenis sayuran adalah program saya untuk anak-anak. Terkandung 2 pelajaran dalam kegiatan ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Anak-anak bisa belajar tentang esensi kebutuhan hidup. Kalau orang bekerja untuk mendapat uang dan uang dibelanjakan untuk membeli bahan makanan, maka mengapa harus mati-matian tanpa kenal waktu untuk mencari uang jika sebagian kebutuhan pokok bisa diproduksi sendiri (setidaknya mereka tidak lagi menjadi sangat bergantung pada ketersediaan uang untuk merasa hidup); &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Tentu saja tentang lebih sehatnya sayuran hasil tanam sendiri. Dengan menanam sendiri kita bisa memilih tidak memakai pestisida kimia dan juga pupuk buatan. Sebagaimana kita tahu, pestisida, walaubagaimanapun adalah racun dan pupuk kimia juga mengandung zat yang tidak alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenalkan dan mengkonsumsi obat-obatan alami dan mengurangi pemakaian obat kimia. Setiap kali di antara kami mengalami gejala sakit, saya selalu mendahulukan penggunaan obat dari tetumbuhan yang kami tanam atau obat-obatan herbal siap pakai untuk persediaan. Karena hampir 3 tahun lebih konsisten seperti itu, alhamdulillah anak-anak juga jadi terbiasa, dan sangat-sangat jarang dan malah nyaris tak pernah lagi bertemu dokter ketika sakit. Saya yakin hal itu juga dipengaruhi oleh sugesti positif mereka yang lambat laun tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target saya selanjutnya adalah mencoba memproduksi sabun, pasta gigi, dan sampho alami. Berharap, dengan begitu makin sedikit ketergantungan kami pada pabrik dan makin sedikit kami memproduksi sampah plastik yang jelas-jelas tak bisa diurai dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi lama, tak ada salahnya dibangunkan kembali. Dan yakinlah akan berguna dua kali lipat di zaman yang penuh masalah lingkungan seperti saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-8797228511280452260?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/8797228511280452260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=8797228511280452260&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8797228511280452260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8797228511280452260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/02/mengenalkan-kembali-teknologi-lama.html' title='Mengenalkan Kembali  Teknologi Lama'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-4438645859707555826</id><published>2011-02-08T18:25:00.000-08:00</published><updated>2011-02-08T21:56:54.044-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Pendidikan, Kompetisi, dan Pembuktian</title><content type='html'>Pendidikan adalah keseluruhan proses mempertahankan minat belajar (yang sejatinya sudah dimiliki anak-anak sejak lahir), menggali potensi, menanamkan nilai-nilai kebaikan, dan memberikan bekal keterampilan supaya akhirnya anak-anak mandiri dalam belajar. Lewat pendidikan berbasis rumah saya melihat proses itu paling memungkinkan terjadi untuk keluarga kami, yang  berkecimpung di bidang yang juga tidak terlalu formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya menjalani keputusan ini dengan banyak perdebatan, bukan dengan orang lain, tapi hakikatnya adalah dengan keyakinan-keyakinan saya sendiri. Jikapun akhirnya pergulatan pemikiran itu bersinggungan dengan pikiran orang lain yang berbeda atau mirip tapi beda esensi, nyatanya saat saya benar-benar yakin dengan konsekuensi pendidikan tanpa sekolah formal semua perdebatan dengan pihak-pihak yang menolak, mencibir, atau sekadar tidak setuju tidak lagi menarik untuk diteruskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa mengubah pikiran orang lain dan juga tidak punya hak untuk memaksa mereka setuju dengan apa yang saya pilih. Spirit pendidikan rumah adalah kemerdekaan dalam menentukan model pendidikan dan bukan tentang meng-klaim bahwa home-education, homeschooling, atau pendidikan informal adalah cara paling baik sehingga cara lainnya menjadi tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, begitu banyak contoh, di mana nasib manusia, perubahan manusia, tak pernah bisa diprediksi. Tak sedikit orang yang masa kecilnya 'berantakan' tapi di usia dewasa mampu jadi teladan. Sebaliknya, di masa kecil nampak hebat, namun saat usia kian lanjut, malah berubah mengecewakan. Poin pentingnya, selalu-lah menempatkan segalanya dalam bingkai kerendahan hati di hadapan Allah dan juga di hadapan makhluk-makhluk-Nya. Kita hanya berusaha sesuai pengetahuan yang kita yakini (namun belum tentu itu yang paling benar), adapun hasilnya? Bagaimana mungkin kita berani menyombongkan diri atas sesuatu yang kita sendiri belum mengetahuinya. Meskipun kita  punya harapan besar, namun masa depan anak-anak kita, tak pernah ada yang tahu akhirnya seperti apa. Kita hanya bisa berdoa untuk kebaikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kompetisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya menyadari, ada banyak hal yang masih menjadi misteri. Apakah sebenarnya manusia butuh iklim kompetisi untuk menjadi maju ataukah tidak? Menurut saya, kompetisi seringnya hanya menjadi alasan yang temporer dan tidak hakiki. Betapapun seringnya melihat negara yang berprestasi, jika suatu bangsa belum memiliki karakter yang memungkinkan kemajuan itu datang, maka dilombakan atau dikompetisikan sesering apapun hasilnya tak akan jauh berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi setelah mencoba mempelajari karakteristik pendidikan para nabi utusan Allah, saya menyimpulkan sementara ini, pendidikan bukan butuh kompetisi, melainkan semangat untuk menjadi lebih baik yang keluar dari kesadaran diri. Dan tidak ada semangat perbaikan yang paling hebat pengaruhnya bagi makhluk bumi kecuali semangat meningkatkan ilmu pengetahuan dan membina diri sehingga memiliki akhlak/kepribadian yang mulia. Saya yakin, spirit ini akan membuahkan kondisi yang berbeda dimanapun pendidikan dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pembuktian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah yang tanpa sadar menjadi tujuan kompetisi, namun bisa jadi juga sebenarnya tidak sepenuhnya bisa dijadikan acuan. Membuktikan bahwa para 'pemenang' kompetisi adalah yang terbaik dari sekian banyak orang kini makin sulit untuk dipercaya seratus persen. Pada zaman di mana uang berkuasa, popularitas jadi tujuan, manusia lebih melirik harta benda dan kehormatan semu dibandingkan kejujuran. Karena itulah,  mengandalkan kompetisi untuk membuktikan kehebatan seseorang tidaklah lagi terlampau relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah sarana untuk mengantarkan manusia pada kedudukan yang terus naik, bukan dalam pandangan materil (kendati hal itu mungkin juga hadir bersamaan), namun dalam parameter yang lebih tinggi yaitu nilai-nilai ilahi yang terbuktikan dalam keseharian kehidupannya, lewat perilakunya. Kemajuan di dunia materi bisa hancur kapan saja dengan kuasa Allah SWT, namun kemajuan kualitas jiwa akan membuat manusia tetap 'tumbuh' dan bahkan menjadi bekal yang bisa dituai saat manusia kembali pada Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahualam bishawwab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-4438645859707555826?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/4438645859707555826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=4438645859707555826&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4438645859707555826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4438645859707555826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/02/pendidikan-kompetisi-dan-pembuktian.html' title='Pendidikan, Kompetisi, dan Pembuktian'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-6152872825839428834</id><published>2011-01-28T01:19:00.000-08:00</published><updated>2011-01-28T01:50:31.572-08:00</updated><title type='text'>Heran</title><content type='html'>Menstimulasi anak-anak untuk menceritakan kembali sebuah cerita yang didengar atau dibaca dari buku memang membuat kita jadi tahu apa yang mereka serap. Tak jarang ada hal-hal konyol saat anak-anak ternyata mampu menemukan sisi yang tidak rasional dari sebuah cerita. Hal ini terjadi suatu sore di dapur rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luqman memeluk saya. Penyebabnya hanya sepele. Saya memberinya satu biskuit 'cadangan' yang paginya saya beli tanpa sepengetahuan dia. Dianggapnya sebagai surprise. Nampaknya itulah yang membuatnya berekspresi demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun memangkunya dan bilang, kalau kita qanaah (sekalian saya jelaskan apa itu qanaah) Allah seringkali memberi kita rejeki yang tidak kita sangka. Tapi kalau merengek, berarti kita selalu merasa tidak puas atau tidak qanaah. Akibatnya hati kita selalu saja kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian papanya menimpali, mengingatkan Luqman pada cerita yang mereka baca sebelumnya tentang Nabi Sulaeman. Luqman pun diminta untuk cerita. Mulailah ia bercerita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Sulaeman berniat memberi makan seluruh binatang di dunia, tapi Allah SWT mengingatkan bahwa Nabi Sulaeman tidak akan sanggup. Maka Nabi Sulaeman meminta, biarlah untuk satu hari saja. Dikumpulkanlah para jin dan bala tentaranya untuk memasak makanan di sebuah tempat yang sangat luas, yang jarak dari ujung ke ujungnya harus ditempuh selama satu bulan. Tak lama kemudian, datanglah satu ekor ikan besar, dan ternyata makanan yang tersedia itu langsung habis olehnya tanpa tersisa.Begitulah,  Luqman menyudahi ceritanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Out of Topic&lt;/span&gt;, tiba-tiba Luqman nyeletuk, "Tapi ada satu yang bikin Ade heran," katanya. Kami, saya dan papanya, serempak bertanya, "Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya kenapa ikan besar itu kok bisa naik ke darat?". Ha ha ha..... &lt;br /&gt;Tentunya, itu adalah pe er buat penulis bukunya. ^_^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-6152872825839428834?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/6152872825839428834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=6152872825839428834&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6152872825839428834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6152872825839428834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/01/heran.html' title='Heran'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-5393890749443618120</id><published>2011-01-20T01:29:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T02:22:08.831-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Minat  dan Toleransi</title><content type='html'>Mungkin tidak semua, karena saya belum pernah melakukan survey, namun dari beberapa kawan yang saya kenal, latar belakang pendidikan dan minat mereka (sebagai orang tua) tanpa sadar ikut mewarnai prioritas pelajaran yang 'harus' ditekuni anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang suka sains dan berlatarkan sains, mendorong anak-anaknya memperbanyak porsi sains; yang senang matematika, juga mengarahkan anak-anak menuju suka matematika; yang suka sastra memacu anaknya suka baca-tulis dan sedapat mungkin memacu anak mereka untuk mempublikasikan tulisan sedini mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan persoalan salah atau benar, namun menjadi cermin, bahwa apa yang menurut sebuah keluarga dianggap penting, maka belum tentu demikian juga di keluarga lain. Kita tidak bisa memaksa, baik secara implisit ataupun eksplisit, keluarga-keluarga di luar keluarga kita untuk menyenangi prioritas kita. Apalagi seolah menganggap bahwa minat yang kita geluti juga penting dikuasai oleh semua anak tanpa kecuali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memandang, semua itu hanyalah persoalan minat dan momentum. Setiap anak akan antusias belajar pada saat yang tepat, yang ternyata tidaklah sama antara satu anak dengan anak lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajarkan toleransi bisa berawal dari sini. Bukankah dunia ini menjadi ramai dan menyenangkan karena banyak keragaman. Menghargai keragaman, berarti membiarkan orang lain merdeka dengan ciri khas yang mereka miliki tanpa kita harus ikut-ikutan meniru orang lain hanya demi bisa diterima di tengah-tengah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, itulah ciri manusia independen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-5393890749443618120?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/5393890749443618120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=5393890749443618120&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5393890749443618120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5393890749443618120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2011/01/minat-dan-toleransi.html' title='Minat  dan Toleransi'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-353534554400752884</id><published>2010-12-31T17:42:00.000-08:00</published><updated>2010-12-31T19:24:51.821-08:00</updated><title type='text'>Belajar Menyulam</title><content type='html'>Mengawali tahun 2011. Bismillah. Ingin lebih banyak menulis, merekam banyak peristiwa kehidupan supaya pelajarannya bisa diambil. Salah satunya adalah kegiatan  anak-anak pada akhir Desember 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengalir. Mungkin agak tepat mewakili gambaran aktivitas belajar kami. Meskipun saya tak sepenuhnya setuju dengan kata 'mengalir' jika konotasinya tak tentu tujuan, namun mengalir  dengan membawa visi, jelas itu sangat menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TR6TIPHcVRI/AAAAAAAAA2A/vHmSqfFg6YA/s1600/IMG_4934copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TR6TIPHcVRI/AAAAAAAAA2A/vHmSqfFg6YA/s200/IMG_4934copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5557040759927756050" /&gt;&lt;/a&gt;Saya punya cita-cita, anak-anak tetap memiliki keterampilan 'klasik'seperti  menyulam, menjahit, menganyam, merajut, dan sejenisnya. Kini sedikit orang masih menganggapnya penting,namun bagi saya hal itu tetap dibutuhkan supaya peninggalan budaya tak punah begitu saja. Apalagi, sebenarnya menurut saya aktivitas semacam itu jauh lebih bermanfaat daripada anak-anak keluyuran tak tentu di luaran. Mudah-mudahan akan menjadi bekal  alternatif bagi anak-anak dalam melewatkan  masa remajanya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, perlahan-lahan, meski awalnya tak terlalu tertarik, Azkia dan Luqman mulai mau belajar menyulam. Nenek mereka yang sedang bersama kami menjadi sumber belajar yang penuh kasih sayang. Usai nenek mengajar anak-anak anggota perpustakaan yang juga antusias belajar menyulam, anak-anak kami mengambil sisa waktu setelahnya di saat senggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan klasik lainnya secara bertahap mudah-mudahan bisa juga mereka pelajari. Selain menjadi terapi kesabaran dan ketelitian, keterampilan klasik menurut saya bisa melembutkan jiwa, membuat anak-anak lebih terlatih mengontrol dirinya. Karena itulah, saya tak hanya menstimulus anak perempuan saya untuk mempelajari keterampilan ini, tapi juga anak laki-laki saya. Toh dia tetap tak kehilangan identitas gender-nya dengan melakukan kegiatan ini. Ia tetap bersepeda, memanjat, main bola. Keterampilan dipilah-pilah berdasarkan gender sudah bukan zamannya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan  semua usaha ini tak sia-sia. Dan kita semua tahu, pendidikan bukanlah pekerjaan yang setahun atau dua tahun bisa diperoleh hasilnya. Pendidikan adalah proses panjang. Semoga saya tetap konsisten. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-353534554400752884?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/353534554400752884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=353534554400752884&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/353534554400752884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/353534554400752884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/12/belajar-menyulam.html' title='Belajar Menyulam'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TR6TIPHcVRI/AAAAAAAAA2A/vHmSqfFg6YA/s72-c/IMG_4934copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-2047186675350788557</id><published>2010-12-22T05:55:00.000-08:00</published><updated>2010-12-22T06:38:11.486-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='portofolio HE'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Jalan Pagi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TRILXBfV4DI/AAAAAAAAA1Q/si7ygWw_at4/s1600/Picture%2B13067.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 164px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TRILXBfV4DI/AAAAAAAAA1Q/si7ygWw_at4/s200/Picture%2B13067.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553513780666032178" /&gt;&lt;/a&gt;Olah raga itu penting, karena itulah mungkin olah raga dijadikan salah satu mata pelajaran di sekolah. Sayang, semasa sekolah dulu saya dan sebagian besar teman-teman di kelas tidak terlalu menyukai pelajaran ini. Apalagi kalau jam pelajaran olah raga pas kebetulan di jam 10 ke atas, di mana matahari sudah mulai naik. Suasana jadi tak nyaman. Panas, itu sudah pasti. Berolah raga ya karena terpaksa takut nilai di rapor jadi jelek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu terjadi di masa lalu. Saat kini saya menjalankan pendidikan di rumah, di mana waktu beraktivitas  bisa diatur sendiri, maka jalan pagi adalah olah raga murah yang agak sering saya lakukan bersama anak-anak dibandingkan olah raga lainnya. Anak-anak memang akan bersepeda sampai siang baik ada ataupun tak ada acara jalan kaki. Namun saat jalan pagi adalah saat yang istimewa. Ketika itulah ada unsur rekreasi, belajar, menjauhkan pandangan untuk kesehatan mata, dan mencari benih-benih tumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TRIMa4r14YI/AAAAAAAAA1Y/KQgyKTBtTWE/s1600/Picture%2B13049.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 149px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TRIMa4r14YI/AAAAAAAAA1Y/KQgyKTBtTWE/s200/Picture%2B13049.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553514946533646722" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa acara jalan pagi kami tidak semua terekam di blog ini, tapi sekedar mengingatkan diri sendiri, hasil jalan pagi kini sudah terlihat. Azkia (8 tahun) sekarang jadi kuat berjalan jauh, begitu juga Luqman (6 tahun). Anak-anak juga jadi peka dengan tetumbuhan atau segala sesuatu yang unik di perjalanan. Selain itu, beberapa tanaman yang kami temukan benihnya di perjalanan, kini sudah mulai tumbuh. Ada pohon kersen yang benihnya kami ambil dari selokan; dahlia mulai berbunga, bunga &lt;a href="http://aggie-horticulture.tamu.edu/archives/parsons/flowers/cosmos/cosmos.html"&gt;&lt;font color="yellow"&gt;kenikir/cosmos&lt;/font&gt;&lt;/a&gt; 3 warna sudah mampu mengundang serangga bertamu ke pekarangan, tanaman tekokak dari selokan tumbuh tinggi hampir berbunga. Begitulah sepanjang tahun ini acara jalan pagi memberi manfaat buat kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TRIM_9iEbrI/AAAAAAAAA1o/m861gd9CGVE/s1600/Picture%2B13045.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TRIM_9iEbrI/AAAAAAAAA1o/m861gd9CGVE/s200/Picture%2B13045.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553515583489994418" /&gt;&lt;/a&gt;Catatan terbaru jalan pagi kami adalah tanggal 22 Desember 2010. Setelah berkali-kali menunjukkan tumbuhan yang akarnya berbau seperti balsam, saya ajak anak-anak mencabut tumbuhan itu di sepanjang jalan yang kami temui. Menunggu saat lapang saya ingin mencoba mengajak anak-anak 'meneliti' tanaman tersebut. Sungguhkah itu memang tanaman yang jadi bahan dasar balsam?? Bahkan saya juga penasaran ingin tahu ^_^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan pagi, meski melewati jalanan yang hampir sama, kami menemukan hal-hal baru yang berbeda. Karena itulah, akan coba kami pertahankan itu sebagai sarana belajar murah yang menyehatkan. Sekalian sebagai 'pelajaran; olah raga. ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-2047186675350788557?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/2047186675350788557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=2047186675350788557&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2047186675350788557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2047186675350788557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/12/jalan-pagi-dengan-banyak-guna.html' title='Jalan Pagi'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TRILXBfV4DI/AAAAAAAAA1Q/si7ygWw_at4/s72-c/Picture%2B13067.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-2676472214781846807</id><published>2010-12-20T02:47:00.000-08:00</published><updated>2010-12-20T03:49:57.647-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Mendekatkan Anak dengan Al Quran</title><content type='html'>Sebenarnya saya tidak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;pe de&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; menulis soal ini karena saya pun masih belajar untuk menghidupkan rumah dengan Al-Quran. Terlebih lagi dalam hal mempraktikkan akhlaq Quran, waah, jauh sekali! Saya masih belepotan. Akan tetapi, tentunya bukan berarti harus menyerah. Tetap saja kami sebagai seorang muslim berkewajiban untuk membuat anak-anak mengenal, tertarik, dan menyukai kitab sucinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain merutinkan belajar setiap ba'da Maghrib, saya coba menggunakan media-media lain, seperti buku, film, dan memasang kembali poster-poster yang bertemakan Al-Quran. Kumpulan poster berisi nama-nama surat dalam Al-Quran berikut artinya saya simpan juga di &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/13052045/namasuratdalamalquran.pdf.html"&gt;&lt;font color="yellow"&gt;sini&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;. Poster tersebut berukuran A4 dalam format PDF. Anda yang membutuhkan poster-poster tersebut bisa mengunduhnya tanpa meminta ijin terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar hafalan Quran dengan metode isyarat juga kami coba. Memang masih bolong-bolong, tapi kami tetap menyimpan niat untuk melanjutkannya. Insha Allah. Mudah-mudahan diberi kemudahan untuk konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling penting, tetaplah memiliki keinginan untuk dekat dengan Quran, walau tantangannya mungkin tak terbilang. Mudah-mudahan Allah SWT meneguhkan setiap niat baik dan memberi kita kekuatan untuk istiqomah mengusahakannya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-2676472214781846807?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/2676472214781846807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=2676472214781846807&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2676472214781846807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2676472214781846807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/12/mendekatkan-anak-dengan-al-quran.html' title='Mendekatkan Anak dengan Al Quran'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-1116529925916554626</id><published>2010-12-12T04:52:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T05:48:42.773-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='portofolio HE'/><title type='text'>Menonton Film bersama YPBB dan Museum Care</title><content type='html'>Minggu, 12 Desember 2010. &lt;a href="http://ypbbblog.blogspot.com/"&gt;&lt;font color="yellow"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;YPBB&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt; (Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi) bekerja sama dengan Museum Care dan Museum Geologi menyelenggarakan acara yang bertajuk Markinon (Mari kita nonton), dan menayangkan film dokumenter berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Addicted to Plastic: The Rice and Demise of The Modern Miracle&lt;/span&gt;. Kami sekeluarga menghadiri acara tersebut, sekalian bertemu teman-teman sesama praktisi Home-Education(HE).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memang terlambat datang, tapi sekilas pada scene-scene terakhir alhamdulillah ada pesan yang bisa kami tangkap. Film ini menjelaskan tentang zat-zat apa saja yang terkandung dalam plastik dan prediksi-prediksi jika plastik akhirnya dibuang menjadi sampah, baik ketika tertimbun tanah maupun dibakar. Zat-zat beracun yang terkandung di dalamnya bisa mencemari lingkungan. Jika zat itu ikut larut dalam makanan/minuman yang kita konsumsi atau asap hasil pembakarannya terhirup, dampak bagi tubuh manusia juga ternyata tidak main-main. Beberapa di antara akibat racun plastik adalah kemandulan bagi pria dan memicu munculnya sel kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini secara umum bertujuan agar kita jadi lebih bijak menggunakan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Sekalipun dalam banyak hal kita membutuhkannya namun sesungguhnya tetap memiliki alternatif lain untuk mengurangi jumlahnya. Misalnya saja:&lt;br /&gt;1. Kita bisa mengurangi pembelian minuman dan makanan yang memakai kemasan plastik sekali pakai dan menggantinya dengan wadah yang bisa dipakai secara berulang. &lt;br /&gt;2. Kita bisa mengurangi penggunaan kresek dan membawa tas belanja sendiri dari rumah.&lt;br /&gt;3. Kita bisa mendaur atau memakai ulang beberapa sampah anorganik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu sindiran kecil di bagian akhir film itu, "Yang paling banyak menghasilkan sampah adalah orang-orang kaya (baca: berpenghasilan cukup tinggi dan menjadi konsumen produk-produk instan), namun yang menerima dampaknya adalah orang-orang miskin yang tinggal di sekitar TPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait pendidikan rumah, buat saya pengetahuan dan pembiasaan hidup pro lingkungan adalah pe er buat kami. Sedang terus belajar untuk bergaya hidup zero waste dan menularkannya sejengkal demi sejengkal dengan cara yang kami bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berterima kasih kepada YPBB dan Museum Care serta Museum Geologi yang sudah menyelenggarakan acara ini. Berharap mendapat copy film-nya untuk diputar di lingkungan komplek kami, minimal oleh anak-anak member perpustakaan ^_^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-1116529925916554626?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/1116529925916554626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=1116529925916554626&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1116529925916554626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1116529925916554626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/12/menonton-film-bersama-ypbb-dan-museum.html' title='Menonton Film bersama YPBB dan Museum Care'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-6626970900740591350</id><published>2010-11-23T17:40:00.000-08:00</published><updated>2010-11-23T18:40:46.090-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Buletin: Sarana Murah Menyebarluaskan Pengetahuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOx1Ma712AI/AAAAAAAAA0M/D7IKMNI3jnc/s1600/Picture%2B007.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 138px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOx1Ma712AI/AAAAAAAAA0M/D7IKMNI3jnc/s200/Picture%2B007.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542934097635432450" /&gt;&lt;/a&gt;Ada ketimpangan pengetahuan dan informasi antara anak-anak kota dan desa. Harus diakui, di kota kita lebih mudah menemukan sumber-sumber pembelajaran dibandingkan di desa. Bahkan di daerah dengan perbedaan jarak 1 atau 2 jam perjalanan saja dari kota, kita akan temukan 2 hal yang tidak setara. Kota kecil tidak punya toko buku dan juga sulit ditemukan bahkan juga kios-kios buku bekas di sana, sedang di kota yang lebih besar kita bisa temukan dengan mudah buku-buku bagus dengan harga diskon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran internet yang mampu menjadi gudang informasi sesungguhnya kini bisa mengentaskan ketimpangan itu. Akan tetapi, ternyata masih sedikit keluarga dan anak-anak yang terakses dengan internet di daerah pinggiran. Jika pun mereka melakukan aktivitas virtual, kebanyakan masih pada taraf penjelajahan tanpa arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOx3oFhzH0I/AAAAAAAAA0c/FkzHM6uNtAA/s1600/Picture%2B008.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOx3oFhzH0I/AAAAAAAAA0c/FkzHM6uNtAA/s200/Picture%2B008.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542936771948650306" /&gt;&lt;/a&gt;Karena itulah, melalui perpustakaan, saya terpikir untuk kembali melakukan hobi lama, yaitu membuat buletin 8 halaman. Salah satu tujuannya adalah untuk 'membumikan' informasi-informasi dari dunia virtual yang mungkin tidak bisa terakses oleh semua anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan buletin tidaklah terlalu sulit, cukup dengan layout sederhana, menggunakan printer skala rumah, lalu diperbanyak dengan foto copy. Namun saya percaya manfaatnya dalam jangka panjang jauh lebih besar daripada biaya alakadarnya yang kita sisihkan. Buletin, dengan jumlah halaman yang sedikit lebih mengundang rasa ingin membaca ketimbang lembaran buku tebal. Jika isinya benar-benar dibuat berkualitas, maka kelebihan format buletin bisa menjadi daya dorong minat anak-anak pada ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbitan perdana, 24 November 2010. Naskah masih assembling dan masih saya yang mengisi rubrik. Secara bertahap, Azkia dan juga teman-temannya akan saya coba stimulus untuk mengisi buletin ini, terutama untuk tulisan imajinatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan langkah ini bisa terus berlanjut. Bagi para pembaca yang punya sumber daya memadai, mungkin juga bisa melakukan hal yang sama. Mengeluh dengan sistem pendidikan yang kurang memuaskan pasti tak akan pernah ada habisnya. Lebih baik kita ciptakan kepingan-kepingan solusi sesuai kapasitas kita masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam pendidikan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-6626970900740591350?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/6626970900740591350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=6626970900740591350&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6626970900740591350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6626970900740591350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/11/buletin-sarana-menumbuhkan-minat-baca.html' title='Buletin: Sarana Murah Menyebarluaskan Pengetahuan'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOx1Ma712AI/AAAAAAAAA0M/D7IKMNI3jnc/s72-c/Picture%2B007.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3512849354430248643</id><published>2010-11-14T07:12:00.000-08:00</published><updated>2010-11-14T08:46:43.157-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kreativitas'/><title type='text'>Recycling Day di  Perpustakaan Kami</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOANOg_j-WI/AAAAAAAAAzU/PqGLWKdcGZM/s1600/IMG_4692.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOANOg_j-WI/AAAAAAAAAzU/PqGLWKdcGZM/s200/IMG_4692.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539442084691573090" /&gt;&lt;/a&gt;Tulisan ini saya anggap sebagai portofolio kegiatan anak-anak saya bersama teman-temannya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;member &lt;/span&gt;taman bacaan. Setelah lama ingin membuat acara rutin di luar kegiatan meminjam dan mengembalikan buku, akhirnya kesampaian juga niat itu Sabtu, 13 November 2010. Alhamdulillah. Walaupun saya sedang melawan flu, melihat anak-anak bersemangat, jadinya ketularan ikut bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena projek belum selesai seluruhnya sampai jam 5 sore, acara &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;recycle &lt;/span&gt;kertas bekas ini pun setuju dilanjut pada keesokan harinya. Lewat kegiatan perdana ini saya juga jadi belajar bagaimana mengajar dengan teknik yang efisien, mudah dimengerti, dan mudah pula dipraktikkan anak-anak. Tentunya masih belum maksimal, tapi luar biasa senang karena punya kesempatan untuk melatihnya lewat kegiatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOAAqVIPgaI/AAAAAAAAAys/x1gdlngn0bU/s1600/IMG_4699.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;"src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOAAqVIPgaI/AAAAAAAAAys/x1gdlngn0bU/s200/IMG_4699.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539428268891931042" /&gt;&lt;/a&gt;Target jangka pendek, anak-anak harus merasa mampu. Karena itulah latihan awal diusahakan berupa benda yang paling mudah dibuat, dan tuntas minimal 1 masing-masing. Dan anak-anak berhasil membuat tempat pensil duduk dari kotak bekas minuman, dikombinasikan dengan kepangan kertas koran. Karya mereka bisa dibawa pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target jangka panjang, anak-anak jadi kreatif memanfaatkan barang-barang bekas yang biasanya hanya menjadi sampah. Mereka jadi kelompok anak-anak yang peduli lingkungan. Duh, sungguh harapan yang mungkin terlampau tinggi. Semoga diberi anugerah untuk istiqomah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari ke-2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 14 November 2010, pukul 10-an anak-anak datang lagi dengan formasi yang sedikit berbeda dengan hari sebelumnya. Kali ini mereka membawa berbagai macam kotak bekas, dari mulai kotak bekas pasta gigi sampai kardus bekas minuman ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya mereka memiliki goal, saya coba tanyakan, apa yang paling ingin mereka buat. Ups! Ternyata jawabannya hampir seragam, kotak pensil yang ada tutupnya, yang bisa dibawa ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun mereka harus melipat kertas bahan anyaman sebanyak 30 buah, ternyata dengan membuat goal, mereka begitu pantang untuk menyerah. Berkali-kali saya tanya, "Sudah capek? Belum menyerah?". Jawabannya tetap sama, "Belum! Nggak akan menyerah!". Salut juga. Meskipun tetap masih belum rampung semuanya, karena hari sudah gelap mau hujan, tapi sudah ada juga yang dihasilkan. Coba saja lihat suasana dan ekspresi wajah anak-anak yang begitu antusias, fokus. Nggak nyangka, awal &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;recycling day&lt;/span&gt; menyenangkan. ^_^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOAEQnqxVOI/AAAAAAAAAy0/Uw-ocjVsoFg/s1600/IMG_4698.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOAEQnqxVOI/AAAAAAAAAy0/Uw-ocjVsoFg/s200/IMG_4698.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539432225238504674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOAFYYFleJI/AAAAAAAAAzM/4QThM-nmBhE/s1600/IMG_4708.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 145px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOAFYYFleJI/AAAAAAAAAzM/4QThM-nmBhE/s200/IMG_4708.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539433458006587538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOAE-7Ii-WI/AAAAAAAAAzE/KZF3qzUU8W0/s1600/IMG_4701.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOAE-7Ii-WI/AAAAAAAAAzE/KZF3qzUU8W0/s200/IMG_4701.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539433020737648994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sampai menjelang pulang sisa rasa pensaran masih nampak. Maka saya ijinkan mereka membawa bahan-bahan yang diperlukan, seperti lem lilin dan pewarna, supaya projeknya bisa mereka lanjutkan di rumah. Seminggu sekali nampaknya akan kurang pada tahap awal ini. ^_^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3512849354430248643?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3512849354430248643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3512849354430248643&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3512849354430248643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3512849354430248643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/11/recycle-day-di-perpustakaan-kami.html' title='Recycling Day di  Perpustakaan Kami'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TOANOg_j-WI/AAAAAAAAAzU/PqGLWKdcGZM/s72-c/IMG_4692.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-6511562650272944355</id><published>2010-11-11T21:05:00.000-08:00</published><updated>2010-11-11T23:06:59.889-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kreativitas'/><title type='text'>Mengolah Kertas Bekas Menjadi Barang Berguna</title><content type='html'>Mengolah kertas bekas menjadi barang yang berguna. Ide tersebut sudah lama bersemi. Makin berkembang setelah membeli buku kreativitas berikut ini dan ikut acara ibu PKK RW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzQ_EVTDXI/AAAAAAAAAxs/44VnChDBDBQ/s1600/Picture%2B009.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzQ_EVTDXI/AAAAAAAAAxs/44VnChDBDBQ/s200/Picture%2B009.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538531423672274290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;search &lt;/span&gt; di google, ternyata sudah banyak yang mengaplikasikan ide Pak Rubiyar ini. Bahkan tak sedikit yang bisa menjadi lahan pekerjaan, membangkitkan ekonomi kerakyatan. Salah satunya bisa dilihat di sini &lt;a href="http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/usaha-kecil-dan-menengah/22298-karya-seni-bernilai-tinggi-d"&gt;&lt;font color="yellow"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;www.suaramedia.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami di rumah juga telah mencoba menggabungkan inspirasi dari buku Kreasi Kertas Koran ini  dengan kreativitas kami sendiri. Mau melihat hasilnya? Ini dia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzULhQd2PI/AAAAAAAAAx0/vfGW4aobW-Q/s1600/IMG_4572.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 151px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzULhQd2PI/AAAAAAAAAx0/vfGW4aobW-Q/s200/IMG_4572.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538534936129951986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzVucJOLZI/AAAAAAAAAx8/QAVfYzzqsis/s1600/IMG_4571.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 165px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzVucJOLZI/AAAAAAAAAx8/QAVfYzzqsis/s200/IMG_4571.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538536635564436882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzcejUz9uI/AAAAAAAAAyM/szybHcPRP8U/s1600/IMG_2512.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 153px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzcejUz9uI/AAAAAAAAAyM/szybHcPRP8U/s200/IMG_2512.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538544059195586274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzc-qh-qMI/AAAAAAAAAyU/gzqjmEgq4qA/s1600/IMG_2509.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 166px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzc-qh-qMI/AAAAAAAAAyU/gzqjmEgq4qA/s200/IMG_2509.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538544610885675202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzg0tYJH9I/AAAAAAAAAyc/nNItyRd-Jio/s1600/IMG_2508.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 86px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzg0tYJH9I/AAAAAAAAAyc/nNItyRd-Jio/s200/IMG_2508.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538548837897543634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzjX_yqspI/AAAAAAAAAyk/84UhXgT7BV8/s1600/IMG_2787.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 160px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzjX_yqspI/AAAAAAAAAyk/84UhXgT7BV8/s200/IMG_2787.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538551643159310994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik dasarnya adalah melipat kertas bekas (baik HVS ataupun koran) menjadi lipatan memanjang sehingga mirip dengan irisan bambu tipis yang biasa dipakai sebagai bahan baku anyaman, melinting koran sehingga menyerupai tali tambang, membuat kepangan seperti kepangan rambut (bisa dengan 3 helai atau 4 helai kertas yang sudah digunting seperti pita lebar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan pendukung selain kertas bekas sangatlah sederhana. Hanya berupa lem putih FOX (supaya lebih kuat), lem tembak (glue gun), dan pewarna makanan atau pelitur berbahan campuran air. Alatnya cukup gunting dan kuas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak benda bisa dibuat dari bahan kertas bekas ini. Secara bertahap insha Allah saya share di blog ini untuk bahan membuat prakarya bersama anak-anak. ATAU silakan beli buku Pak Rubiyar. Kreativitas lainnya akan mengalir dengan sendirinya. ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-6511562650272944355?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/6511562650272944355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=6511562650272944355&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6511562650272944355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6511562650272944355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/11/mengolah-kertas-bekas-menjadi-barang.html' title='Mengolah Kertas Bekas Menjadi Barang Berguna'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TNzQ_EVTDXI/AAAAAAAAAxs/44VnChDBDBQ/s72-c/Picture%2B009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-5601945585629251221</id><published>2010-10-28T21:54:00.000-07:00</published><updated>2010-11-08T21:35:56.959-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Belajar Sejarah Lewat  Film dan Buku</title><content type='html'>Pelajaran sejarah biasanya kurang diminati anak-anak, terlebih sejarah nasional. Sejarah seolah identik dengan kesan membosankan, penuh dengan hafalan, dan banyak lagi alasan lainnya. Padahal sejarah adalah salah satu media agar anak-anak belajar dari peristiwa di masa lalu, menelusuri benang merah peradaban yang membentuk jati diri bangsanya ataupun keyakinannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, kami pun sedikit ragu, jangan-jangan anak-anak kami juga sulit menyukai sejarah, apalagi mereka tidak bersekolah formal. Akan tetapi, saya cukup terpana, ketika kami mencoba memulainya dari film.Beberapa waktu lalu, kami mengunduh film Tjut Njak Dhien di &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=POhcNIvY6kY&amp;p=D0A8FDAECBD2E33E&amp;playnext=1&amp;index=1.html"&gt;&lt;font color="red"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;, dan menontonnya bersama anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan filmnya memang sedikit mengandung unsur kekerasan, tapi dengan pendampingan dan penjelasan pada bagian tersebut, efek negatifnya bisa diantisipasi. Bagaimana kami tahu intisari film itu yang mereka cerna dan bukan adegan kekerasannya? Karena kami mengajak mereka mengobrol, menceritakan ulang, dan mendiskusikannya. Dan alhamdulillah, mereka ternyata mampu mencerna semuanya sesuai harapan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu? Beruntung kami juga menemukan buku serial pahlawan yang ditulis dengan gaya populer, terbitan Bee Media Indonesia. Salah satunya adalah seri tentang Cut Nyak Dien dan Teuku Umar. Buku tersebut menjadi penguat data dan mampu membuat rasa kesejarahan lebih nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar sejarah tidak lagi menjadi masalah. Anak-anak menyukainya sebagai bagian yang perlu diketahui. Buat saya, hal itu sudah cukup menyenangkan. Karena jika minat belajar sudah tumbuh, anak-anak akan mencari tahu sendiri bahan-bahan yang ingin mereka ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Pendidikan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/346/CAFF8B9783868ABFA013EED4E51F56A6.png" style="border: 0 !important; background: transparent;"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-5601945585629251221?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/5601945585629251221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=5601945585629251221&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5601945585629251221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5601945585629251221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/10/belajar-sejarah-lewat-film-dan-buku.html' title='Belajar Sejarah Lewat  Film dan Buku'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-4452871467059698630</id><published>2010-10-25T20:18:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:55:16.062-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intermezzo'/><title type='text'>Bertenda di Kebun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TMZLkxoUH0I/AAAAAAAAAxY/UPx0kso93oU/s1600/IMG_4540.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 191px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TMZLkxoUH0I/AAAAAAAAAxY/UPx0kso93oU/s200/IMG_4540.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532192287441035074" /&gt;&lt;/a&gt;Ide selintasan yang bikin ceria anak-anak hari ini. Awalnya kami melakukan 2 hal berbeda. Anak-anak tergoda menjadikan kain sprei yang dijemur dipagar sebagai tenda mainan, sedangkan saya meratakan tanah di sekitar pohon kersen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups! Saya juga melihat banyak batang singkong menganggur tergeletak. Dua ide pun bersambungan.Saya ajak anak-anak pasang tenda di tanah yang sudah saya ratakan. Perlengkapan alakadarnya. Hanya dibutuhkan 2 batang singkong yang bercabang ujungnya sebagai tiang. Tiang darurat itu pun dipasang di dua tempat. Lalu Luqman melintangkan sebatang bambu bekas rambatan kacang panjang di atasnya. Ikat dengan tali biar kuat. Bentangkan kain terpal biru yang ada digudang, pancangkan pasak. Jadi deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TMZM0XSS4uI/AAAAAAAAAxg/M2ecHoFSyzE/s1600/IMG_4538.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 189px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TMZM0XSS4uI/AAAAAAAAAxg/M2ecHoFSyzE/s200/IMG_4538.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532193654758892258" /&gt;&lt;/a&gt;Luqman yang memalu pasak dari sisa batang singkong. Semangat sekali. Membuat tenda berdiri tak lebih dari 15 menit. Setelah karpet karet dipasang, mereka bisa asyik baca buku di bawah naungan tenda biru, bertiangkan batang singkong. Have a nice day, Kids! Bersyukur kalian bisa bersenang-senang dengan sesuatu alakadarnya, murah tapi meriah.^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-4452871467059698630?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/4452871467059698630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=4452871467059698630&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4452871467059698630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4452871467059698630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/10/bertenda-di-kebun.html' title='Bertenda di Kebun'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TMZLkxoUH0I/AAAAAAAAAxY/UPx0kso93oU/s72-c/IMG_4540.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-5945735829134759347</id><published>2010-09-30T03:45:00.001-07:00</published><updated>2010-11-16T03:23:07.232-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Pengajaran Digital atau Manual?</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jika kita tidak memanfaatkan sepenuhnya komunikasi elektronik dalam pendidikan, kita akan seperti nenek moyang kita yang gagal menggunakan alfabet, menolak mencetak buku, atau masih menggosok-gosokkan batang kayu untuk menciptakan api" (Revolusi Cara Belajar, Gordon Dryden &amp; Jeanette Vos:93)&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan di atas mungkin terlihat sangat kontroversial. Dimuat dalam sebuah buku yang terbit dalam bahasa Inggris tahun 1999, tentunya menjadi catatan tersendiri. Karena kenyataannya dunia komunikasi elektronik pada 11 tahun setelah buku itu terbit, yaitu saat ini, memang sudah sebegitu meluas jangkauannya. Tak terelakkan, kita semua tersentuh kemajuan teknologi tersebut. Akan tetapi, akankah kalimat sarkastis itu benar-benar sebegitu meyakinkan bisa terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari terakhir ini saya memang sering memikirkan tentang mana yang lebih penting didahulukan bagi anak-anak, mengenal dunia digital dan memperdalamnya sejak dini ataukah lebih dulu mengajak mereka mengeksplorasi dunia nyata? Kesimpulan saya, dua-duanya bisa berjalan beriringan. Meski saya tetap melihat interaksi dengan dunia nyata perlu diperbanyak porsinya, namun saya anggap kedua-duanya adalah penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia digital memang akan selalu menunggu sambil dia maju, tapi jika terlalu ekstrim untuk tidak mengenalkan anak-anak pada teknologi digital, maka beberapa manfaat edukatif bermediakan alat ini tentu menjadi luput. Jika tujuannya untuk edukasi, mengapa tidak? Bukankah tanpa disadari, anak-anak sebenarnya tetap akan bersentuhan dengan dunia elektronik dan digital dalam kehidupan sehari-hari, minimalnya dengan alat paling sederhana yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handphone&lt;/span&gt; (meski hanya 'mengoprek' HP milik orang tuanya) atau televisi. Apa yang mereka akses atau lakukan dengan alat-alat tersebut? Tanpa panduan pastinya bisa segala hal (baik negatif maupun positif) mereka terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting menurut saya adalah: (1) Porsi yang seimbang antara belajar di dunia nyata dengan belajar secara digital dan bahkan virtual. Hal ini tak hanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;warning &lt;/span&gt;untuk anak-anak tapi juga orang dewasa. (2) Pendampingan orang tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang pernyataan Dryden dan Vos di atas, tentunya hanya perjalanan waktu yang bisa membuktikannya. Setuju atau tidak setuju dengan pernyataan tersebut, pada akhirnya kita tidak akan bisa memaksa orang lain memilih jalan yang kita tempuh. Setiap orang akan mengambil pilihan yang paling sesuai dengan keyakinannya masing-masing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-5945735829134759347?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/5945735829134759347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=5945735829134759347&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5945735829134759347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5945735829134759347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/09/pengajaran-digital-atau-manual.html' title='Pengajaran Digital atau Manual?'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-1500485450178288032</id><published>2010-09-28T05:43:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:56:55.212-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Menangkap Kupu-Kupu Lagi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TKHmP2iOOqI/AAAAAAAAAw4/W-JgCGAqrrU/s1600/IMG_4005.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 173px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TKHmP2iOOqI/AAAAAAAAAw4/W-JgCGAqrrU/s200/IMG_4005.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521947778144418466" /&gt;&lt;/a&gt;Dulu saya pernah memposting tulisan berjudul, &lt;a href="http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/01/mengejar-kupu-kupu.html"&gt;&lt;font color="black"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mengejar Kupu-Kupu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;. Tulisan itu saya buat ketika kami baru 26 hari tinggal di rumah baru di Tanjungsari. Tak terasa sekarang sudah hampir mendekati masa 2 tahun kami menempati kawasan ini, dan anak saya Luqman ternyata masih menyimpan rasa penasaran terhadap kupu-kupu yang tidak terlalu jinak. Ia ingin mencoba menangkapnya, walau kemudian dilepaskannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal jaring penangkap ikan (lamit kalau kata orang Sunda ^_^), sejak kemarin ia terus tertarik untuk mengubahnya menjadi penangkap kupu-kupu. Ia terinspirasi dari buku yang memperlihatkan alat itu dipakai anak-anak untuk berburu kupu-kupu. Awalnya saya membeli 'lamit' memang hanya untuk menangkap ikan yang ada di kolam kecil kami. Kemudian berubah jadi penjaring kupu-kupu, sepertinya bukanlah ide yang perlu ditolak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TKHnIPZksyI/AAAAAAAAAxA/NmKiBQi7sVg/s1600/IMG_4010.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 168px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TKHnIPZksyI/AAAAAAAAAxA/NmKiBQi7sVg/s200/IMG_4010.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521948746891703074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menarik, kupu yang biasanya sangat liar dan terbang cekatan itu bahkan bisa terdiam di tangan anak saya selama kurang lebih 3 menit. Caranya hanya dielus-elus dan "memakai kekuatan pikiran" (begitu kata Luqman ^^). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TKHsjGqj-yI/AAAAAAAAAxI/D4zPCnBOcZQ/s1600/IMG_4006.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 146px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TKHsjGqj-yI/AAAAAAAAAxI/D4zPCnBOcZQ/s200/IMG_4006.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521954705961646882" /&gt;&lt;/a&gt;Waah, sebenarnya mungkin juga ada pengaruh film MATILDA (anak yang memiliki kekuatan imajinasi sehingga bisa membebaskan teman-temannya dari seorang kepala sekolah yang jahat). Luqman menontonnya hingga beberapa kali dan begitu takjub dengan kehebatan MATILDA. Dengan pendampingan, film itu bisa sekalian mengajarkan pada anak-anak tentang hebatnya pikiran yang pantang menyerah. Tokoh Matilda yang sangat mandiri dan percaya diri membuat anak-anak belajar tentang kebalikan dari imperior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah kemahiran menangkap kupu-kupu ini makin baik, dan pasti besoknya dan besoknya lagi diulang, rencananya saya akan membuatkan penangkaran kupu-kupu mini buat anak-anak. Setidaknya untuk mempertahankan benih kecintaan belajar sains sejak dini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-1500485450178288032?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/1500485450178288032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=1500485450178288032&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1500485450178288032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1500485450178288032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/09/matilda-dan-menangkap-kupu-kupu.html' title='Menangkap Kupu-Kupu Lagi'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TKHmP2iOOqI/AAAAAAAAAw4/W-JgCGAqrrU/s72-c/IMG_4005.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-484717645488334375</id><published>2010-09-19T06:38:00.001-07:00</published><updated>2010-09-19T06:50:55.504-07:00</updated><title type='text'>Obrolan Sebelum Tidur (2)</title><content type='html'>Papa bertanya pada Luqman, "Apa yang akan Ade lakukan jika di rumah seseorang yang Ade datangi ada makanan enak yang paling Ade sukai? Apakah akan mengambilnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luqman: "Tentu saja tidak."&lt;br /&gt;Papa: "Tapi nggak ada siapa-siapa lho di situ. Nggak ada yang liat kalaupun Ade mengambilnya,"&lt;br /&gt;Luqman: "Ah, tetap saja tidak akan Ade ambil,"&lt;br /&gt;Papa: "Walaupun Ade sangat menginginkannya?"&lt;br /&gt;Luqman: "Iya, karena Ade tahu, kalau mengambilnya tanpa ijin berarti Ade kan  mencuri."&lt;br /&gt;Papa: "Terus apa yang akan Ade lakukan?"&lt;br /&gt;Luqman: "Ade mungkin akan melihatnya, tapi Ade akan menaahan kuat-kuat rasa sangat ingin itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tertawa dan memberi jempol untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Apakah Luqman benar-benar akan mempraktikkan apa yang ia katakan saat berhadapan dengan kasus semacam itu? Kami tidak bisa menjamin. Tapi lewat obrolan itu minimal kami tahu bahwa dia  telah mengerti sebuah nilai penting, yaitu: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sekalipun sangat menginginkannya, ia tidak-lah berhak mengambil sesuatu yang bukan miliknya.&lt;/span&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-484717645488334375?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/484717645488334375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=484717645488334375&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/484717645488334375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/484717645488334375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/09/obrolan-sebelum-tidur-2_19.html' title='Obrolan Sebelum Tidur (2)'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3126690206071103391</id><published>2010-09-16T03:55:00.000-07:00</published><updated>2010-09-16T06:33:27.913-07:00</updated><title type='text'>Hadiah Lebaran</title><content type='html'>Bersyukur. Mungkin itulah kata yang paling tepat harus saya ucapkan. Puasa Ramadhan tahun ini (1431 H/2010 masehi), dengan karunia Allah Yang Mahapemurah, telah memberi saya banyak pelajaran. Dan hebatnya, pelajaran itu justru datang dari anak-anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan tahun ini Azkia (kini 8 tahun), nyaris berhasil menamatkan puasanya kalau saja tidak terpotong oleh  safar ke kampung pada hari terakhir. Padahal pada bulan Ramadhan tahun sebelumnya ia hanya puasa sekitar dua hari, itupun hanya sampai dzuhur. Keinginan berpuasa datang dari dirinya sendiri, sama sekali tanpa paksaan. Itikadnya yang kuat membuat saya merasa bangga sebagai orang tua. (Semoga tidak terjerumus pada takabur, insha Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kemajuan lagi pada Azkia adalah kemauannya mengenakan kerudung sepanjang hari saat keluar rumah. Awalnya sejak beberapa minggu sebelum bulan Ramadhan. Suatu hari Azkia berbisik, "Mama, ternyata Kakak berhasil lho seharian ini tidak buka kerudung saat di luar". Sebagai ibu yang juga masih belajar merespon dengan baik, saya berusaha mengekspresikan pujian yang normal padanya atas kemajuan itu. Dan alhamdulillah, hingga kini ia tetap mengenakan kerudungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Luqman, yang sebelumnya masih sangat sulit diajak sholat, saat Ramadhan kemarin terlihat berusaha sungguh-sungguh untuk melawan rasa malasnya. Ia ikut sholat bersama kami walau bertahap hanya konsisten sholat shubuh dan maghrib. Dan itu masih berlangsung sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, yang paling mengherankan tapi sekaligus membuat saya bersyukur adalah sikap mereka yang jadi lebih sabar, tak banyak mengeluh, dan pandai mengibur diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mudik kami naik kendaraan umum. Sejak berangkat memang saya berulang kali mengatakan pada mereka, "Kita akan melakukan perjalanan agak jauh. Mungkin sekali kita akan bertemu hal-hal yang tidak menyenangkan. Mungkin akan bertemu macet, panas, dan banyak lagi. Kita harus siap bersabar menghadapi semua itu. Mau berusaha sabar, kan?" Anak-anak mengangguk, menyanggupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak memang sangat ingin bertemu nenek dan saudara-saudara sepupunya. Karena itulah, sepertinya mereka mau berusaha berkompromi dengan kemungkinan yang kurang enak, yang biasanya selalu membuat mereka sedikit rewel atau mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan pun dimulai dan kami sudah meniatkan perjalanan ini memang untuk sebuah latihan kesabaran. Bukan hanya untuk anak-anak tapi juga untuk kami semua. Jadi, mulut dijaga rapat-rapat untuk tidak bicara tentang keluhan. Kami berjuang untuk membincangkan hanya hal-hal yang positif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase demi fase kami lewati. Tibalah kami di terminal terakhir menuju kampung. Cuaca sangat panas, debu beterbangan, bejubel orang-orang hendak berbelanja lebaran. Sebuah keadaan yang sangat mengganggu sebenarnya. Setelah sekitar 1 jam anak-anak menunggu di mesjid bersama papanya (karena saya membeli beberapa keperluan pesanan ibu saya) akhirnya kami mencari angkutan ke kampung. Kebetulan angkutan sederhana ala desa ada yang kosong. Kami pun naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam pick-up angkutan barang yang disulap jadi angkutan manusia kami dinaungi terpal. Seketika setelah kami naik, hawa panas menyengat. Saya bilang ke Luqman, "Agak panas ya, De? Mungkin juga akan agak lama kita menunggu". Mengejutkan, Luqman menjawab, "Enggak terlalu, Ma. Memang panas sih, tapi Ade bisa tahan. Dan tidak apa-apa lama ataupun sebentar. Kalau Ade mah, yang penting nyampe".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan papanya tertawa. Ajaib sekali! Luqman biasanya paling gampang mengeluh dan ternyata bisa berubah? Bahkan di tengah perjalanan, saat mobil yang kami tumpangi juga dimuati kayu bakar, rumput, dan dua karung jengkol hasil hutan, anak-anak saya tetap menikmati semuanya dengan relatif santai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya pun menerawang. Tampaknya memang tidak-lah sia-sia jika kita berusaha keras untuk memberikan teladan. Saya akui, sebagai ibu saya juga termasuk orang yang kurang sabaran selama ini. Sedikit impulsif dan kadang juga pengeluh. Jadi, sebenarnya tak harus heran jika anak saya menunjukkan perilaku seperti itu ^_^. Dan saat Ramadhan tahun ini, entah mengapa ada desakan yang sangat kuat untuk mengubah karakteristik diri yang kurang baik itu. Berjuang deh, pokoknya!:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu, pastinya usaha saya belum-lah maksimal. Tapi dengan perubahan yang saya lihat pada anak-anak, saya jadi yakin bahwa berawal dari usaha memperbaiki diri (sekecil apapun),  semua ada pengaruhnya pada perkembangan mereka. Mereka adalah cermin diri saya (Setidaknya itulah yang selalu saya coba dengungkan dalam diri saya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami pulang, di mana kami harus menunggu hampir 3 jam di halte, dan juga terpaksa berdiri di bis selama kurang lebih 1,5 jam karena bisnya penuh, luar biasa! Anak-anak bisa melewati semua kondisi itu dengan riang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau setiba di rumah badan saya remuk redam rasanya karena sesekali harus gantian menggendong anak-anak saat mereka terlihat lelah, tapi Puji syukur kepada Allah SWT. Kepingan-kepingan perjalanan latihan yang kami lewati dengan baik adalah hadiah lebaran yang sangat berharga buat saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kami sebagai orang tua juga diberi Allah sikap yang istiqomah/konsisten, sehingga anak-anak juga konsisten berjalan menuju kemajuan. Berbagai kemajuan yang tak hanya berwujud kepintaran akademis semata, melainkan juga mentalitas dan kepribadian mereka. Amin ya Allah ya Robbal 'aalamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3126690206071103391?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3126690206071103391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3126690206071103391&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3126690206071103391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3126690206071103391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/09/hadiah-lebaran.html' title='Hadiah Lebaran'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-8784422300249536537</id><published>2010-08-28T22:25:00.000-07:00</published><updated>2010-08-28T23:32:32.425-07:00</updated><title type='text'>Panen Ubi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THn5XILE3MI/AAAAAAAAAv0/MCm1XQ0PWHI/s1600/IMG_3509.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 198px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THn5XILE3MI/AAAAAAAAAv0/MCm1XQ0PWHI/s200/IMG_3509.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510709794790759618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kami "pesta" ubi. Setelah kemarin saya memanen sendirian, kali ini anak-anak diajak. Ruang tanam seluas kurang lebih 6 meter persegi dipanen dua anak kecil kami yang takjub bukan kepalang. Hanya dengan tangan, ubi berhasil dicabut karena tanahnya sangat gembur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THn1_Lo1jiI/AAAAAAAAAvc/ZLtnAnPmLy0/s1600/IMG_3504.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THn1_Lo1jiI/AAAAAAAAAvc/ZLtnAnPmLy0/s320/IMG_3504.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510706084869148194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanam ubi tidak-lah sulit. Cukup dengan menggunakan stek batang, ubi menjalar ke mana-mana dan bisa dipanen dalam waktu 3 bulan. Ubi yang kami panen ada yang kecil, ada juga yang besar.Kali ini baru percobaan. Kayaknya boleh juga dilanjutkan sebagai alternatif bahan pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THn3OuSw7pI/AAAAAAAAAvs/G6qV8FsN5G8/s1600/IMG_3514.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THn3OuSw7pI/AAAAAAAAAvs/G6qV8FsN5G8/s320/IMG_3514.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510707451381477010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dikumpulkan, ubi lalu ditimbang. Eits! Karena wadah timbangan yang kami punya nggak muat, jadinya pakai baskom. Tentu saja terlebih dulu di-stel ke angka nol untuk menyesuaikan dengan bak timbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THn8Zuj2_5I/AAAAAAAAAv8/9gDSa23Ze4M/s1600/IMG_3515.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 192px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THn8Zuj2_5I/AAAAAAAAAv8/9gDSa23Ze4M/s200/IMG_3515.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510713137989877650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya 1,8 kg. Lumayan juga. Bisa dibuat gorengan ubi atau kolak untuk berbuka puasa ^_^. Dan yang terpenting, anak-anak jadi belajar untuk terlibat dalam sebuah proses, betapapun remehnya. Suatu hari, entah kapan, setiap pengalaman praktis yang mereka lewati akan ada gunanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-8784422300249536537?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/8784422300249536537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=8784422300249536537&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8784422300249536537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8784422300249536537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/08/panen-ubi.html' title='Panen Ubi'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THn5XILE3MI/AAAAAAAAAv0/MCm1XQ0PWHI/s72-c/IMG_3509.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-6278407859014887961</id><published>2010-08-23T23:44:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:52:47.048-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Menjelajah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THNyxX3zkVI/AAAAAAAAAvE/HHsZLZ3tK5E/s1600/IMG_3249.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THNyxX3zkVI/AAAAAAAAAvE/HHsZLZ3tK5E/s320/IMG_3249.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5508872961751486802" /&gt;&lt;/a&gt;Menjelajah mungkin terdengar terlalu keren ya. Tapi biarlah disebut begitu, supaya terasa sebagai sesuatu yang menakjubkan. Kegiatan ini menjadi sering kami lakukan dalam satu tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak saya ajak berjalan menyusuri pesawahan, sungai, dan perkampungan di belakang komplek perumahan kami. Meski sudah berulang-ulang kami lakukan, selalu saja ada hal baru yang kami temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau merujuk pada konsep &lt;a href="http://www.amblesideonline.org/CM/1_2_01to08.html"&gt;&lt;font color="black"&gt;Charlotte Mason&lt;/font&gt;&lt;/a&gt; dalam menjalankan home-education, kegiatan menjelajah alam ini adalah bagian penting yang sangat ia anjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THNu3DaVgmI/AAAAAAAAAu8/3vDcTH17zVQ/s1600/IMG_3420.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THNu3DaVgmI/AAAAAAAAAu8/3vDcTH17zVQ/s320/IMG_3420.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5508868661291876962" /&gt;&lt;/a&gt;Salah satu tujuannya adalah melatih mereka untuk terbiasa berinteraksi dengan alam sekitar, sehingga tumbuhlah rasa memiliki dan rasa ingin menjaga alam tempat mereka hidup. Selain itu, menurut Charlotte, dengan mengajak anak-anak memperhatikan aneka tetumbuhan dengan seksama, akan melatih mereka untuk memiliki rentang perhatian yang panjang terhadap sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, malah anak-anak bisa mengajak teman mainnya untuk ikut serta. Menjelajah jadi kegiatan murah yang tak kalah serunya dengan bermain di arena bom bom car di mall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THN0f2oazCI/AAAAAAAAAvM/XY1UhA6nXYg/s1600/IMG_3409.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THN0f2oazCI/AAAAAAAAAvM/XY1UhA6nXYg/s320/IMG_3409.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5508874859794058274" /&gt;&lt;/a&gt;Di perjalanan kadang-kadang kami berhenti melihat-lihat para petani bekerja di sawah. Hari Minggu, 22 Agustus kemarin, malah Luqman minta berhenti untuk melihat pembuatan bata merah. Pengalaman baru buat anak-anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-6278407859014887961?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/6278407859014887961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=6278407859014887961&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6278407859014887961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6278407859014887961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/08/menjelajah.html' title='Menjelajah'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/THNyxX3zkVI/AAAAAAAAAvE/HHsZLZ3tK5E/s72-c/IMG_3249.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-7106742134168051154</id><published>2010-07-16T20:36:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T05:05:01.255-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='portofolio HE'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LombaBlogDepok 17 Juli – 17 September 2010'/><title type='text'>Hikmah dari Sebuah Perpustakaan Mini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TEE5nT2Tu0I/AAAAAAAAAsU/w_Q9psTMK_E/s1600/IMG_3025.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 185px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TEE5nT2Tu0I/AAAAAAAAAsU/w_Q9psTMK_E/s200/IMG_3025.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5494736367874456386" /&gt;&lt;/a&gt;Tidak terasa, pada tanggal 16 Juli 2010 sudah masuk bulan ke-lima perpustakaan mini yang dikelola Azkia (7 tahun 9 bulan) dibuka. Dengan jadwal buka rutin 2 kali seminggu (RAbu dan Sabtu) perpustakaan ini menjadi ajang latihan praktis buat Azkia mengembangkan beberapa kemampuan dan keterampilan, serta mengenalkan arti sebuah konsistensi secara nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui aktivitas sederhana ini, ada beberapa hal yang sepertinya Azkia sadari memberi nilai plus untuk dirinya, sebagai anak yang tidak bersekolah formal, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Karena mau tidak mau dia harus mencatat semua pengembalian dan peminjaman buku, maka otot menulisnya menjadi makin terlatih. Pelajaran penting  yang saya rasakan: Karena saya tidak terlalu banyak memberi koreksi dan menilai tulisan dia, ternyata hasilnya justru di luar dugaan. Tulisan Azkia sekarang makin rapi dan bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dia jadi belajar untuk tenang/tidak gugup saat menghadapi antrian para peminjam yang ingin bukunya dicatat. Kadang-kadang, anak-anak yang datang tidaklah sendirian, melainkan berombongan antara 5 - 10 orang. Awalnya Azkia terlihat tegang, tapi sekarang dia enjoy aja dengan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TEEx74l939I/AAAAAAAAAsM/nTpHuQ5aLTs/s1600/IMG_3019.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TEEx74l939I/AAAAAAAAAsM/nTpHuQ5aLTs/s200/IMG_3019.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5494727925242388434" /&gt;&lt;/a&gt;3. Mulai tumbuh sikap bertanggung jawab dalam hal ini, karena saya nyaris melepaskan hampir seratus persen tanggung jawab mengurus perpustakaan pada Azkia. Dari mulai merapikan buku-bukunya, mendata bukunya (termasuk jika ada buku baru), sampai mencatat pengembalian dan peminjaman, semua dia yang mengerjakan dengan senang hati. Hari Rabu dan Sabtu menjadi hari penting buat dia, dan dia selalu ingat dengan tanggung jawab itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Perpustakaan kami tidak memungut biaya peminjaman dan Azkia juga tidak dibayar. Hal itu menjadi sebuah sarana mengenalkan konsep volunteer pada dirinya, sebelum nanti dia berkenalan dengan kegiatan yang bermotif ekonomi ^_^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TEEucjRCRWI/AAAAAAAAAr0/6IghJ4dw5js/s1600/IMG_3017.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TEEucjRCRWI/AAAAAAAAAr0/6IghJ4dw5js/s200/IMG_3017.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5494724088406623586" /&gt;&lt;/a&gt;5. Perpustakaan membuat Azkia berinteraksi dengan banyak anak dari berbagai usia. Saya kira, hal itu menjadi ajang dia melatih kepercayaan diri dan juga cara berkomunikasi. Apalagi sekarang jumlah anggota perpustakaan sudah mencpai 50-an anak. Saya kira itu bukanlah jumlah yang sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang masih belum mulai kami kembangkan adalah memberdayakan perpustakaan mini ini menjadi sekaligus tempat anak-anak (para anggota) menambah keterampilan dan wawasan. Suatu hari nanti, insha Allah akan bergerak ke arah sana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-7106742134168051154?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/7106742134168051154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=7106742134168051154&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7106742134168051154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7106742134168051154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/07/hikmah-dari-sebuah-perpustakaan-mini.html' title='Hikmah dari Sebuah Perpustakaan Mini'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TEE5nT2Tu0I/AAAAAAAAAsU/w_Q9psTMK_E/s72-c/IMG_3025.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-122838531178148378</id><published>2010-06-19T21:09:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T03:13:30.206-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kreativitas'/><title type='text'>Memberi Nilai Lebih pada Sampah Anorganik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TB2hh1JR96I/AAAAAAAAApU/CY9fZNjGZCA/s1600/IMG_2785.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TB2hh1JR96I/AAAAAAAAApU/CY9fZNjGZCA/s200/IMG_2785.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5484717523780892578" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah menjadi cita-cita saya, ingin mandiri dalam pengelolaan sampah. Langkah awal adalah berusaha memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Dengan beberapa pilihan alternatif, sampah organik bisa diolah menjadi pupuk kompos dengan model takakura ataupun menggunakan wadah kedap udara (ananerob, sehingga menghasilkan gas yang bisa dipakai sebagai bahan bakar kompor dan juga pupuk cair untuk tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampaknya ke depan buat anak-anak juga pasti sangat bermanfaat. Jika selama ini sampah selalu jadi masalah, ke depan saya berharap anak-anak bisa melihatnya justru sebagai potensi yang bisa bernilai, entah dari segi ekonomi maupun kelestarian lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TB2bveV9dKI/AAAAAAAAApM/VCnlUaX3Mas/s1600/b.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TB2bveV9dKI/AAAAAAAAApM/VCnlUaX3Mas/s200/b.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5484711161108460706" /&gt;&lt;/a&gt;Anak-anak akan selalu belajar dari orang tuanya. Karena itulah, untuk mengajarkan pada mereka tentang konsep pemanfaatan sampah, saya coba mempelajari lebih dulu dan mempraktikkan lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencoba meng-komposkan sampah organik, saya juga belajar tentang pemanfaatan limbah anorganik berupa kertas dan plastik sehingga bernilai lebih dari sekedar sampah. Tentunya kita semua tahu, sampah anorganik tak bisa dengan cepat terurai dengan tanah. Membuangnya sembarangan hanya akan menyumbang kerusakan lingkungan.&lt;br /&gt;Beberapa hasil kreasi yang sudah saya coba adalah membuat kerajinan dari kertas bekas, baik koran maupun kertas HVS bekas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TB2ZkbNHn7I/AAAAAAAAAo0/cNbxI-d6Ynk/s1600/IMG_2538.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 188px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TB2ZkbNHn7I/AAAAAAAAAo0/cNbxI-d6Ynk/s200/IMG_2538.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5484708772264255410" /&gt;&lt;/a&gt;Anak-anak juga sudah bisa dilibatkan membuat kreasi-kreasi ini. Insya Allah, saya berniat menyusun tutorial pembuatan kreasi limbah kertas ini dan membuatnya dalam format ebook. Mudah-mudahan bisa terwujud. Tentu saja hal itu sebagai usaha untuk lebih meramaikan wacana pemanfaatan sampah anorganik, yang juga sudah banyak dibuat menjadi buku. ^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-122838531178148378?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/122838531178148378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=122838531178148378&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/122838531178148378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/122838531178148378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/06/memberi-nilai-lebih-pada-sampah-kertas.html' title='Memberi Nilai Lebih pada Sampah Anorganik'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TB2hh1JR96I/AAAAAAAAApU/CY9fZNjGZCA/s72-c/IMG_2785.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-2541944911703754145</id><published>2010-06-10T16:12:00.000-07:00</published><updated>2010-11-17T02:15:19.098-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Kelomang dan Gunanya Ilmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TBGGcUMwUDI/AAAAAAAAAos/EVEC36ekyXM/s1600/2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 180px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TBGGcUMwUDI/AAAAAAAAAos/EVEC36ekyXM/s200/2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481310042503270450" /&gt;&lt;/a&gt;Sering, setelah kini saya melewati masa sekolah, menjadi ibu, dan membelikan anak-anak buku-buku ilmu pengetahuan muncul pertanyaan pada diri sendiri, buat apa ya sebenarnya belajar ini dan itu? Kalau tidak relevan dengan apa yang kita geluti dan kita butuhkan, ilmu biasanya jadi tidak menarik untuk dipelajari. Biologi misalnya. Apa ya gunanya mengetahui daur hidup hewan? Mengetahui makanan mereka ataupun habitat tempat mereka hidup? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah terjawab sampai kemudian terjadi sebuah peristiwa, yang entah kebetulan atau mungkin juga disengaja diberikan 'alam' untuk menjawab pertanyaan saya ^_^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, menjelang sore saya masih membereskan benda-benda yang berserakan di halaman. Sepintas, sudut mata saya menangkap sebuah gerakan kecil di atas paving block, tapi setelah dilihat hanya ada sebutir batu putih lonjong di sana. Setelah terdiam sebentar, ternyata gerakan itu muncul lagi. Rupanya, benda berbentuk batu lonjong itu-lah yang bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun panggil anak-anak. Seperti biasa, ini sering saya lakukan saat menemukan hal-hal baru yang menarik. Tentunya supaya mereka juga tak melewatkan keajaiban-keajaiban yang ada di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TBGGKdRcV4I/AAAAAAAAAok/Da9LzA-XICw/s1600/1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 185px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TBGGKdRcV4I/AAAAAAAAAok/Da9LzA-XICw/s200/1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481309735701206914" /&gt;&lt;/a&gt;Azkia dan Luqman berseru, "Itu kelomang, Mah!". Malah saya juga belum tahu apa nama hewan itu, tapi anak-anak dengan yakin justru langsung mengenalinya. Seingat saya, kelomang hidup di laut, tapi sekarang ada di darat? Sebuah keanehan. Pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi betul, Mah. Itu memang kelomang," kata Azkia lagi.&lt;br /&gt;"Ya sudah, coba cari di internet, apa ini memang benar kelomang." Anak-anak pun mengganggu papanya untuk dicarikan info tentang kelomang. Setelah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;searching&lt;/span&gt;, ternyata benar, hewan itu memang kelomang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, kami tidak terlalu membaca dengan detail tentang hewan ini lebih jauh. Karena pengetahuan awal kami, kelomang itu berasal dari laut dan pastinya suka hidup di air, kami pun memasukkannya ke dalam stoples dan diberi bebatuan kecil. Kami beri pisang sebagai makanannya, karena katanya kelomang suka makan tumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semalaman kelomang menginap di stoples, di dapur kami, penasaran saya cari lagi info tentang kelomang di internet. Terkejut juga. Ternyata, kelomang tak hanya hidup di laut. Ada juga jenis kelomang yang hidup di darat dan tidak terlalu menyukai air, sehingga tak boleh direndam terlalu lama di air supaya tetap hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir meloncat, saya periksa stoples kelomang. Ups! Ternyata kelomang kecil itu memang sudah tiada. Sayang sekali! Sejak saat itu-lah saya mulai mengerti apa gunanya mengetahui kehidupan hewan secara spesifik. Salah satunya adalah untuk menjaga kelestarian mereka. Keberuntungan kami menemukan kelomang memang tinggal kenangan, tapi hikmahnya, saya tak lagi meremehkan gunanya ilmu pengetahuan. Ilmu (apapun itu), pasti berguna, meski kita tidak tahu kapan itu akan digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam pendidikan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-2541944911703754145?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/2541944911703754145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=2541944911703754145&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2541944911703754145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2541944911703754145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/06/gunanya-ilmu.html' title='Kelomang dan Gunanya Ilmu'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/TBGGcUMwUDI/AAAAAAAAAos/EVEC36ekyXM/s72-c/2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-2596589152392515258</id><published>2010-05-11T08:26:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:58:38.161-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LombaBlogDepok 17 Juli – 17 September 2010'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Makan Ubi, Siapa Takut?</title><content type='html'>Sekitar 2 tahun yang lalu, saat anak-anak saya, Luqman masih 4 tahun, dan Azkia 6 tahun, saya mencoba memperkenalkan makanan paling mudah olah pada mereka, yaitu ubi kukus. Hasilnya? Mengecewakan. Mereka hanya melihat sekilas, mencicip sedikit, lalu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat saya menganggapnya sebagai hal biasa, karena memang mereka tak pernah makan makanan seperti itu sebelumnya. Akan tetapi, setelah saya renungkan lebih jauh, sepertinya hal ini tak hanya sebuah fenomena biasa, tapi juga merupakan tantangan pengasuhan dan pendidikan. Orang Indonesia, orang Sunda lagi. Masak iya nggak mau makan ubi kukus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubi kukus hanyalah satu kasus kecil, tapi yang saya khawatirkan adalah sikap mereka terhadap makanan sederhana seperti ini, yang mungkin melebar ke jenis makanan lain, entah singkong rebus, pisang kukus, urap talas, dll. Tanpa diajari, kemungkinan nantinya mereka akan berpikir bahwa makanan seperti itu tidak layak dijadikan makanan. Maunya roti, biskuit, atau makanan pabrik lainnya. Sungguh saya sangat tak berharap hal itu terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau bagaimanapun, makanan hasil olahan sendiri jauh lebih sehat dibandingkan makanan produksi pabrik, yang pasti memakai pengawet, mungkin memakai pewarna buatan, dan bahan kimia lainnya untuk membuat makanan menarik dan tahan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sebagai orang Indonesia saya berharap, anak-anak harus kenal dan akrab dengan makanan ala  Indonesia. Jangan sampai hanya kakinya saja yang menjejak di bumi pertiwi tapi gaya hidupnya jauh dari nilai-nilai ke-Indonesiaan dan justru lebih bangga dengan budaya asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubi terdepak oleh roti, burger, dan hotdog hanyalah sebuah contoh kecil bahwa anak-anak kini telah terjauhkan dari salah satu produk budaya negerinya sendiri.Betapa banyak hal lain yang sudah tak lagi membawa serta ke-Indonesiaan dalam keseharian anak-anak Indoensia, dari mulai tontonan, mainan, berbahasa, berpakaian, dll. Oh, malangnya Indonesia. Identitasmu tak lagi nampak jelas :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal ubi. Akhirnya saya memutuskan untuk memperkenalkan makanan itu lagi dan lagi, dengan memberi mereka contoh bagaimana menikmatinya dan mensyukuri kelezatan alami yang ada di dalamnya. Lega.  Tak sampai satu bulan, terapi yang saya lakukan menunjukkan hasilnya. Acara cicip mencicip melebar ke umbi-umbian dan makanan minim olah lainnya, seperti talas kukus, singkong urap, kecipir rebus, kolak labu, dan lain sebagainya. Alhamdulillah, kini mereka mulai akrab dan menyukainya sebagai penganan di sela makanan pokok. Modalnya hanyalah kepercayaan mereka bahwa makanan baru yang diperkenalkan ibunya adalah makanan yang sehat dan tak ada salahnya mereka mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sedih, saat saya mengajak anak-anak berjalan-jalan ke perkampungan di Tanjungsari dan mendatangi beberapa warung kecil, ternyata jajanan anak yang dijual di situ bukan lagi makanan tradisional kayak pisang goreng, kue lapis, jalabria, atau kue apem. Produk yang mereka jual adalah snack buatan pabrik berkemasan yang siap beli dari pasar. Ke-khasan sebuah kampung yang identik dengan kekayaan sumber alam dan kuliner menjadi seolah lenyap. Masyarakat kampung kini hanya menjadi konsumen produk industri tanpa mengimbangi dirinya dengan juga memasarkan produk hasil rumah tangga khas daerah mereka. Semoga ini hanya terjadi di satu atau beberapa kampung dan tidak di semua kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut ke masalah terapi memperkenalkan makanan minim olah dan makanan tradisional, saya berdoa, mudah-mudahan hal itu juga akan membuat anak-anak menjadi orang yang luwes. Di manapun mereka tinggal, janganlah sampai persoalan makanan menjadi sangat mengganggu. Jangan sampai mereka menjadi anak-anak yang hanya kenal kelezatan yang "direkayasa" manusia dengan bumbu dan aneka proses olah yang rumit. Mereka juga harus kenal kelezatan alami karya cipta Allah Yang Maha Besar, yang tersuguh gratis pada segala jenis bahan makanan hasil bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan, dengan mengenal makanan tradisional anak-anak juga terhindar dari sikap mengkastakan makanan. Makanan orang biasa dan makanan orang luar biasa? Meski bagaimanapun kondisi perekonomian keluarga kami, jangan sampai mereka mencitrakan dirinya atau orang lain sebagai orang-orang yang hebat hanya karena mereka makan makanan modern, dan menilai seseorang jadi nggak keren kalau mereka lebih suka makan makanan 'kampung'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang tua punya cara pandang sendiri-sendiri tentang hal ini. Tentunya boleh tidak setuju :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-2596589152392515258?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/2596589152392515258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=2596589152392515258&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2596589152392515258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2596589152392515258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/05/makan-ubi-siapa-takut.html' title='Makan Ubi, Siapa Takut?'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-1202252282665089098</id><published>2010-05-03T18:37:00.000-07:00</published><updated>2010-11-08T17:53:27.824-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Review Buku: Anakku Tidak (Mau) Sekolah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S997_jl3cYI/AAAAAAAAAoM/LfIixxajXXY/s1600/25420_1323666183552_1587799255_765755_7067231_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 250px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S997_jl3cYI/AAAAAAAAAoM/LfIixxajXXY/s320/25420_1323666183552_1587799255_765755_7067231_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467224804467110274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anakku Tidak (Mau) Sekolah,&lt;br /&gt;Jangan Takut – Cobalah Home Schooling!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis       : Maria Magdalena&lt;br /&gt;Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Halaman       : 208 hlm.&lt;br /&gt;Tahun terbit  : 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Great!&lt;br /&gt;Mungkin itu kata yang paling tepat untuk mengungkapkan secara singkat tentang buku ini. Setelah banyak buku tentang home schooling diterbitkan, baik yang ditulis oleh praktisi maupun pemerhati home schooling, bisa saya katakan, buku ini lebih transparan menggambarkan latar belakang dan praktik nyata sehari-hari seorang praktisi home-education/home schooling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski setiap keluarga home-ed memiliki ciri khas yang berbeda-beda, namun apa yang digambarkan penulis dalam buku ini setidaknya akan menjadi contoh bagaimana realitas umum sebuah keluarga home-ed/schooler. Mereka, dengan segala kelebihan dan kekurangannya mencoba untuk memberikan yang terbaik untuk pendidikan anak-anaknya dengan cara yang sedikit berbeda dari kebanyakan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu dari banyak hal menarik yang saya temukan pada buku ini adalah kejujuran penulis untuk mengungkapkan proses yang penulis jalani layaknya bayi dalam menempuh fase motoriknya. Mereka merayap, merangkak, dan terus beranjak mencapai kemajuan dengan banyak belajar dari kesalahan dan bersemangat untuk memperbaiki hal-hal yang kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah ungkapan yang sangat saya suka dari buku Mbak Maria Magdalena, “ Waktu itu saya belum memahami bahwa sebaiknya anak dipandang dari kompetensi dan keunikannya, bukan pada kemampuannya berkompetisi atau menyamakannya dengan teman sebayanya. Lagipula, lebih memandang kompetisi akan membuat kita terjebak pada ketidakpedulian akan kebahagiaan anak serta terjebak dalam pemikiran yang lebih mementingkan hasil daripada proses.” (hlm. 30-31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sebuah kesadaran bahwa tak ada orang tua yang sempurna, dan demikian juga setiap anak punya kekurangan dibalik kelebihannya, penulis mencoba meyakinkan pembacanya, bahwa sesungguhnya tak perlu takut untuk mencoba meski kemudian salah, dan tak perlu patah semangat hanya karena belum berhasil. Maju terus! Dengan belajar semuanya akan berubah menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman penulis dalam belajar mengatur waktu antara mendampingi anak, bekerja (di rumah) untuk kebutuhan ekonomi, aktualisasi diri dengan berkarya dan bermasyarakat, serta berkomunitas, juga dapat menjadi inspirasi bagi para ibu yang berniat menjalankan home-education/home schooling. Jempol 2 buat buat Mbak Maria untuk upaya kerasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O’ya, karena buku ini lebih banyak berbasis pengalaman daripada teori, pembaca juga bisa mengetahui langsung bagaimana pengaturan biaya dalam menjalankan home-education. Terlebih jika bergabung dengan komunitas praktisi home-ed, baik di dunia maya maupun support grup di dunia nyata, orang tua home-ed akan mendapatkan banyak informasi tentang sumber pembelajaran yang murah tapi bermutu. Tentunya, karena tak semua peminat home-ed memiliki dana banyak untuk membayar fasilitas dan kurikulum yang mahal-mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, saya menyimpulkan buku ini sangat layak dibaca oleh peminat home-education/schooling untuk memperoleh gambaran (bagaimana memulai, seperti apa tingkat kesulitan, tingkat manfaat, dan kemudahan-kemudahan home-ed). Dan buku ini juga bagus dibaca oleh mereka yang sudah menjalankan home-ed untuk memperkaya inspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, cermati baik-baik cover bukunya. Hapalkan judulnya, dan ingat nama penulisnya. Anda tak tak rugi membeli buku ini. Happy hunting! ^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-1202252282665089098?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/1202252282665089098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=1202252282665089098&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1202252282665089098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1202252282665089098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/05/review-buku-anakku-tidak-mau-sekolah.html' title='Review Buku: Anakku Tidak (Mau) Sekolah'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S997_jl3cYI/AAAAAAAAAoM/LfIixxajXXY/s72-c/25420_1323666183552_1587799255_765755_7067231_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-4655512571663804908</id><published>2010-04-26T23:02:00.000-07:00</published><updated>2010-04-26T23:03:55.363-07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Sampah</title><content type='html'>Beberapa hari lalu, anak-anak saya ajak ikut pertemuan ibu-ibu di RW kami untuk belajar membuat kerajinan dari sampah anorganik. Ternyata, kegiatan itu menjadi ajang belajar yang menarik, khususnya buat Luqman. Sejak kami duduk di sana, dia terus mengamati sekeliling terutama balon plastik besar yang berisi gas dari instalasi bio gas sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan pun mengalir, "Ma, apakah kalau plastik itu ditusuk beberapa kali di beberapa tempat, gasnya nggak akan meledak? Dari mana gas-nya datang?" dan pertanyaan lainnya, tak terkecuali rak piring di sana yang nampak berubah fungsi menjadi rak sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melihat kumpulan bahan baku kerajinan berserak di tengah-tengah ruang pertemuan Luqman pun terus berbisik, "Mama, Ade pengen ikutan juga bikin itu. Fotoin dong tas sama kotak tissue-nya, semuanya." Kalau saja, para ibu di sana akan nyaman-nyaman saja melihat anak kecil ikut nimbrung, mungkin saya ijinkan Luqman ikut bergabung, tapi khawatir orang nggak nyaman akhirnya saya janji mengajaknya berkreasi di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya, kami menghamparkan tikar di teras. Tak disangka, sambil membuat pola-pola, bisa juga disisipkan stimulasi matematis: Penambahan, perkalian, pengukuran. Hasilnya, sekarang ada satu gerobak sayur dari kertas koran jadi hiasan meja :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar, bisa di mana saja dan lewat apa saja. Mungkin model belajar seperti ini belum tentu cocok dengan keluarga lainnya, namun saya justru semakin menikmati pembelajaran terintegrasi seperti ini. Bersyukur kami bisa menjalaninya :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-4655512571663804908?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/4655512571663804908/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=4655512571663804908&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4655512571663804908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4655512571663804908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/04/belajar-dari-sampah.html' title='Belajar dari Sampah'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-6587690320303189262</id><published>2010-03-18T16:02:00.000-07:00</published><updated>2010-11-08T17:56:17.258-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Anak Usia Dini dan Komputer</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S6K1kfqN6LI/AAAAAAAAAn8/3hO-2Eum9Ew/s1600-h/karya.gif"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 120px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S6K1kfqN6LI/AAAAAAAAAn8/3hO-2Eum9Ew/s200/karya.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450118137650210994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Belajar menggunakan komputer di usia dini. Beberapa orang tua mungkin kurang setuju dan justru menundanya. Beberapa alasan penundaan adalah karena takut anak ketagihan dan jadi kurang banyak bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi keluarga kami, komputer justru sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan belajar. Luqman (5,5 tahun) yang senang menggambar terakomodasi dengan program corel draw. Hanya dengan mengajari sedikit pengetahuan teknis, ia terus berkreasi sendiri. Hobinya adalah menggambar aneka dinosaurus. Adapun kakaknya, Azkia (7,5) tahun, menggunakan komputer untuk menuliskan gagasan, cerita-cerita, atau apapun yang ingin ditulisnya. Mereka berdua punya folder sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S6K1U9Sp1LI/AAAAAAAAAn0/Cu0JysgSMAs/s1600-h/karya3.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 166px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S6K1U9Sp1LI/AAAAAAAAAn0/Cu0JysgSMAs/s200/karya3.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450117870726534322" /&gt;&lt;/a&gt;Selain itu, komputer juga jadi sarana menonton CD/DVD film-film kesukaan mereka atau sesekali bermain game edukatif dari internet. Kami sengaja tidak menyediakan TV khusus di rumah. Kalaupun mau sesekali menonton, kami hanya memiliki TV tuner yang tersambung ke monitor komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang rasa khawatir mereka ketagihan, sampai saat ini kami tidak melihat gejala itu. Bergerak dan beraktivitas di luar tetap jauh lebih banyak durasinya dibandingkan berada di depan komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S6K086h4s5I/AAAAAAAAAnk/P7G3-ZSOJFY/s1600-h/karya2.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 120px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S6K086h4s5I/AAAAAAAAAnk/P7G3-ZSOJFY/s200/karya2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450117457668256658" /&gt;&lt;/a&gt;Satu hal yang menarik, mereka belajar tanpa tutorial khusus. Mereka belajar hanya dengan banyak melihat kami (orang tuanya) bekerja. Tak terasa, kemampuan menggunakan komputer mereka jauh sekali dibandingkan saya pada saat sudah menginjak semester 8 kuliah. Saya kira, anak-anak sekarang memang diuntungkan dengan teknologi yang semakin mudah dan canggih, dan hampir semua anak sangat cepat belajar dengan bantuan teknologi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-6587690320303189262?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/6587690320303189262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=6587690320303189262&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6587690320303189262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6587690320303189262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/03/anak-usia-dini-dan-komputer.html' title='Anak Usia Dini dan Komputer'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S6K1kfqN6LI/AAAAAAAAAn8/3hO-2Eum9Ew/s72-c/karya.gif' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3507155882754079274</id><published>2010-03-03T15:09:00.000-08:00</published><updated>2010-11-08T20:46:02.548-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Petugas Cilik Taman Bacaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S47ubEUOA_I/AAAAAAAAAnc/cSjsKj7JbbA/s1600-h/IMG_1999.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 157px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S47ubEUOA_I/AAAAAAAAAnc/cSjsKj7JbbA/s200/IMG_1999.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444551148319933426" /&gt;&lt;/a&gt;Alhamdulillah, taman bacaan atau lebih tepatnya tempat peminjaman buku yang kami buka tetap diminati anak-anak. Dalam seminggu bisa 2 atau 3 kali anak-anak tetangga datang meminjam dan mengembalikan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kadang-kadang saya sedang ada pekerjaan, beberapa kali saya serahkan tugas mencatat pengembalian dan peminjaman pada Azkia (7,5 tahun). Hal itu sekalian untuk memperlancar kemampuan menulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, seperti sudah menjadi rutinitas, Azkia dengan senang hati tetap menjalankan tugas itu meski saya tidak sedang sibuk. Dan teman-temannya pun sudah mulai biasa dengan pengalihan tugas itu. Belajar dari praktik ini semoga ada gunanya. Tidak bersekolah formal, anak-anak bisa jadi apa saja, termasuk jadi petugas cilik taman bacaan :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3507155882754079274?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3507155882754079274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3507155882754079274&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3507155882754079274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3507155882754079274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/03/petugas-cilik-taman-bacaan.html' title='Petugas Cilik Taman Bacaan'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S47ubEUOA_I/AAAAAAAAAnc/cSjsKj7JbbA/s72-c/IMG_1999.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-2193827961835607818</id><published>2010-03-03T14:25:00.001-08:00</published><updated>2010-03-03T15:06:54.433-08:00</updated><title type='text'>Mengusir Kutu Daun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S47oa7N3IVI/AAAAAAAAAnU/s7T-HvDMt_I/s1600-h/IMG_1991.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S47oa7N3IVI/AAAAAAAAAnU/s7T-HvDMt_I/s200/IMG_1991.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444544548807582034" /&gt;&lt;/a&gt;Eksperimen nih. Daun tanaman terung ungu kami, baik yang ditanam di polybag maupun di tanah kebun, semuanya bolong-bolong. Setelah diperiksa, ternyata banyak sekali kutu daun bersarang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu kami coba pestisida dari bawang putih yang dicampur cuka. Setelah dihaluskan dan dicampur air, lalu disaring dan dimasukkan ke dalam botol penyemprot bekas cairan pembersih kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S47ly-0jjGI/AAAAAAAAAnM/7dieAA_BPAs/s1600-h/IMG_1995.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S47ly-0jjGI/AAAAAAAAAnM/7dieAA_BPAs/s200/IMG_1995.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444541663557160034" /&gt;&lt;/a&gt;Luqman yang ingin menyemprot. Dan jadilah ia menyemprot dengan asyik daun-daun terung itu. Sambil berkesperimen, sekalian menyalurkan gairah bermain semprotan :). Belum tahu, apakah ini cukup efektif, karena setelah itu kami disibukkan dengan perjuangan melawan dan bertahan dari serangan flu dan kegiatan lain. Setelah waktu longgar nanti, eksperimen akan diteliti lagi tingkat keberhasilannya. Akankah sang kutu terusir? Ataukah malah betah bersarang di daun dan melahapnya dengan rakus? Kita lihat saja nanti :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-2193827961835607818?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/2193827961835607818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=2193827961835607818&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2193827961835607818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2193827961835607818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/03/mengusir-kutu-daun.html' title='Mengusir Kutu Daun'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S47oa7N3IVI/AAAAAAAAAnU/s7T-HvDMt_I/s72-c/IMG_1991.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3589132681737381582</id><published>2010-02-22T23:24:00.000-08:00</published><updated>2010-11-16T03:09:59.524-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku'/><title type='text'>Entrepreneur Organik, Kemandirian Yang Diperjuangkan</title><content type='html'>Menjalankan HE (Home-Education) bersama anak-anak bukanlah sebuah keputusan sesaat bagi kami. Ada banyak sekali pemikiran, perenungan panjang, dan pertimbangan beresiko yang harus dilalui. Sampai akhirnya yakin bahwa tidak bersekolah formal (setidaknya sampai pendidikan dasar) adalah pilihan terbaik buat anak-anak kami, faktor pendorongnya adalah karena kami ingin menancapkan benih-benih kemandirian lebih awal pada mereka. Biarlah anak-anak belajar hal lain secara autodidak, tapi tidak dalam mengenal agama dan kemandirian. Mereka harus mendapatkan perlakuan, pendidikan, dan nilai-nilai kemandirian secara sengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya menceritakan hal ini untuk mengawali resensi tentang buku Entrepreneur Organik? Karena prinsip-prinsip yang dijalankan oleh KH. Fuad Affandi, sebagai tokoh sentral buku ini, merupakan manifestasi kongkret dari apa yang kami pikirkan tentang kemandirian. Meski berlatarkan daerah pertanian dan dunia pertanian, isi buku ini juga mencakup banyak hal tentang pola pikir dan pola tindak seorang pembelajar mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercerminkan pengalaman hidupnya yang penuh warna perjuangan, Pak Fuad menilai, anak-anak yang terlalu dimanja akan berakibat fatal di kemudian hari. "Sobek baju, 'Mamah!'. sobek celana 'papah!', pusing kepala, 'nenek!', nggak punya uang jajan, 'Embah!'. Hal itu terus menjadi sebuah budaya sistemik hingga ke tingkat pemerintahan dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa kita kurang mau 'berlumpur-lumpur' dan bekerja keras untuk bangkit dari keterpurukan. Sebuah kritiknya membuat saya ketawa sendiri, "RT menyandar ke RW memakai proposal, RW menyandar ke lurah, lurah nyandar ke camat, camat nyandar ke bupati, bupati ke gubernur, gubernur ke presiden, akhirnya presiden nyandar ke IMF. Mau dewasa kapan orang ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau termasuk orang yang percaya bahwa pendidikan formal bukanlah satu-satunya tempat untuk mencari ilmu. Tak perlu putus harapan hanya karena tidak bersekolah formal, karena menurutnya, ilmu itu ada di mana-mana bahkan di dalam selokan, jika kita memang mau belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian Pak Kiai memangkas budaya feodal yang membuat kasta-kasta tersamar di sebuah institusi pesantren juga membuat saya kagum. Beliau itu tipe orang yang sangat merakyat. Bahkan anak dan cucunya dilarang keras menyuruh-nyuruh para santrinya dan bersikap merasa lebih tinggi hanya karena menjadi anak Pak Kiai. Beliau juga seorang pembaca buku lintas mazhab, agama, dan budaya. Wajar saja, kalau kemudian sikap beliau menjadi sangat toleran dan tidak memilih-milah orang berdasarkan perbedaan tersebut dalam bergaul, bekerja sama, dan mencari serta berbagi ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan KH. Fuad untuk meningkatkan taraf hidup petani yang selama ini identik dengan kelas masyarakat miskin dan bodoh membuat saya terhubung dengan mimpi kecil saya. Beliau adalah salah seorang praktisi pertanian yang sangat yakin, bahwa bidang pertanian adalah bidang yang tak boleh mati, karena dari situlah kelangsungan hidup manusia SALAH SATUNYA dijamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Fuad berkelakar, "Dari tukang becak sampai presiden semua adalah konsumen produksi pertanian. Tak pernah ada cerita, akibat krisis moneter, orang-orang eksekutif lalu beralih makan besi baja. Tak mungkin karyawan pabrik mobil yang cekak gajinya lalu makan onderdil. Sekalipun krisis tetap saja mereka akan mengkoinsumsi hasil pertanian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena itu pula-lah Pak Fuad bermimpi bisa mendirikan sekolah pertanian, sehingga tidak terputus regenerasi petani yang mencintai pekerjaan dan peranannya. Dan beliau berharap, sekolah pertanian yang didirikan itu nantinya, adalah sebuah sekolah yang menghubungkan teori dan praktik sekaligus dan bukan hanya melulu teori tapi jauh dari praktik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh banyak sekali tinjauan yang bisa diserap dari buku Entrepreneur Organik. Kesemuanya itu, menggambarkan keluasan wawasan Pak Kiai dalam memandang persoalan kemasyarakatan dan juga keagamaan, serta pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak akan rugi membaca buku ini walau harganya agak mahal karena ketebalannya dan juga kualitas isinya juga sesuai :) Saya tidak bekerja sama dengan penerbit Nuansa Cendikia untuk menulis sekilas testimoni tentang buku ini. Saya hanya ingin berbagi dengan teman-teman yang senang dengan tema kemandirian. Happy Reading!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Entrepreneur Organik&lt;br /&gt;Penulis: Faiz Manshur&lt;br /&gt;Penerbit: Nuansa Cendikia&lt;br /&gt;Hlm: 392 hlmn&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3589132681737381582?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3589132681737381582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3589132681737381582&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3589132681737381582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3589132681737381582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/02/entrepreneur-organik-kemandirian-yang.html' title='Entrepreneur Organik, Kemandirian Yang Diperjuangkan'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-9024877297544507483</id><published>2010-02-03T05:07:00.000-08:00</published><updated>2010-11-16T03:15:59.736-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Jangan Remehkan Anak-Anak</title><content type='html'>Suatu pagi saya dan anak-anak membaca buku tentang teknologi dan kesehatan. Ketemulah kami dengan pembahasan tentang penyakit ginjal. Mumpung lagi antusias, saya ambil visual dictionary untuk belajar lebih jauh tentang organ ginjal dan fungsi-fungsi setiap bagiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai menelusuri anatomi ginjal, Luqman (5,5 tahun) penasaran juga dengan organ lainnya, dan dia menunjuk lambung sambil berkata, "Mama, di sini ada banyak enzym dan asam lambung. Mama tahu nggak, apa gunanya enzym dan asam lambung itu?" Saya menggeleng untuk mendengar pengetahuan dia tentang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enzym dan asam lambung itu gunanya untuk mencernakan makanan" jawab dia yakin. Lagi-lagi. Peristiwa seperti ini sangat sering terjadi untuk topik-topik yang lain. Saya merasa tak pernah mengajari dia tentang ini, tak pernah pula membicarakannya sebelum ini. Dalam beberapa hal seringnya mereka lebih tahu dibandingkan kami orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmmm..... Jangan remehkan anak-anak. Mereka adalah pembelajar alami. Mereka belajar dengan cara yang tidak kita duga. Bedanya dengan sekolah formal, anak-anak home-education belajar tanpa berorientasi menyelesaikan soal ujian. Pengetahuan mereka akan keluar dengan sendirinya ketika mereka menemukan konteks yang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tony Buzan bilang, semua anak yang lahir adalah calon jenius tanpa kecuali.&lt;br /&gt;Tinggal kita beri mereka kesempatan untuk mengeksplor lingkungannya, memberi stimulus yang membangkitkan rasa ingin tahu, dan menginformasikan serangkaian &lt;i&gt;tools&lt;/i&gt;, sehingga mereka bisa memperoleh pengetahuan secara mandiri, karena orang tua juga pasti punya keterbatasan ilmu kalau harus menjelaskan semuanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-9024877297544507483?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/9024877297544507483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=9024877297544507483&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/9024877297544507483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/9024877297544507483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/02/jangan-remehkan-anak-anak.html' title='Jangan Remehkan Anak-Anak'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3468551264446265558</id><published>2010-01-22T15:46:00.000-08:00</published><updated>2010-11-16T03:24:11.742-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Bersosialisasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S1o8zfzrbfI/AAAAAAAAAnE/9wjxmqJnW20/s1600-h/IMG_1651.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 191px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S1o8zfzrbfI/AAAAAAAAAnE/9wjxmqJnW20/s200/IMG_1651.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429719156157804018" /&gt;&lt;/a&gt;Bersosialisasi, masih selalu menjadi persoalan buat anak-anak yang menjalani Home Education (HE. Bukan dalam pengertian bahwa mereka tidak bisa bersosialisasi, namun orang tua kadang-kadang perlu memfasilitasi agar-agar anak-anaknya bertemu anak-anak sebaya lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, beberapa keluarga yang memang sudah berhimpun dalam sebuah grup pendukung bisa saling bertemu sebulan sekali atau sesuai kesepakatan. Hal itu merupakan salah satu cara untuk menciptakan pertemanan di antara sesama anak-anak HE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kami mencoba membuat alternatif lain untuk melatih anak-anak berkomunikasi dengan teman sebaya. Kami membuka taman bacaan kecil di rumah khusus untuk anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami perhatikan, ternyata anak-anak HE baik-baik saja dalam bergaul. Mereka juga punya adaptasi yang cukup bagus saat bersama teman-temannya. Terlepas dari semua itu, sesungguhnya bersosialisasi lebih dari sekedar bertemu teman dan bermain, tapi belajar untuk mengenal manusia dan saling memahami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3468551264446265558?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3468551264446265558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3468551264446265558&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3468551264446265558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3468551264446265558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/01/bermain-bersama-teman.html' title='Bersosialisasi'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S1o8zfzrbfI/AAAAAAAAAnE/9wjxmqJnW20/s72-c/IMG_1651.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-7255778316828790715</id><published>2010-01-04T16:36:00.000-08:00</published><updated>2010-11-16T04:53:38.302-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='portofolio HE'/><title type='text'>Membuat Telur Terapung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S0KMMkUfY3I/AAAAAAAAAm8/TgGGeqHGrQ0/s1600-h/IMG_1745.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 121px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S0KMMkUfY3I/AAAAAAAAAm8/TgGGeqHGrQ0/s200/IMG_1745.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423051048843436914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S0KLuAWoydI/AAAAAAAAAm0/ssnZpTVNTLk/s1600-h/IMG_1743.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 123px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S0KLuAWoydI/AAAAAAAAAm0/ssnZpTVNTLk/s200/IMG_1743.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423050523792689618" /&gt;&lt;/a&gt;Sejak tanggal 26 Desember 2009, kami membuka taman bacaan di rumah. Selain membaca dan meminjam buku, anak-anak juga bermain dan membuat percobaan-percobaan. Salah satunya adalah membuat telur bisa terapung di atas air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tahu caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cucilah sebutir telur, lalu masukkan ke dalam stoples bening yang sudah diisi air.&lt;br /&gt;2. Masukkan garam dengan sendok sedikit demi sedikit lalu aduk. Hasilnya? Telur yang semula tenggelam di dasar stoples ternyata bisa mengapung lho. &lt;br /&gt;3. Jika air garam diganti lagi dengan air tawar, si telur akhirnya kembali tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal semacam itu sungguh menakjubkan buat anak-anak. Mau mencobanya di rumah?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-7255778316828790715?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/7255778316828790715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=7255778316828790715&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7255778316828790715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7255778316828790715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2010/01/membuat-telur-terapung.html' title='Membuat Telur Terapung'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/S0KMMkUfY3I/AAAAAAAAAm8/TgGGeqHGrQ0/s72-c/IMG_1745.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-309107202622759343</id><published>2009-12-08T03:03:00.000-08:00</published><updated>2010-11-16T03:22:40.092-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Ingin Seperti HAMKA</title><content type='html'>Tadi siang kami berangkat keluar untuk membeli beberapa keperluan. Saat&lt;br /&gt;bersiap-siap, Azkia berceloteh, "Mama, kebanyakan anak kan bersekolah,&lt;br /&gt;sedangkan kakak dan Ade kan tidak sekolah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya Kakak ingin sekolah ya?" tanya saya. "Boleh kok kalau Kakak mau sekolah," lanjut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak. Cuma Kakak baca di buku, Si Malik itu hanya sekolah sampai kelas dua SD, terus berhenti," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus bagaimana akhirnya setelah dia besar?" tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia tetap rajin belajar, senang membaca, sampai akhirnya dia bisa&lt;br /&gt;pergi ke Mekkah," kata Azkia lagi disambung juga Luqman menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya buku apa sih yang Kakak maksud?" tanya saya. Benar-benar saya belum 'ngeh!' buku yang dia ceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"HAMKA!" jawab Azkia dan Luqman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooooh HAMKA ya. Terus jadi apa HAMKA setelah dia dewasa?" tanya saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia jadi penulis besar Mama! Dan dia pernah dipenjara, tapi dia tetap saja membaca dan menulis waktu dia dipenjara".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ade mau Mama!" seru Luqman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau apa?" tanya saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau seperti Hamka! Rajin belajar, suka membaca, dan jadi orang yang baik"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkejut sekaligus bangga dengan anak-anak dan juga penulis buku&lt;br /&gt;biografi Hamka. Yang paling saya salut, tampilan buku itu sebenarnya&lt;br /&gt;tidak menarik kalau dibandingkan buku anak-anak saat ini yang full&lt;br /&gt;color dan indah, sebagiannya malah sudah robek karena cetakan lama.&lt;br /&gt;Tapi ternyata, ketika anak-anak membacanya, buku itu mampu membuat&lt;br /&gt;mereka memiliki impian yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampilan buku anak memang perlu menarik untuk menggaet para pembaca&lt;br /&gt;cilik menyukai kegiatan membaca. Tapi, isi buku anak juga sebaiknya&lt;br /&gt;memuat sesuatu yang berbobot untuk mensuplai kebutuhan 'gizi' akal dan&lt;br /&gt;ruhani mereka. Tantangan besar bagi para penulis buku anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-309107202622759343?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/309107202622759343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=309107202622759343&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/309107202622759343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/309107202622759343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/12/ingin-seperti-hamka.html' title='Ingin Seperti HAMKA'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-723625848082079348</id><published>2009-11-14T01:44:00.000-08:00</published><updated>2010-11-16T03:14:10.019-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Survival</title><content type='html'>Akhir-akhir ini saya sering memikirkan tentang hal-hal berbau survival. Bagaimana anak-anak nanti bisa bertahan hidup di tengah hiruk-pikuk manusia yang mencari kerja, mempertahankan kerja, dan juga mencari peluang usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan lagi rahasia jika saat ini lebih banyak jumlah pencari kerja ketimbang lapangan kerja. Kebayang kan, bagaimana lebih beratnya 'perjuangan' anak-anak kelak. Mereka akan dihadapkan pada perhelatan bertahan hidup yang jauh lebih keras. Apalagi jika anak-anak tak mengenyam bangku sekolah, apa jadinya mereka nanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kekhawatiran itu kemudian menipis saat saya akhirnya percaya satu hal. Kemandirian tidak datang dengan sendirinya. Kemandirian adalah produk pendidikan. Jika anak-anak tidak bisa mandiri pada saat mereka seharusnya sudah mandiri, maka model pendidikan-lah yang harus dievaluasi. Dan kami punya kesempatan untuk menerapkan model pendidikan yang berbeda dengan menjalankan home-education (pendidikan rumah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai pendidikan di bangku sekolah memberi ruang untuk anak-anak belajar tentang survival dan hal itu menyatu sebagai sebuah muatan pendidikan, pasti ada sesuatu yang berbeda bisa dihasilkan dari produk sekolahan. Bukan hanya bisa baca-tulis-hitung, bukan hanya mendapat selembar kertas ijazah, tapi juga membawa serta mentalitas seorang yang mampu bertahan, yang suka berjuang, yang berkehendak kuat untuk mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar, anak-anak sekolah terlalu 'dimanjakan' dengan suasana rutin teratur yang mematikan kreatvitas. Mereka harus berada dalam jadwal yang tak boleh dibantah. Pada waktu-waktu produktif, mereka harus melakukan hanya hal-hal yang diperintahkan dan bukan apa yang mereka minati untuk dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana-suasana seperti itu adalah miniatur dunia kerja. Dan jika pendidikan model seperti itu dirasakan anak-anak selama hampir 12 tahun jika sampai SMU dan 16 tahun jika sampai lulus PT, maka bisa dimaklumi jika akhirnya lulusan sekolah akan mencari situasi yang sudah mendarah-daging dalam dirinya yaitu BEKERJA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak ada yang buruk dari bekerja, tapi jika anak-anak memiliki mentalitas mandiri, ia tak akan mengandalkan BEKERJA sebagai satu-satunya jalan untuk bertahan hidup. Apalagi jika lapangan kerja ternyata sudah terlalu sesak untuk dimasuki. Go Survive!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-723625848082079348?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/723625848082079348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=723625848082079348&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/723625848082079348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/723625848082079348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/11/survival.html' title='Survival'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-8907969316892109140</id><published>2009-10-23T04:39:00.000-07:00</published><updated>2010-11-17T02:28:21.325-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Belajar Membaca: Bisa Karena Biasa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tulisan ini saya dedikasikan buat teman-teman yang bertanya tentang  &lt;a href="http://belajar-membaca.com"&gt;&lt;font color="blue"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cara Mengajar Anak Membaca&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;. Semoga bermanfaat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman dulu, anak 5 tahun bisa membaca adalah sesuatu yang langka. Orang tua juga jadi kecipratan bangga. Tapi saat ini, di mana dunia aksara sudah makin mewabah, akses terhadap bahan bacaan kian mudah, anak 3 tahun bisa membaca juga bukan lagi perkara langka. Persoalannya, bagaimana membuat anak-anak bisa membaca?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman saya, cara mengajar anak membaca sebenarnya tidak membutuhkan hal-hal yang baku, rumit, dan sangat terstruktur. Saya memang mengajar anak pertama dengan metode yang lumayan butuh pengorbanan, yaitu metode Glen Doman. Tiap malam sibuk bikin kartu baca. Tapi lucunya, untuk mengajari anak kedua, saya hanya pakai buku tulis biasa plus pensil/balpoin. Belajarnya hanya 5 menit sebelum tidur atau pas waktu senggang. Saya pun baru memulainya pada usia 4,5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang tidak berbeda antara kedua anak saya adalah, mereka sama-sama sangat suka membaca. Luqman, anak kedua, meskipun ia belum lancar baca tapi bisa bertahan lebih dari 30 menit untuk dibacakan buku. Bukan kami yang memintanya, melainkan dia sendiri yang memohon. Kadang-kadang bukan hanya orang tuanya atau kakaknya yang membacakan buku, siapa saja yang datang ke rumah, neneknya ataupun tantenya bisa saja di 'todong' untuk membacakan dia buku. Kesimpulannya, anak-anak sangat akrab dengan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam, saat saya mencicil buku To Kill a Mockingbird, saya menemukan kisah yang menarik. Diceritakan bahwa salah seorang tokoh bernama Scout, saat ia memasuki kelas satu SD telah lancar membaca koran, padahal teman-temannya yang lain baru akan diajari alfabet dan mengeja. Kemampuannya itu membuat gurunya sedikit kesal. Sang guru menyuruh Scout berkata pada ayahnya agar tidak mengajarinya lagi di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scout bingung. Ia pun berkata pada gurunya bahwa ayahnya tak pernah mengajarinya. Ayahnya terlalu sibuk. Jika pun ayahnya ada di rumah, ia malah sibuk membaca, sehingga tak sempat untuk mengajarinya membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penjelasan muridnya itu, sang guru tidak percaya dan bersikukuh agar Scout menyampaikan pesan pada ayahnya agar berhenti mengajarinya di rumah. Sang guru yakin bahwa tidaklah mungkin seorang anak bisa membaca tanpa diajari siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, memang bukanlah belajar secara sengaja yang membuat Scout bisa membaca, melainkan karena ia selalu berada di dekat dan bahkan di pangkuan ayahnya saat sang ayah (yang seorang pengacara) membaca keras-keras koran, draft undang-undang, ataupun kitab hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saking seringnya hal itu dilakukan. Scout kecil akhirnya bisa memecahkan rahasia kode-kode gabungan huruf tanpa ia sadari. Ia bisa membaca sebagaimana ia bisa mengancingkan baju. Semua tanpa proses yang terstruktur. Semua mengalir sebagai sebuah kebiasaan yang terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari semua fakta tersebut, saya menyimpulkan bahwa, sesungguhnya BISA MEMBACA tak selalu merupakan hasil dari belajar secara terstruktur. Bisa saja hal itu adalah output dari gemar membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita tidak menetapkan target kemampuan anak berdasarkan waktu atau usia mereka, maka cara ini adalah yang paling mudah, yaitu: Membacakan buku pada anak-anak setiap hari sampai mereka memiliki ketergantungan luar biasa pada buku. Lama kelamaan hal itu akan membuat mereka tergerak sendiri untuk belajar, entah dengan meminta bantuan kita ataupun belajar dengan sendirinya. Apakah Anda percaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak anak yang digegas untuk bisa baca hanya karena syarat untuk masuk sekolah, tapi akhirnya tak suka membaca. Menurut saya, bisa membaca hanyalah alat, sedangkan SUKA MEMBACA adalah target utama. Supaya keduanya tercapai, maka mengakrabkan anak-anak dengan buku sedari kecil, itulah cara yang tepat. Tak perlu buku mahal, buku murah atau buku bekas pun bisa, asalkan isinya bermutu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-8907969316892109140?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/8907969316892109140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=8907969316892109140&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8907969316892109140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8907969316892109140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/10/belajar-membaca-bisa-karena-biasa.html' title='Belajar Membaca: Bisa Karena Biasa'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-8062300159279916244</id><published>2009-10-11T00:05:00.000-07:00</published><updated>2009-10-11T01:12:26.094-07:00</updated><title type='text'>Mengambil Manfaat dari Membuat Sendiri</title><content type='html'>Sekarang memang zamannya serba instan. Mau makan ayam goreng tinggal beli, mau kue lapis tinggal beli, mau minum teh manis tinggal beli, mau baju baru juga tinggal beli. Karena itulah, otot tubuh manusia nampaknya makin pemalas untuk membuat ini dan itu, karena industri telah memenuhi lebih dari separuh kebutuhan hidup tanpa kita harus bersusah payah. Modalnya hanyalah 'uang'. Dengan uang semua kebutuhan bisa terpenuhi. Jadi, kebanyakan orang akhirnya memilih untuk berpayah-payah mencari uang daripada memproduksi sendiri kebutuhan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menurut saya, hal itu adalah gerakan perubahan yang kurang membangun. Mengikuti arus kehidupan kebanyakan orang memang paling gampang karena semuanya sudah terprediksi, tapi saya percaya hal itu merupakan salah satu pemicu yang akan membuat generasi penerus kita menjadi anak-anak yang kurang produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasak sendiri, menanam sayuran sendiri, membuat mainan sendiri, mengobati diri sendiri, membuat lem, sabun, menjahit baju, dan hal-hal semacam itu sendiri menurut saya akan bermanfaat banyak untuk membentuk kebiasaan produktif pada anak-anak. Bukan hasilnya yang penting, tapi prosesnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan serba membuat sendiri yang kita lakukan bersama anak lambat laun akan membuat mereka menikmati dan menghargai proses. Semuanya mungkin menjadi agak lambat jika dibandingkan membeli atau memesan pada orang lain, tapi dari situlah anak-anak juga belajar tentang hal lain, seperti bersabar, tekun, kreatif, inovatif, dan organ motoriknya pun bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat orang tua yang masih konvensional, masih serba membuat sendiri, bergembiralah, karena semua itu insya Allah akan berbuah manis nantinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-8062300159279916244?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/8062300159279916244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=8062300159279916244&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8062300159279916244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8062300159279916244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/10/manfaat-dari-serba-membuat-sendiri.html' title='Mengambil Manfaat dari Membuat Sendiri'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-350967693590968765</id><published>2009-09-24T16:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-24T16:53:12.220-07:00</updated><title type='text'>Ketika Anak-Anak Ingin Tahu Hal-Hal Ghaib</title><content type='html'>Rasa ingin tahu anak-anak terhadap hal-hal yang berbau metafisik akhir-akhir ini meningkat. Mereka bertanya tentang surga, tentang azab, tentang malaikat, tentang nabi, tentang iblis, tentang kiamat dan hakikat kematian. Buku-buku dengan tema agama sekarang jadi lebih dominan dibaca anak-anak. Pertanyaan-pertanyaan pelik pun mulai bermunculan: Apakah Allah itu suka berpindah-pindah? Di mana Allah tinggal? Apakah kita bisa bertemu dengan Nabi Muhammad? dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menyimak dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dalam hati saya terkejut. Tapi kemudian hal itu menyadarkan saya dan suami bahwa sepertinya memang telah tiba saatnya untuk mulai memperkenalkan Tuhan dan segala fenomena kehidupan kepada anak-anak. Mereka nampaknya telah siap menyerap pengetahuan tentang itu untuk menjadi bekal mereka mengarungi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Azkia menangis dan berkata, "Kakak nggak mau mati!". Saya terkejut mendengarnya. Setelah tangisnya reda saya bertanya kenapa dia berkata seperti itu. Rupanya Azkia membaca sebuah buku yang menceritakan pengalaman anak-anak yang tersesat ke "alam lain" saat bermain ke hutan. Di bagian akhir digambarkan tentang kembalinya anak-anak itu ke dunia nyata dengan menenggelamkan diri di sebuh danau di "negeri ghaib".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah kami menjelaskan tentang apa itu kematian dan kenapa kita tak perlu takut dengan kematian. Sesungguhnya ketika orang itu mati, maka ia tidaklah mati, melainkan hidup kembali, hanya alamnya saja yang berbeda. Ketika orang mati, sebenarnya ia sedang menemui Allah. Di alam akhirat itulah ada tempat bernama Surga, yang disediakan untuk orang-orang yang baik. Karena itulah kita harus menjadi orang yang patuh kepada Allah, jadi orang yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luqman bertanya, "Tapi di Surga kan nggak ada mainan! Ada balok-balok nggak? Ada ayunan nggak?"&lt;br /&gt;Papanya berkata, "Wah, De... di Surga malah ada sungai susu!" Anak-anak tertawa terbahak-bahak, "Masak sih ada sungai susu!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya bilang bahwa setelah orang itu mati dia hidup lagi, Luqman bertanya, "Mama, bagaimana kalau setelah hidup lagi manusia mati lagi. Hayooo gimana?" He he he... saya ketawa dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog pun menjadi panjang. Anak-anak terlihat antusias mendengar cerita tentang alam akhirat dan kaitannya dengan dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang usai perbincangan Azkia lalu bertanya, "Apakah kita akan bertemu lagi setelah mati?" Kami bilang ya Insya Allah. Kalau kita jadi orang-orang yang sholeh, maka semua orang sholeh akan dipertemukan kembali dengan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azkia terlihat berpikir, lalu bertanya lagi, "Apakah kalau kita dikubur di tempat yang berbeda, kita tetap bisa berkumpul lagi?" ya Insya Allah... saya bilang. Azkia tersenyum setelah itu dan memeluk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran agama mungkin menjemukan jika disajikan dalam sebuah buku pelajaran terstruktur yang harus dihapal. Tapi saya menemukan anak-anak begitu antusias mempelajari semua itu justru lewat dialog-dialog spontan di tempat tidur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-350967693590968765?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/350967693590968765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=350967693590968765&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/350967693590968765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/350967693590968765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/09/ketika-anak-anak-ingin-tahu-hal-hal.html' title='Ketika Anak-Anak Ingin Tahu Hal-Hal Ghaib'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-5380122708733774102</id><published>2009-09-23T18:09:00.000-07:00</published><updated>2009-09-23T18:11:07.056-07:00</updated><title type='text'>Mencari Seorang Guru</title><content type='html'>Bayi yang sehat, gemuk, dan cantik lahir pada bulan Oktober 2002. Di antara kegembiraan karena kehadiran putri pertamanya, ibu si bayi merasa masalah lain telah datang. Mau diapakan bayinya selain diberi ASI, dimandikan, dan diganti popoknya setiap hari? Sepertinya, meski ia seorang sarjana, demikian kosong pengetahuan tentang bagaimana mengisi hari-hari bayinya dengan hal-hal berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat usia bayi mencapai kurang lebih 6 bulan, desakan untuk mencari tahu banyak hal tentang pengasuhan dan pendidikan bayi semakin kuat. Diperoleh-lah kabar tentang seorang penulis buku yang biasa mengisi siaran di sebuah radio swasta. Penulis buku itu adalah seorang ibu yang kabarnya sangat kompeten dalam hal mendidik anak. Nomor teleponnya pun didapat dan sang ibu memberanikan diri untuk menghubunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara yang ramah pun terdengar, dan obrolan ditelepon itu pun berlanjut dengan janji&lt;br /&gt;bertemu. Si penulis mengusulkan untuk bertemu di masjid sebuah kampus supaya sang ibu tak perlu jauh-jauh ke rumahnya yang ternyata tak terjangkau angkot. Harus naik ojek mendaki untuk mencapai rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari bertemu pun tiba, sang ibu begitu bersemangat, bahkan berusaha untuk datang lebih awal. Setibanya di pelataran masjid yang dijanjikan, sang ibu mengedarkan pandangannya ke sekeliling masjid kalau-kalau 'guru' yang hendak ditemuinya sudah ada di sana. Namun, 30 menit pun berlalu, dan tak ada tanda-tanda sama sekali kalau di sekitar masjid ada seseorang yang sedang menunggu untuk bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah terakhir pun diambil. Berbekal nomor HP si penulis, sang ibu menuju wartel terdekat. Telepon akhirnya terhubung, dan dengan penuh penyesalan, terdengar suara si penulis, "Mbak, maafkan saya... Saya kehilangan nomor telepon rumah Mbak. Tadi pagi tiba-tiba saya dipanggil datang ke studio karena ada acara mendadak. Saya mau kabari tapi saya benar-benar kehilangan nomor kontak. Kita mungkin bisa janjian lain kali yaa... Sekali lagi mohon maaf."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lesu dan kecewa, sang ibu pun mengiyakan. Mau bagaimana lagi. Dan ia pun tahu, untuk membuat janji bertemu lagi adalah hal yang tidak mudah. Kemungkinan akan terjadi lagi hal seperti ini sangat besar, karena sepertinya si penulis adalah orang yang sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, di tengah kekecewaannya yang sangat besar, sang ibu pun akhirnya terlecut untuk belajar lewat media yang lain. Ia memutuskan untuk berburu banyak referensi bacaan, buku, majalah, ikut seminar-seminar yang berbicara tentang dunia parenting. Ia banyak menyempatkan waktu untuk membaca buku-buku sulit dan berdiskusi dengan suaminya. Ia sadar, untuk mendapatkan pengetahuan tak bisa mengandalkan orang lain. Ia sendirilah yang harus mencari tahu, belajar sendiri. Bukankah memang dunia mendidik anak-anak, ilmu menjadi orang tua tidaklah ada sekolahnya? Kita harus belajar secara autodidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar, pengalaman sang ibu mencari seorang guru membuatnya bertemu dengan banyak pengetahuan baru setelahnya. Wawasan-wawasan yang selama ini terpendam akhirnya ditemukan. Guru' ternyata tak selalu harus berwujud manusia. Karya-karya tulis yang dibuat banyak guru di dunia ini justru begitu mudah diakses dengan kehadiran buku. Siapapun bisa menjadi muridnya asalkan dia mau membaca. Ayo membaca!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-5380122708733774102?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/5380122708733774102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=5380122708733774102&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5380122708733774102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5380122708733774102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/09/mencari-seorang-guru.html' title='Mencari Seorang Guru'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-8154842474205497394</id><published>2009-09-12T08:55:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:59:55.839-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LombaBlogDepok 17 Juli – 17 September 2010'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Tokoh Idola Anak-Anak</title><content type='html'>Saat berumur 3 tahun anak saya Luqman (sekarang 5 tahun) sempat mengidolakan N**uto, karena anak tetangga kami yang sebaya dengannya sering memakai atribut-atribut sang hero itu. Meskipun tidak pernah menonton filmnya di rumah, rupanya sempat sesekali ia ikut menonton saat main ke rumah temannya itu. Akibatnya, ia jadi suka main tembak-tembakan walaupun pura-pura. Keluar pula kata-kata serampangan, "Bodoh! baong!" dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena khawatir tokoh itu terus hidup di kepalanya, saya stop acara kunjungan ke rumah tetangga buat anak saya. Ia hanya boleh main di halaman dan tidak boleh main di dalam rumah temannya. Saya coba ganti sosok tokoh idola buat anak saya dengan memberikan jadwal nonton film animasi lain, waktu itu ada Barrenstein Bear di Space Toon. Alhamdulillah berhasil. Ceritanya sangat bagus, tapi sayang kemudian berhenti penayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktupun berlalu, dan sepertinya tokoh idola itu memang selalu dicari oleh anak saya. Entah mengapa, ia pun jadi nge-fans dengan spiderman. Sampai-sampai ia ingin dibelikan baju bergambar sang hero yang satu ini. Bajunya langsung cepat lecek, karena hampir selang sehari langsung dipakai, kecuali kalau dicuci. Secara reflek dia akan bergerak bak pahlawan yang menyerang musuhnya. Tali dan benang terikat ke sana kemari, dari kaki meja ke kursi, dari rak buku ke lemari. Semua menyerupai jaring laba-laba. Saya sering jatuh kalau tanpa sengaja kaki tersandung tali-tali itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiderman cukup awet mempengaruhi pikiran Luqman hingga beberapa lama, hingga muncul tokoh baru yang ia lihat dari stiker-stiker pemberian seorang teman untuk anak-anak saya. Lelaki gagah, bersayap kain panjang yang menjuntai di punggungnya. Akibat mengidoalakan tokoh itu, kerudung ibunya pun jadi sasaran. Dengan mengikatkan dua ujung kerudung di lehernya, anak saya sudah berubah jadi seorang superman kecil yang berlari dan kadang melompat dari atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun akhir-akhir ini, sejak saya belikan serial kisah nabi-nabi sepertinya tokoh idola anak saya sudah berubah sama sekali. Dia tidak mau lagi disebut spiderman ataupun superman, tak lagi membuat sayap tiruan di punggungnya, ataupun menjalin tali temali di kaki meja. Tokoh panutannya sekarang adalah sosok anak lelaki yang pemberani yang ada dalam kisah nabi dan sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh pertama adalah Nabi Daud a.s. Buku berjudul Daud Sang Penakluk, mengisahkan perlawanan Bani Israil yang dipimpin Raja Thalut terhadap kesewenang-wenangan Jalut. Saat itulah hadir Daud kecil menunjukkan keberaniannya melawan Jalut yang bertubuh besar dan kuat, hingga akhirnya Jalut kalah di tangan Daud. Buku ini minta dibacakan hingga berulang-ulang, dan bahkan Luqman berusaha keras membaca sendiri, padahal sebelumnya agak malas melancarkan bacaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tokoh berikutnya yang kini sedang digandrungi Luqman adalah Ali bin Abi Thalib. Berbagai kisah tentang Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kelihatannya banyak mempengaruhi dia. Memang, awal kekaguman Luqman pada tokoh idolanya selalu dimulai dengan kisah heroik. Dalam film Muhammad The Last Prophet yang ditontonnya berulang-ulang, digambarkan tentang Ali kecil yang tidur di ranjang Nabi untuk mengelabui para pemuka Quraisy. Sungguh itu merupakan keberanian yang sangat menakjubkan di mata anak saya. Apalagi sewaktu membaca kisah perobohan benteng khaibar oleh Ali bin Abi Thalib dengan pedang Zulfikar pemberian Nabi, sepertinya, kekaguman itu semakin hari semakin terpatri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang Luqman jadi lebih rajin ikut shalat berjamaah bareng papanya dan juga kakaknya, padahal biasanya dia bolong-bolong. Seringnya absen untuk ikut sholat. Saat kami tanya kenapa dia jadi rajin sholat, Luqman pun menjawab, "Karena Ade ingin seperti Ali bin Abi Thalib. Ali kan anak yang rajin sholat!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya karena kami sering bercerita bahwa Ali bin Abi Thalib sudah ikut sholat bersama Nabi sejak ia masih kecil, anak saya jadi terus memikirkannya dan ingin menirunya juga. Subhanallah! Betapa hebat pengaruh seorang tokoh idola yang hidup di pikiran anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun mungkin agak terlambat, karena harus menunggu hingga anak lelaki saya berumur 5 tahun, saya baru mengerti dan menyadari sekarang bahwa kita, para orang tua, sesungguhnya ikut andil dalam menghadirkan tokoh yang akan digandrungi oleh anak-anak kita. Negatif atau positifnya tokoh idola mereka, tergantung dari apa tayangan, bacaan, dan kisah yang kita sajikan buat mereka. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk konsisten memberikan hanya yang baik untuk anak-anak kita. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-8154842474205497394?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/8154842474205497394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=8154842474205497394&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8154842474205497394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8154842474205497394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/09/tokoh-idola-anak-anak.html' title='Tokoh Idola Anak-Anak'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-2249246726940310527</id><published>2009-09-02T19:52:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T19:55:10.041-07:00</updated><title type='text'>Gempa dan Anak-Anak</title><content type='html'>Gempa di sore 2 September 2009 memang mengejutkan seperti halnya gempa pada umumnya. Yang berbeda saya rasakan pada gempa kali ini adalah sikap anak-anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siangnya, entah mengapa Azkia terus berbicara saat kami sedang di halaman. Sepertinya ia mengafirmasi ulang kata-kata yang ia baca di buku dan pernah diceritakan papanya, "Langit dan bumi milik Allah, Allah-lah yang menciptakannya. Manusia  tidak akan pernah tahu kapan ia akan kembali kepada Allah.... dan seterusnya hingga adiknya pun menimpali dengan kalimat-kalimat yang nyaris sama".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dengarkan saja sambil hati sedikit "kecut" mendengarnya. Mungkin karena mendengar dari ocehan anak kecil yang jiwanya masih relatif bersih dibandingkan saya orang dewasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat gempa mulai terasa di sore harinya saya tersentak. Kami memanggil anak-anak untuk keluar. Luqman sepertinya sedang di dapur. Dia agak lama datang sewaktu dipanggil. Baru setelahnya saya tahu. ternyata dia sedang memanjat meja untuk mengambil plastik saat getaran mulai terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalanan depan rumah kami berkumpul dengan hati was-was. Anak-anak dipeluk sambil terus berdzikir. Luqman belum menyadari apa yang terjadi, sehingga dia terus bertanya, "Mama, kenapa buminya berguncang begini? Kenapa Mama? Ade takut!". Kami pun katakan padanya bahwa ini adalah gempa bumi, kita berdoa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah getaran akhirnya mereda,  kami mulai naik ke teras rumah sambil tetap waspada. Setelah itulah banyak kejutan terjadi. Anak-anak masih kami minta untuk tetap di luar selama beberapa saat. Setelah merasa cukup aman, baru mereka masuk rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azkia meminta ikut shalat ashar sama papanya, sedangkan Luqman bersama saya. Dia terus berceloteh, "Mama, Ade takut kalau malam-malam ada gempa lagi. Gimana kita keluarnya kan gelap" &lt;br /&gt; "Tadi Ade pikir ada manusia yang terbang ke atas lalu mengguncangkan bumi" katanya lagi penuh imajinasi dan rasa penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis sholat ashar Azkia berbisik, "Mama, sehabis sholat tadi Kakak berdo'a kepada Allah, Kakak ingin jadi anak yang baik, patuh pada Allah, selalu sholat, patuh pada orang tua". Saya nggak tahan untuk tidak memeluk dan mencium dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu saya mulai memasak di dapur, anak-anak di teras bersama papanya dan mulai mengobrol tentang topik gempa. Mereka jadi penasaran mengapa gempa terjadi. Saya ambilkan satu buku lama yang berbicara tentang pergerakan bumi dan membiarkan mereka membaca dan membahasnya. Luqman bertanya, "Lalu siapa yang bisa menghentikan gempa?", dan Azkia menjawab dengan tangkas, "Allah De... Allah yang menciptakan bumi ini, bukan manusia. Jadi Allah saja yang bisa menghentikan gempa" ujarnya sebijak seorang alim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Luqman tergopoh-gopoh ke rak buku. Sepertinya mencari sesuatu. Lama-lama dia minta tolong dengan setengah memaksa pada papanya untuk mengambilkan Al Qur'an terjemahan, karena ia tak juga menemukannya. Setelah diberikan Luqman menarik papanya duduk, meminta dibacakan ayat Al Quran tentang guncangan bumi. Sedikit heran memang, tapi kemudian suami saya memenuhi permintaan Luqman karena si kecil itu seperti hampir menangis karena ingin sekali mendapat berita tentang semua yang barusan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, sambil memasak hati saya terus tak henti memuji kebesaran Allah, karena telah menganugerahi anak-anak saya dengan kepekaan spiritual jauh melampaui apa yang saya bayangkan. Dulu, saat saya seusia mereka, saya hanyalah anak kecil yang tak banyak tahu dan tak punya sensitivitas ketuhanan seperti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, semoga mereka benar-benar jadi anak yang tidak hanya pintar, tapi juga shaleh. Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-2249246726940310527?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/2249246726940310527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=2249246726940310527&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2249246726940310527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2249246726940310527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/09/gempa-dan-anak-anak.html' title='Gempa dan Anak-Anak'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-4048686900438587404</id><published>2009-08-14T05:29:00.000-07:00</published><updated>2009-08-14T07:10:34.129-07:00</updated><title type='text'>Portofolio Alternatif</title><content type='html'>Apa arti portofolio bagi anak-anak yang menjalankan pendidikan rumah? Tentu saja sangat banyak. Di antaranya adalah sebagai jejak rekam perjalanan belajar mereka, sebagai buku rapor panjang lebar yang akan menjadi bukti bahwa anak-anak memang mempelajari sesuatu meski tak pergi ke sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kesulitan membuat portofolio biasanya terletak pada pengarsipan. Beberapa keluarga mungkin begitu teraturnya menyimpan, mencatat, dan mendokumentasikan seluruh aktivitas anak-anak, sehingga level pelajaran, jam belajar, hingga detail kegiatan tercatat sempurna. Namun sebagian keluarga lain menyimpan "file-file" belajar anak, baik berupa foto aktivitas, tulisan tangan, gambar, atau materi apapun secara acak. Setelah dikumpulkan sampai sekian banyak, baru pada waktu-waktu tertentu "file-file" itu diorganisir kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Portofolio Alternatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat agak bingung juga dengan persoalan portofolio, khususnya untuk pelajaran-pelajaran yang memang terstruktur. Untuk hal-hal yang insidental mungkin cukup mudah: Ambil fotonya, tuliskan review-nya, lalu simpan di file case.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru dua minggu terakhir ini saya menemukan model portofolio yang pas buat kami untuk merekam pelajaran terstruktur, yaitu model 'kuno', memakai buku tulis biasa. Satu buku tulis akan memuat 1 mata pelajaran. Dengan begitu, siapapun yang menjadi pembimbing (apakah saya ataupun papanya), akan memakai buku yang sama untuk mata pelajaran tersebut. Tentu saja, sang pembimbing cukup melihat apa yang sudah dipelajari sebelumnya, lalu lanjutkan pada level berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sih, buku catatannya sedikit berantakan (maklum tulisan anak saya belum terlalu bagus), tapi jadi 'guru' anak level SD kelas satu sepertinya memang harus tahan dengan kondisi itu ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua buku tulis yang akan dipakai belajar ditempatkan dalam sebuah tas khusus. Jadi, disiplin sederhana untuk anak saya sehubungan dengan itu hanyalah "Selalu memasukkan kembali buku dan alat tulis ke dalam tas tersebut setiap kali selesai belajar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, begitulah bentuk portofolio alternatif untuk pelajaran terstruktur yang kami pilih sekarang ini. Mungkin sharing ini berguna.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-4048686900438587404?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/4048686900438587404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=4048686900438587404&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4048686900438587404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4048686900438587404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/08/portofolio-alternatif.html' title='Portofolio Alternatif'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-1006757021478654234</id><published>2009-08-12T07:16:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T03:18:02.657-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Sharing Membuat Jadwal Belajar</title><content type='html'>Bagi orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah formal mungkin tidak terlalu harus dipusingkan dengan kegiatan membuat jadwal. Biasanya sekolah sudah membuatkan jadwal harian yang tetap. Anak-anak tinggal mengikutinya tanpa harus berpikir bagaimana mengelola jadwal belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, bagi keluarga praktisi pendidikan rumah, membuat jadwal belajar adalah tantangan tersendiri. Meskipun secara umum para pendidik rumahan menganut keyakinan bahwa anak-anak bisa belajar apa saja tanpa dibatasi waktu, namun kami sendiri menganggap jadwal tetap perlu, terutama untuk melatih kedisiplinan anak dan juga orang tuanya khusus untuk pelajaran-pelajaran tertentu yang butuh konsistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jadwal harian kami yang diusahakan tetap dalam seminggu terakhir ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Setelah bangun pagi boleh nonton VCD, entah film animasi fiktif ataupun animasi yang bermuatan pelajaran. Mereka bebas tentukan sendiri sesuai persediaan CD yang kami miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Setelah sarapan (sekitar jam 7.30) mereka Belajar IQRO, dan papanya yang mengambil peran sebagai tutor. Maklum, pagi-pagi ibu-ibu masih punya banyak urusan sisa sehabis memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jam 8.00 anak-anak diajak keluar untuk memanaskan badan, entah bermain sepeda di lapangan, atau mengurusi tanaman bersama saya. Yang jelas, targetnya adalah membuat tubuh mereka terkena sinar matahari pagi dan bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sekitar jam 9 atau 9.30 kami mulai masuk naungan. Istirahat sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Acara berikutnya adalah belajar hal-hal yang sifatnya terstruktur. Pelajaran yang sedang ditempuh secara terstruktur saat ini adalah matematika untuk Azkia dan membaca untuk Luqman adiknya. Kami biasa belajar di teras depan, karena suasananya lebih asyik, bisa sambil melihat tanaman dan menghirup udara segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Biasanya kami menghabiskan waktu belajar seperti ini hingga adzan dzuhur berkumandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sehabis sholat dzuhur dan makan siang, anak-anak boleh melakukan kegiatan bebas. Mau menggambar, mau bikin-bikin hasta karya, mau mengisi worksheet, teka-teki, ataupun hanya membaca buku. Karena panas sudah sangat terik di siang hari, semua kegiatan dilakukan di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Menjelang sore, anak-anak biasa keluar lagi, ngoprek air, ber-eksperimen ini dan itu di luar rumah sampai tiba waktu mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Saat hari sudah gelap, sesudah shalat Isya anak-anak bersiap untuk tidur. Selain minta diceritakan kisah-kisah atau dongeng oleh papanya, sebuah buku pasti sudah mereka siapkan. Luqman mengambil buku kesukaannya, dan sekarang sedang tertarik untuk dibacakan berulang-ulang buku berjudul ALAM. Azkia sudah jadi pembaca. Dia akan asyik dengan bacaannya sendiri menjelang tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Pengetahuan-pengetahuan populer yang bisa diperoleh dari membaca buku tidak menjadi fokus kami. Saya percaya, anak-anak mendapatkan input yang lebih banyak dari yang kami perkirakan dengan membaca buku sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya dengan sekolah formal, kami tidak membuat ulangan-ulangan tertulis untuk mengetes ingatan mereka tentang isi buku. Kami hanya sering mengajak mereka mengobrol sehingga mereka terkoneksi dengan pengetahuan yang sudah mereka dapat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, begitulah sharing kami tentang pembuatan jadwal belajar. Setiap keluarga pasti punya ritme yang berbeda-beda. Selamat berkreasi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-1006757021478654234?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/1006757021478654234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=1006757021478654234&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1006757021478654234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1006757021478654234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/08/sharing-membuat-jadwal-belajar.html' title='Sharing Membuat Jadwal Belajar'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-2288120754549575781</id><published>2009-08-06T18:05:00.000-07:00</published><updated>2009-08-06T18:29:53.921-07:00</updated><title type='text'>Stiker Berpola  Daun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Snt_5dDqeEI/AAAAAAAAAmc/yZTxqKs3c1k/s1600-h/DSCN0147.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 197px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Snt_5dDqeEI/AAAAAAAAAmc/yZTxqKs3c1k/s200/DSCN0147.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367024005971343426" /&gt;&lt;/a&gt;Kegiatan kami hari Kamis kemarin adalah membuat stiker dengan corak daun. Cetakan daun kami peroleh dari daun asli beberapa tumbuhan di halaman rumah. Ada daun tapak dara, kacapiring, mondokaki, daun puring, sledri, ginseng, dan daun tumbuhan alamanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun-daun itu direkatkan pada karton duplek, digambar polanya, lalu digunting. Pola yang mereka peroleh bisa dicetak di atas kertas stiker, lalu diwarnai sesuka mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SnuAdGa114I/AAAAAAAAAmk/0OPjEMwAbXI/s1600-h/DSCN0154-1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 184px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SnuAdGa114I/AAAAAAAAAmk/0OPjEMwAbXI/s200/DSCN0154-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367024618369832834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SnuBrqV9RuI/AAAAAAAAAms/ip-YXSbqXqs/s1600-h/Untitled-1+copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SnuBrqV9RuI/AAAAAAAAAms/ip-YXSbqXqs/s200/Untitled-1+copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367025968042821346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-2288120754549575781?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/2288120754549575781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=2288120754549575781&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2288120754549575781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2288120754549575781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/08/stiker-bercorak-daun.html' title='Stiker Berpola  Daun'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Snt_5dDqeEI/AAAAAAAAAmc/yZTxqKs3c1k/s72-c/DSCN0147.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3018576303474126406</id><published>2009-08-06T06:10:00.000-07:00</published><updated>2009-08-06T21:09:36.366-07:00</updated><title type='text'>Nature Study, dari Siapa Anak-Anak Belajar?</title><content type='html'>Di sekolah, secara makro anak-anak mungkin mendapatkan pelajaran tentang dampak penggundulan hutan, timbulnya erosi, lalu datanglah banjir merusak desa-desa di bagian bawah gunung atau bukit. Demikian juga tentang dampak sampah yang dibuang sembarangan ke sungai, anak-anak SD pun pasti sudah tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, cukupkah pengetahuan itu memberikan suntikan kesadaran sehingga anak-anak mau berkontribusi melestarikan dan merawat alam ini? Idealnya, pengetahuan tentang alam mampu mendorong tindakan nyata dari anak-anak, setidaknya dalam sebuah tindakan kecil, seperti menanam satu tumbuhan di halaman rumahnya untuk menyumbangkan sedikit pasokan oksigen bagi kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menyuntikkan visi mengapa sesuatu itu dipelajari, pelajaran akhirnya menguap hanya menjadi awan pengetahuan yang tak sanggup berubah menjadi hujan tindakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga adalah harapan terakhir ketika pendidikan formal benar-benar hanya menjadi sebuah formalitas yang tak berkesan. Sekian tahun ke depan, apakah anak-anak kita akan menjadi manusia yang peduli dengan kelestarian alam ini? Keluarga-lah yang mampu membuatnya demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah anak-anak ibarat tanah liat? Mereka masih bisa dibentuk menjadi apapun. Pikiran dan antusiasme mereka bisa diarahkan menuju apapun. Tugas orang tua-lah  membawa mereka memasuki pengetahuan dan pemahaman yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tunda lagi... Nature Study adalah salah satu basis pengetahuan yang akan membuat anak-anak kita arif dan ramah berperilaku terhadap alam tempat ia hidup. Dan orang tua bisa mengambil peran sebagai fasilitator anak-anak untuk memperlajari hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perenungan mendalam tentang fungsi orang tua bagi anak-anaknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3018576303474126406?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3018576303474126406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3018576303474126406&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3018576303474126406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3018576303474126406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/08/nature-study-dari-siapa-anak-anak.html' title='Nature Study, dari Siapa Anak-Anak Belajar?'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-4304712169372366320</id><published>2009-08-05T19:06:00.000-07:00</published><updated>2009-08-05T19:28:07.089-07:00</updated><title type='text'>Geografi dan Peta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Sno9xb9qXiI/AAAAAAAAAmU/jfXBXC39i_c/s1600-h/tes+034.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 146px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Sno9xb9qXiI/AAAAAAAAAmU/jfXBXC39i_c/s200/tes+034.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5366669825494638114" /&gt;&lt;/a&gt;Berbekal buku Geografi dan Peta dari Educational Tecnologies Limited untuk memperkenalkan konsep peta dan free resource dari &lt;a href="http://www.eduplace.com/ss/maps/"&gt;&lt;font color="red"&gt;www.eduplace.com&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;, Rabu (5/8) anak-anak belajar tentang peta. Tidak muluk-muluk, untuk anak usia 5 dan 7 tahun kami cukup memperlihatkan gunanya peta dan mencoba membuat peta sederhana dengan objek rumah kami sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu, awalnya mereka rikuh tak berminat, karena dalam bayangan mereka pastilah belajar tentang itu tak akan menarik. Akan tetapi, setelah mencoba membuat denah rumah, dan mereka diajak untuk mencari tahu di mana letak ruang tamu, dapur, kamar tidur, kamar mandi, dan letak benda-benda milik mereka, akhirnya mulailah wajah antusias muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini dan beberapa hari berikutnya, mereka akan terus diajak memahami peta secara langsung. Papanya mengajak mereka keluar menjelajah pesawahan dan saya kira itu momentum yang tepat untuk menerapkan konsep peta dalam dunia nyata.&lt;a href="http://www.eduplace.com/ss/maps/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-4304712169372366320?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/4304712169372366320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=4304712169372366320&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4304712169372366320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4304712169372366320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/08/geografi-dan-peta.html' title='Geografi dan Peta'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Sno9xb9qXiI/AAAAAAAAAmU/jfXBXC39i_c/s72-c/tes+034.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3949604283242842594</id><published>2009-07-25T19:27:00.000-07:00</published><updated>2010-11-17T02:35:03.694-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Pendidikan dan Percakapan</title><content type='html'>Anak-anak memang tak terhentikan. Gejolak untuk mencoba apa yang mereka pikir asyik untuk dicoba ternyata memang luar biasa besar, walaupun yang mereka coba mungkin membuat orang tuanya sedikit 'gusar'. Saya tak yakin bisa menghentikan mereka saat rasa ingin mencoba itu datang. Larangan hanya didengar beberapa detik lalu menguap ditiup angin. Dan sesungguhnya, tanpa alasan yang kuat saya malah mati kata untuk melarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini pun mereka sedang mencuri kesempatan bermain di antara pasir sisa bahan bangunan. Saya memilih untuk tidak melarang mereka, karena jikapun mereka berhenti bergumul dengan pasir, mereka akan pindah bermain "tepung" tanah yang melimpah di tepian kebun. Dan itu jauh lebih buruk, karena debu-debu tanah itu akan menghambur terisap atau menerpa wajah dan rambut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan mereka berdua di atas pasir biasanya tak lepas dari percakapan pura-pura yang sebenarnya menarik untuk disimak. Mereka sedang membuat jalan kereta api, membuat gunung, dan Luqman bilang bahwa rumahnya adalah matrial. Ya, anak lelaki saya itu memang begitu takjub saat pertama kali dibawa papanya pergi berbelanja bahan bangunan. Matanya langsung "scanning" melihat semua yang ada di toko bangunan (matrial) dan mulai bertanya ini dan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di tempat yang berbeda, di lapangan rumput dekat rumah kami beberapa anak sekolah main layangan. Dan apa yang saya dengar dari mereka? Berhamburan kata-kata kotor bersahut-sahutan. Nama-nama binatang bergantian disematkan pada lawan bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari manakah anak-anak itu mendapatkan kosa kata yang sungguh tak nyaman untuk didengar? Di sekolah kah ataukah di rumahnya? Yang jelas, menurut saya kosa kata adalah produk pendidikan. Pendidikan bisa dilakukan di mana saja, di sekolah atau di rumah tidaklah ada bedanya. Namun salahkah jika kami memilih mendidik sendiri anak-anak kami di rumah dan memilihkan teman yang baik untuk mereka karena kami ingin mereka punya kosa kata yang baik,  cara berpikir yang baik, dan teman bergaul yang baik?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3949604283242842594?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3949604283242842594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3949604283242842594&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3949604283242842594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3949604283242842594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/07/pendidikan-dan-percakapan.html' title='Pendidikan dan Percakapan'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-1390686185278219683</id><published>2009-07-21T17:33:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:57:53.795-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LombaBlogDepok 17 Juli – 17 September 2010'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Hidup Sederhana</title><content type='html'>Tingkat perekonomian keluarga yang meningkat biasanya mau tidak mau akan berimbas pada perubahan gaya hidup. Jika sebelumnya selalu menimbang dan memilih dengan selektif apapun yang hendak dibeli, setelah ekonomi meningkat kita jadi sembarangan berbelanja. Tak peduli mahal asalkan kita mau, ya beli saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat keluarga adalah pusat pembentukan karakter dan juga gaya hidup anak-anak, maka sesungguhnya sangat diperlukan konsep yang kuat dalam memilih  model perilaku  hidup yang akan dijalankan. Anak-anak akan menjadi duplikat orang tuanya dalam model kehidupan, kecuali ada keberuntungan mereka menemukan model sendiri di luar kebiasaan keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup sederhana adalah satu model yang menurut saya tak boleh berhenti untuk ditularkan pada anak-anak. Tak peduli kita sedang berekonomi kuat ataupun sedang dan juga lemah, latihlah diri kita dan juga anak-anak untuk tetap sederhana. Sederhana bukanlah berarti menyiksa diri, melainkan berusaha ada di pertengahan. Dengan begitu, kita dan anak-anak akan selalu menikmati hidup, meski di zona ekonomi manapun kita berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kongkret latihan buat anak-anak adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kebiasaan Makan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Biasakan anak-anak makan makanan buatan sendiri yang sederhana tapi sehat (Mungkin tempe, tahu, telur, dan sayuran), bahkan sesekali ajarilah anak-anak untuk makan makanan seadanya yang tersedia di dapur ketika mereka lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berpakaian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sentuhlah jiwa sederhana anak-anak dengan kebiasaan berpakaian yang juga sederhana. Tanamkan rasa percaya diri anak bukan pada pakaian yang berharga mahal, sehingga mereka tak perlu minder dengan pakaian yang mereka kenakan hanya karena harganya murah. Sikap konsumtif salah satunya terlahir dari keinginan untuk berpakaian yang mahal bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mainan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mainan disinyalir merupakan item yang cukup menghabiskan dana yang besar dalam memenuhi kebutuhan anak, terlebih kini sedang populer sosialisasi pentingnya mainan edukatif. Harganya bahkan bisa mencapai jutaan rupiah jika berasal dari luar negeri. Orang tua yang permisif, biasanya ikut maunya anak-anak membeli mainan ini dan itu, walaupun harganya menguras isi kantong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya mainan edukatif tak selalu harus mahal dan tak selalu pula harus dibeli. Isi rumah kita tak jarang bisa sekaligus menjadi mainan edukatif yang murah. Tak percaya? Contohnya saja perabotan rumah tangga. Kalau di toko mainan ada seperangkat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cooking toys&lt;/span&gt;, maka mengapa tak pakai saja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the real cooking ware&lt;/span&gt; yang kita miliki. Kalau perabotannya dalam keadaan bersih, anak-anak bisa juga kok memainkan wajan, panci, piring plastik, sendok, garpu, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks mengajarkan hidup sederhana pada anak-anak, semuanya pada akhirnya akan merangsang kreativitas kita sebagai orang tua dan tanpa sadar akan menular pada anak-anak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering secara sengaja "mengamankan" kotak mainan anak-anak ke atas lemari. Hasilnya, setelah mereka sedikit kelimpungan pada awalnya, tapi kemudian otot kreatif mereka sepertinya mulai bekerja. Mereka akan ambil selotip, spidol, kertas-kertas, cari gunting, cari kardus bekas atau botol-botol bekas air mineral, cari benang, dan lain-lain. Lalu mereka sibuk mengoprek semua itu hingga jadi sesuatu yang bisa dimainkan. Setelah diperhatikan, nyatanya mereka bisa lebih asyik dengan alat bermain yang mereka ciptakan sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup sederhana itu sebenarnya indah buat mereka yang menghayatinya. Saya sendiri berharap anak-anak bisa merasakan indahnya hidup sederhana. Karena itulah saya berusaha mengajari mereka untuk memiliki sikap itu sedari mereka kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam pendidikan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-1390686185278219683?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/1390686185278219683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=1390686185278219683&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1390686185278219683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1390686185278219683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/07/hidup-sederhana.html' title='Hidup Sederhana'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-1461773989173976435</id><published>2009-07-19T03:29:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T05:23:32.292-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Pestisida</title><content type='html'>Dalam perjalanan  pulang dari museum geologi (Minggu, 19 Juli), sehabis acara launching Asosiasi Praktisi Pendidikan Rumah (ASPIRASI) wilayah Bandung, anak saya Luqman duduk di samping saya. Ia sempat tertidur di bis, tapi di jalan tol ia terbangun. Matanya langsung segar. Mungkin karena melihat pesawahan di sepanjang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama setelah itu, anak saya tiba-tiba berkata, “Mama, coba  kita punya penyemprot pestisida…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” Tanya saya.&lt;br /&gt;“Supaya tanaman-tanaman tidak dimakan hama” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan anak saya itu tiba-tiba menyadarkan saya, bahwa dia sedang ingin tahu. Dan anak HE bisa belajar di mana saja, tak terkecuali di bis. Inilah saatnya mentransfer pengetahuan tentang apa itu pestisida dan apa bahayanya. Dia memang masih 5 tahun, tapi justru karena masih 5 tahun setiap informasi  akan jadi lebih melekat, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun jadi cerita tentang untuk apa pestisida dibuat dan apa bahayanya pestisida jika termakan oleh makhluk hidup. Saya jadi cerita tentang bukunya Rachel Carson “Silent Spring”, yang mengisahkan tentang musim semi yang jadi sepi karena burung-burung sudah tak lagi dapat bersuara. Mereka sakit bahkan mati, karena makanan yang mereka makan sudah banyak mengandung racun pestisida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun bilang pada anak saya, “Itulah kenapa kita menanam sayur sendiri di kebun… Supaya sayur yang kita makan tidak mengandung pestisida. Sayuran yang dibeli di pasar biasanya selalu disemprot pakai pestisida oleh para petaninya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak saya terdiam menyimak. Kemudian dia bertanya, “Kenapa para petani memakai pestisida?” &lt;br /&gt;“Mungkin karena mereka tidak tahu bahayanya,” ujar saya.&lt;br /&gt;"Kalau Ateu (Maksudnya tantenya yang kuliah di jurusan Hama Penyakit Tanaman)?" &lt;br /&gt;Saya bilang, "Ateu pake pestisida untuk belajar..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bis mulai keluar dari tol Cileunyi  dan berbelok ke arah Jatinangor, Luqman tiba-tiba berseru, “Kalau kita punya sawah, kita akan menanam padi-nya nggak pake pestisida. Jadi, kalau ada burung-burung yang makan padi kita, mereka nggak mati!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh… jadi haruuuuu banget hati ini mendengar kata-katanya. Berarti dia, anak yang kemarin (18 Juli) berulang tahun yang ke- 5 itu mengerti apa yang dikatakan ibunya. Semoga pengetahuan dan pemahaman itu membekas hingga ia dewasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-1461773989173976435?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/1461773989173976435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=1461773989173976435&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1461773989173976435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1461773989173976435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/07/pestisida.html' title='Pestisida'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-8907610628636142429</id><published>2009-07-03T02:30:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T03:11:18.884-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Film Alternatif Lebih Ramah Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Sk3fMih1p1I/AAAAAAAAAlM/Fs4PXvL6LPw/s1600-h/film.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 350px; height: 190px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Sk3fMih1p1I/AAAAAAAAAlM/Fs4PXvL6LPw/s200/film.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354180938533545810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang tua pasti miris melihat tayangan televisi yang mayoritas tidak cocok untuk anak-anak. Selain tayangan orang dewasa pada jam anak-anak, ternyata masalahnya juga terdapat pada pilihan film-film anak yang kebanyakan miskin nilai edukasi positif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlulah disebutkan apa saja film-film semacam itu, yang jelas ciri-ciri umumnya meliputi: Menampilkan adegan kekerasan dan mengekspos kata-kata 'kotor' (misalnya: Bodoh! Brengsek! Kurang ajar! dan kata makian lainnya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memindahkan kesenangan anak dari menonton pada kegiatan membaca buku memang paling ideal. Akan tetapi tak semudah itu memindahkan minat anak yang sudah terlanjur maniak nonton. Selain itu, sebenarnya juga tak ada salahnya anak-anak menonton jika tontonannya bermanfaat dan tidak berlebihan durasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, info ini mungkin berguna buat teman-teman sesama orang tua yang belum tahu tentang alternatif film yang lebih "ramah" anak, tentunya sebagai pengganti tontonan televisi yang kini makin riskan. Berikut daftar film-film-nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Postman PAT (Cerita boneka tentang seorang tukang pos yang baik hati, suka menolong, dan kreatif. Terdiri atas beberapa seri. (Harga Rp. 15.000, kecuali sedang discount bisa 10 ribuan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bob The Builder (Cerita boneka seputar kegiatan membuat bangunan), terdiri atas beberapa seri. (Harga Rp. 15.000--- kecuali sedang discount bisa 10 ribuan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Aku Anak Jenius (Seri ilmu pengetahuan animasi yang menarik. Belajar sains jadi asyik dan tidak membosankan), terdiri atas beberapa seri. (Harga Rp. 12.500 atau 10 ribuan kalau discount)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. VCD edutalk Bahasa - berbagai bahasa: Inggris, Jepang, Arab(harga agak lebih mahal tapi variatif. Kelebihannya: memakai native speaker sehingga bisa melatih spelling anak-anak menjadi lebih baik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Serial I Can Speak English (Harga 50 ribuan, isi 2 atau 3 CD. Isinya campuran film animasi dan dialog anak-anak oleh native speaker)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Edu-games Bobi Bola (VCD interaktif animasi yang cukup mendidik, harga agak lebih mahal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Serial Tupi dan Ping (Kategori: film animasi Islami)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Serial Fireman Sam (Film boneka tentang sebuah tim Pemadam Kebakaran yang dipimpin oleh Sam yang kreatif dan senang mengajari anak-anak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin banyak film lainnya yang kami belum tahu. Pada prinsipnya, meski mungkin akan terasa mahal jika membeli seri-seri film itu sekaligus, tapi kita bisa mencicilnya. Beli 1 VCD untuk 1 minggu atau mungkin 2 minggu atau mungkin 1 bulan. Jangan khawatir anak-anak bosan, toh film-film animasi di televisi juga biasanya terus diulang-ulang sampai beberapa kali untuk satu judul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berinvestasi sedikit untuk isi otak anak-anak jauh lebih baik daripada segalanya murah meriah di TV tapi merusak mereka di kemudian hari. Setuju?! :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-8907610628636142429?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/8907610628636142429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=8907610628636142429&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8907610628636142429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8907610628636142429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/07/film-alternatif-lebih-ramah-anak.html' title='Film Alternatif Lebih Ramah Anak'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Sk3fMih1p1I/AAAAAAAAAlM/Fs4PXvL6LPw/s72-c/film.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-7427209716545628505</id><published>2009-06-30T04:36:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:54:32.607-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='portofolio HE'/><title type='text'>Mengunjungi Kebun Sayur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SkoDma1H08I/AAAAAAAAAkU/Np9-y7KUcz8/s1600-h/DSCI0334-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 148px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SkoDma1H08I/AAAAAAAAAkU/Np9-y7KUcz8/s200/DSCI0334-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353095065655301058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SkoB8yjeVxI/AAAAAAAAAkM/Lz9wRi9X_yw/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 166px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SkoB8yjeVxI/AAAAAAAAAkM/Lz9wRi9X_yw/s200/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353093250957596434" /&gt;&lt;/a&gt;Jalan-jalan melihat kebun sayur sangat mengasyikkan. Anak-anak jadi tahu rupa tumbuhan sayur secara langsung. Saya sering mengajak mereka melihat-lihat kebun sayur di belakang komplek rumah kami di Tanjungsari.Dengan sepatu bot, menyandang tas dan payung, serasa deh akan berpetualang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu kami juga berkunjung ke Balai Penelitian Tanaman Sayuran(BALITSA) Lembang. Memang tidak semua sayuran kebetulan bisa dilihat. Sebagian sayuran seperti kentang dan wortel baru saja dipanen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-7427209716545628505?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/7427209716545628505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=7427209716545628505&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7427209716545628505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7427209716545628505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/06/membuat-telur-terapung.html' title='Mengunjungi Kebun Sayur'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SkoDma1H08I/AAAAAAAAAkU/Np9-y7KUcz8/s72-c/DSCI0334-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3800507194988221888</id><published>2009-06-14T22:50:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T23:19:52.226-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Informal</title><content type='html'>Homeschooling atau yang di-Indonesiakan menjadi sekolahrumah, merujuk pada  UU No. 20 tahun 2003 terkategori sebagai pendidikan informal. Apa artinya? Pendidikan informal adalah pendidikan yang dilaksanakan oleh keluarga dan lingkungan. Kedudukannya setara dengan pendidikan formal dan nonformal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, jika anak-anak yang dididik secara informal ini menghendaki ijazah karena berniat memasuki pendidikan formal pada jenjang yang lebih tinggi, maka peserta pendidikan informal bisa mengikuti ujian persamaan melalui PKBM atau lembaga nonformal sejenis yang menyelenggrakan ujian kesetaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan informal selama ini memang kurang dikenal oleh masyarakat, padahal inilah model pendidikan paling 'buhun' (kata orang Sunda) atau klasik. Orang tua jaman dulu, saat sekolah belum ada, hanya punya satu pilihan untuk mendidik anak-anak mereka, yaitu dengan mendidik sendiri. Kalaupun anak-anak berguru pada orang lain, itu dilakukan untuk menguasai keterampilan khusus lain yang tidak dikuasai orang tuanya. Pondasi pendidikan tetap berpusat pada keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana peran pendidikan informal bagi perubahan bangsa ini menjadi lebih baik? Saya kira hal itu akan sangat signifikan. Apalagi jika hal itu didukung oleh pemerintah, menguatnya kesadaran keluarga untuk menanamkan pondasi pendidikan di rumah akan membuat anak-anak memiliki memiliki visi hidup yang jelas, rasa optimis dengan masa depan, dan memiliki sikap hidup yang lebih posisitf karena berada dalam dukungan keluarga yang peduli dengan mereka secara keseluruhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal paling khas yang menjadi nilai lebih pendidikan informal dibandingkan model pendidikan lainnya adalah, kemungkinan yang lebih besar akan tergali dan terkelolanya potensi setiap anak secara maksimal. Bayangkanlah, banyak anak-anak yang bersekolah di sekolah formal, dengan aneka pelajaran dijejalkan pada mereka, ternyata pada akhirnya membuat mereka tak punya keterampilan mendeteksi bakat mereka sendiri, dan akhirnya mereka terjebak pada kebingungan memilih bidang kehidupan yang akan mereka jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang kuliah jurusan Sastra Jerman tapi akhirnya jadi Bankir. Ada yang kuliah di jurusan Ekonomi, setelah lulus malah jadi artis. Begitu banyak kasus-kasus di mana orang menjalani bidang kehidupan dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang yang ditekuninya di sekolah. Mengapa bisa begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya bahwa itu disebabkan karena anak-anak tidak dapat menyadari talentanya sedari awal. Seringnya talenta ditemukan di luar gedung sekolah. Padahal jika orang tua menyadari dan anak-anak pun mampu menemukan bakat mereka sejak kecil, hasilnya pasti akan berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau mencoba?&lt;br /&gt;Pendidikan informal tak buruk untuk dilirik oleh mereka yang menghendaki perubahan yang sangat mendasar dari generasi muda bangsa ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3800507194988221888?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3800507194988221888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3800507194988221888&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3800507194988221888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3800507194988221888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/06/pendidikan-informal.html' title='Pendidikan Informal'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-8667783232331080799</id><published>2009-05-26T01:26:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T01:56:56.371-07:00</updated><title type='text'>Belajar Bercocok Tanam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Shurvj9g5fI/AAAAAAAAAi8/ONx6br5FeoA/s1600-h/DSCI1277.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 162px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Shurvj9g5fI/AAAAAAAAAi8/ONx6br5FeoA/s200/DSCI1277.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340050616773305842" /&gt;&lt;/a&gt;Dulu, anak-anak ikut berkebun bukanlah hal yang istimewa. Tanpa disuruh dan juga diprogramkan khusus, anak-anak di kampung dengan sendirinya berbaur dalam kegiatan berkebun orang tua mereka. Tetapi sekarang, bukan hanya anak-anak kota yang tak kenal dengan aktivitas ini, anak-anak kampung pun sudah meninggalkan kebiasaan bercocok tanam dan mengganti mainan mereka dengan play station.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah formal kurang bisa diharapkan dalam membentuk kebiasaan bercocok tanam murid-muridnya, maka orang tua-lah yang masih mungkin menanamkan kecintaan terhadap bidang yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami telah mencobanya di rumah dengan anak-anak, dan hasilnya alhamdulillah cukup menggembirakan. Banyak pula pelajaran yang kami dapatkan. Kami berharap, kelak mereka terbiasa "menghijaukan" lingkungannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Shuq8JV644I/AAAAAAAAAi0/GbzhxJMkkJE/s1600-h/AZ.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 157px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Shuq8JV644I/AAAAAAAAAi0/GbzhxJMkkJE/s200/AZ.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340049733454586754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/ShuutSN-6QI/AAAAAAAAAjM/PLeQXU8fiXE/s1600-h/DSCI1276.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 182px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/ShuutSN-6QI/AAAAAAAAAjM/PLeQXU8fiXE/s200/DSCI1276.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340053876185688322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-8667783232331080799?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/8667783232331080799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=8667783232331080799&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8667783232331080799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8667783232331080799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/05/belajar-bercocok-tanam.html' title='Belajar Bercocok Tanam'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Shurvj9g5fI/AAAAAAAAAi8/ONx6br5FeoA/s72-c/DSCI1277.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-7579449730330470199</id><published>2009-04-09T06:30:00.000-07:00</published><updated>2010-11-17T02:16:17.997-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Mitos tentang Belajar</title><content type='html'>Bertahun-tahun lamanya sejak sekolah lahir, hakikat belajar lambat laun terselubungi mitos-mitos yang mendukung keberadaan institusi tersebut. Apakah itu? Jeanette Vos dalam bukunya yang padat berisi, berjudul The Learning Revolution menuliskan 4 hal, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sekolah adalah tempat terbaik untuk belajar&lt;br /&gt;2. Kecerdasan bersifat tetap&lt;br /&gt;3. Pengajaran yang menghasilkan pembelajaran&lt;br /&gt;4. Kita semua belajar dengan gaya yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, bahkan di sekolah sekalipun, sedikit demi sedikit konsep tentang belajar seperti 4 mitos di atas semakin ditinggalkan. Meski masih "terbata-bata" menerjemahkan paradigma belajar yang lebih menyenangkan, banyak sekolah, khususnya sekolah swasta memberlakukan cara belajar mengajar yang lebih dinamis: Buku pelajaran full color, tempat belajar ditata penuh warna, guru yang bersahabat, metode mengajar berbasis konsep multiple intelligence, dan hal-hal menyenangkan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, ternyata tak semua orang bisa memasuki wilayah belajar senyaman itu, karena kenyamanan yang diperoleh tak bisa dibayar hanya dengan senyuman, melainkan harus dengan merogoh uang jutaan. Sanggupkah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari sanggup ataupun tidaknya kita mengeluarkan dana jutaan untuk sekolah yang nyaman, saya justru menemukan esensi penting dari semakin gugurnya mitos belajar seperti dikatakan Vos. Menurut saya, sejak jaman dulu, saat sekolah belum se-eksis sekarang, belajar bukanlah pekerjaan, sehingga seseorang yang ingin belajar harus tunduk pada sebuah birokrasi kerja. Belajar adalah kebutuhan hidup yang dengannya manusia bisa menjadi manusia mandiri. Karena itulah, orang seharusnya bisa belajar di manapun mereka menemukan sesuatu yang pantas, yang menarik, atau yang berguna untuk dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kisah-kisah para pencari ilmu di masa lalu memang lebih seru. Saking menariknya, sampai-sampai bisa dibuat serial cerita pengembaraan berpuluh atau bahkan beratus-ratus episode. Para pencari ilmu mengembara dari satu tempat ke tempat lain, mencari guru-guru yang faqih di bidangnya masing-masing, lalu kembali pulang sembari mengamalkannya di sepanjang perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa, kini pun hal semacam itu masih relevan dan akan terus relevan sepanjang waktu. Modal pentingnya hanyalah satu, yaitu &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Semangat untuk Belajar&lt;/span&gt;. Tanpa semangat belajar, anak lulusan sekolahan pun acapkali tergagap-gagap melihat realitas hidup, karena sesungguhnya mereka tak boleh berhenti belajar jika berniat mengarungi dunia nyata. Selama anak-anak tak kehabisan semangat belajar, mereka akan terus menjadi pembelajar mandiri di manapun mereka berada, dan mereka Insya Allah akan sanggup menghadapi tantangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih percaya mitos?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-7579449730330470199?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/7579449730330470199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=7579449730330470199&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7579449730330470199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7579449730330470199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/04/mitos-tentang-belajar.html' title='Mitos tentang Belajar'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-2174083210592689090</id><published>2009-04-06T21:13:00.000-07:00</published><updated>2009-04-08T05:06:32.278-07:00</updated><title type='text'>Back to Homeschool (editted)</title><content type='html'>Hampir seumur Azkia (6,5 tahun) kami mempertimbangkan bolak-balik tentang model pendidikan apa yang cocok buat anak kami. Setelah membaca banyak literatur, pilihan pun mengerucut pada homeschooling. Akan tetapi, seiring usia anak kami yang sudah siap masuk SD, kami benturkan kembali opsi tersebut dengan berbagai pertanyaan dan argumentasi, agar keputusan kami benar-benar bisa dipertanggungjawabkan, dan kami tidak menyesal karenanya. Karena itulah, kami membuka peluang untuk juga mempertimbangkan sekolah formal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun menyambangi sekolah swasta Islam sebagai pilihan pertama buat Azkia. Letaknya di kawasan Jatinangor, biar deket dari rumah. Secara keseluruhan, kurikulum berikut testimoni orang tua yang saya dapatkan, sekolah itu cukup bagus, berwawasan keislaman, dan juga maju dari sisi konsep belajar mengajar. Namun sayangnya, ternyata pilihan jam belajar cuma satu yaitu fullday. Dan itu menjadi poin yang memberatkan buat kami. Saya tidak berkarir di luar rumah karena ingin lebih banyak bersama anak-anak, dan kalau pada akhirnya anak bersekolah sepanjang hari, apalah gunanya pilihan saya itu. Sama saja, kami jadi jarang bertemu dan berinteraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai dengan satu sekolah, saya pun cari info sana- sini tentang SD negeri, yang jam belajarnya cukup pendek. Memang, secara biaya, bersekolah di sekolah negeri sangat menyenangkan, program SPP gratis itu memang sudah berlaku di tempat kami tinggal. Namun kembali ada yang mengganjal,kondisi SD negeri,  ternyata tak pernah jauh berubah dengan apa yang sudah saya tahu selama ini (anak-anak ribut di kelas karena gurunya jarang masuk, pe er setiap hari, dan masih berkutat dengan kesulitan calistung di kelas 1 dan kelas 2). Konsentrasi guru terpecah pada begitu banyak anak, sehingga KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) hampir bisa dipastikan tidaklah efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit memang untuk memilih, tapi kami harus memilih. Setelah dipertimbangkan ulang, untung - ruginya sekolah, tujuan sekolah, dan mendaftar berbagai kekhawatiran jika tidak bersekolah formal, kami akhirnya memutuskan untuk kembali menjalankan homeschooling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah! Lega sudah dengan keputusan bulat itu. Artinya, langkah kita akan terus maju. Kami ingin anak-anak memiliki pengalaman lebih banyak dan beragam dalam hidup mereka: Tidak dibatasi bel sebagai batas pelajaran, tidak pula dibatasi ujian  untuk mempelajari hal-hal yang lebih menantang. Waktu mereka bisa dipakai untuk hal-hal yang lebih terarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, homeschool bisa membuat kami fleksibel dalam mempelajari apapun. Kalau pusat kegiatan pendidikan dan keterampilan selalu di kota besar semisal Bandung dan kami harus tergantung dengan itu untuk membuat anak-anak kami memiliki keterampilan tertentu, duh rasanya kini sudah bukan jamannya lagi. Sumber pengetahuan melimpah di internet dan kami bisa mengaksesnya di mana pun, belajar bisa dengan siapa saja, tak mesti harus di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back to homeschool. Moga keputusan ini memang yang terbaik buat kami dan anak-anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-2174083210592689090?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/2174083210592689090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=2174083210592689090&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2174083210592689090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2174083210592689090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/04/back-to-homeschool.html' title='Back to Homeschool (editted)'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-2516321473853066900</id><published>2009-04-05T19:47:00.000-07:00</published><updated>2010-11-17T02:16:53.043-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='portofolio HE'/><title type='text'>Ketika Puteriku Ketemu Para Penulis</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Sdl1TkvDToI/AAAAAAAAAik/TWp-FrUhmRw/s1600-h/DSCI1056.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 188px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Sdl1TkvDToI/AAAAAAAAAik/TWp-FrUhmRw/s200/DSCI1056.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321413413853941378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SdlxZPGNfcI/AAAAAAAAAiM/FGwzxgOrCT8/s1600-h/milis2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SdlxZPGNfcI/AAAAAAAAAiM/FGwzxgOrCT8/s200/milis2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321409113078201794" /&gt;&lt;/a&gt;Hari Sabtu, 4 April 2009 saya dan Azkia puteri saya hadir di acara Gathering milis Penulis Bacaan Anak. Alhamdulillah, selain saya mendapat pencerahan dan bisa silaturahmi dengan teman-teman para penulis dan juga editor, kegiatan sosialisasi buat Azkia juga nambah nih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak saya memang suka jaim (jaga image) pada awalnya, tapi saya tahu dia sebenarnya senang bisa bertemu dengan penulis buku-buku yang sudah dibacanya. Ada Ana Puspita Dewiyana dari Pelangi Mizan (yang kebetulan teman baik saya), ada Ali Muakhir yang buku hasil karyanya cukup bertebaran di rumah, ada Benny Ramdhani, Ryu Tri, dll. Eh ya, meski malu-malu malah Azkia berfoto dengan Kak Andi Yudha yang kocak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SdlxNNLCG1I/AAAAAAAAAiE/azTbhr25QB0/s1600-h/DSCI1051.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 190px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SdlxNNLCG1I/AAAAAAAAAiE/azTbhr25QB0/s200/DSCI1051.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321408906403126098" /&gt;&lt;/a&gt;Satu hal yang saya tahu akan dia kenang dengan indah suatu saat nanti, adalah tanda tangan penulis yang dibubuhkan di bukunya. Kebetulan seminggu sebelumnya saya membelikan sebuah novel anak karya Chris Oetoyo buat dia. Sudah berulang-ulang dia membacanya dan Mas Chris ternyata datang di acara kemarin. Langsung aja deh saya mintakan tanda tangan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, begitulah "reportase" kegiatan kami di minggu pertama bulan April ini. Azkia pasti tak akan melupakannya, apalagi, pas acara foto bersama, dia ikut jadi fotografer, lho. Tetap semangat deh!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-2516321473853066900?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/2516321473853066900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=2516321473853066900&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2516321473853066900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/2516321473853066900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/04/ketika-puteriku-ketemu-para-penulis.html' title='Ketika Puteriku Ketemu Para Penulis'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/Sdl1TkvDToI/AAAAAAAAAik/TWp-FrUhmRw/s72-c/DSCI1056.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-998894334364093454</id><published>2009-03-19T20:58:00.000-07:00</published><updated>2009-03-19T21:23:46.851-07:00</updated><title type='text'>Radang Gusi dan Tanaman Obat</title><content type='html'>Tiba-tiba gusi saya bengkak dua hari yang lalu. Rasanya sakitnya menyebar ke kepala dan leher. Sungguh penyakit yang tak diundang ini membuat saya tak bisa beraktivitas seharian kemarin. Rencana pergi ke Bandung juga batal gara-gara sakit kepala yang luar biasa. Sudah bertekad untuk menahan diri dari meminum obat kimia, saya pun buka referensi tentang obat radang gusi dari bukunya Prof. Hembing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu, meski saya sudah berkali-kali merasakan efektivitas obat herbal, rasa tak yakin terkadang muncul juga. Tapi saya paksakan saja mengikuti salah satu resep yang bahan-bahannya tersedia di pekarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Obat Luar (Obat Kumur)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;10 Lembar daun sirih direbus dengan 4 gelas air hingga tersisa 2 gelas. Campurkan 1/2 sendok garam lalu berkumur-kumur dengan larutan tersebut sekurang-kurangnya 5 kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Obat Dalam (Obat yang Diminum)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2 buah empu kunyit (bagian kunyit yang bentuknya bulat) yang diiris tipis dan segenggam sambiloto segar direbus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas. Campurkan satu sendok madu untuk setengah gelas ramuan lalu minum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali berkumur dengan larutan sirih dan garam, saya merasakan benjolan di gusi saya mengeluarkan cairan. Saat saya periksa dengan kapas, ada darah bercampur nanah memenuhi kapas. Saya pun membersihkannya dengan kembali berkumur-kumur sampai bersih. Dan setelah meminum ramuan sambiloto - kunyit, saya tidur untuk menawarkan rasa sakit kepala yang belum juga hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaibnya, selang 20 menit kemudian, saat saya bangun, saya merasa migrain saya hilang. Rasa di kepala menjadi normal kembali. Subhanallah! Saya sungguh semakin memuji kebesaran Allah. Tumbuhan hasil ciptaan-Nya memang mampu menjadi penyembuh penyakit. Asalkan manusia percaya dan mau sedikit bersusah payah untuk meramunya, obat-obatan bisa didapat dengan mudah, aman, dan murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-998894334364093454?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/998894334364093454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=998894334364093454&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/998894334364093454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/998894334364093454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/03/radang-gusi-dan-tanaman-obat.html' title='Radang Gusi dan Tanaman Obat'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-6168791031160336898</id><published>2009-03-11T01:34:00.001-07:00</published><updated>2009-03-11T02:33:09.938-07:00</updated><title type='text'>Mengapa Kita Sekolah?</title><content type='html'>Bersekolah menyisakan kenangan buat kita semua yang pernah mangalaminya. Setidaknya, itulah salah satu sisi kehidupan yang kita singgahi hingga usia sekarang ini. Ada yang menyenangkan, ada pula yang menyedihkan, bikin sebel, dan tak sedikit bagian-bagian yang kita jalani di sekolah mempengaruhi pola berpikir kita hari ini. Tapi, pernahkah muncul pertanyaan: Mengapa kita bersekolah, dan apa yang kita nikmati dari sekolah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya menyempatkan diri untuk mensurvey satu sekolah Islam di kawasan Jatinangor. Setidaknya, di usia si sulung yang sudah mencapai 6,5 tahun, saya berharap sudah punya keputusan yang jelas, apakah ia akan homeschooling saja ataukah diperkenalkan dunia sekolah formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa bilang bahwa pendidikan anak diwakili oleh istilah sekolah, baik sekolah rumah ataupun sekolah formal. Menurut saya, pendidikan mencakup keseluruhan proses hidup seorang manusia, baik di rumah maupun di lingkungan luar rumahnya. Seandainya pun seorang anak bersekolah formal, maka itu hanyalah bagian dari  dunia di luar rumahnya, tak beda dengan kursus atau apapun kegiatan yang bisa menambah pengetahuan dan skill.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, saya berencana mensurvey beberapa sekolah, yang sekiranya ada yang cocok untuk anak saya berkiprah, berkegiatan, dan menambah skill-nya, saya pun tak keberatan menanggalkan status homeschooler buat anak saya. Tak dapat dipungkiri, ada sesuatu yang tidak dapat tumbuh maksimal dalam diri anak saya jika saya memaksanakan diri menjalankan homeschooling, sementara dia ingin tumbuh bersama sekelompok teman atau lingkungan yang mengeksplorasi pertemanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana dengan homeschooling? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tak ada model pembelajaran yang sempurna tanpa kelemahan. Homeschooling, dalam definisi originalnya (yang tidak dilembagakan, tidak dikomersilkan) sesungguhnya memiliki banyak kelebihan dari sisi subjektif anak. Artinya, dengan homeschooling anak-anak bisa diarahkan pada hal-hal yang benar-benar ia sukai, orang tua bisa memilihkan materi ajar yang cocok, dan anak-anak juga sekaligus bisa didorong untuk menyukai banyak hal tanpa batasan kurikulum sebagaimana sekolah formal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak keluarga mampu menyiasati kurangnya intensitas bergaul dengan teman sebaya dengan memasukkannya ke lembaga kursus atau mengadakan acara bersama dengan keluarga homeschooling yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah! Buat saya sekarang, homeschooling ataukah sekolah formal bukanlah kata terakhir untuk merepresentasikan pendidikan anak-anak kami. Di mana pun, dengan cara apapun, andai tujuan kita melakukannya murni untuk kebaikan anak-anak kita, pendidikan dengan model apapun hanyalah sebuah alat untuk membuat mereka berkualitas sebagai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-6168791031160336898?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/6168791031160336898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=6168791031160336898&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6168791031160336898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6168791031160336898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/03/mengapa-kita-sekolah.html' title='Mengapa Kita Sekolah?'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-4859896896202814795</id><published>2009-03-09T22:03:00.000-07:00</published><updated>2009-03-11T01:27:34.973-07:00</updated><title type='text'>Menemukan Jamur</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SbX8C-RmMHI/AAAAAAAAAhs/L-cjw7hB65w/s1600-h/DSCI0906.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 190px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SbX8C-RmMHI/AAAAAAAAAhs/L-cjw7hB65w/s200/DSCI0906.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311428463560110194" /&gt;&lt;/a&gt;Alhamdulillah saya sudah sehat setelah seminggu kemarin terserang sakit lambung yang parah. Jadi, hari ini ke kebun lagi... Dan ternyata kami mendapatkan surprise lho. Kami menemukan jamur di dekat pagar bambu, berhadapan dengan pohon pepaya. Besarnya lumayan. Cukup untuk dua porsi kalau dijadikan sup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ini bukan kali yang pertama kami menemukan jamur di pekarangan rumah. Pada awal musim penghujan yang lalu, saat angin sedang kencang-kencangnya, kami menemukan jamur berdiameter lebih besar tumbuh di samping rumah. Seingat saya, dulu sewaktu jadi pemburu jamur di kampung, jamur jenis itu memang bisa dimakan. Tapi khawatir ingatan saya salah, saya pun menguburnya. Namun selang beberapa hari kemudian, seorang kakek penyabit rumput lagi-lagi menemukan jamur yang sama di rerumputan. Ia memberikan jamur itu pada saya, dan menyuruh saya memasaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya tanya si kakek, apakah jamur itu beracun atau tidak, dengan pasti dia bilang bahwa jamur itu enak untuk dimakan. Hmmm... Kebetulan kakeknya anak-anak mau datang, dimasak sajalah jamur itu, dan hasilnya memang tidak keracunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SbX5YYIzYoI/AAAAAAAAAhc/33TtGK44LV8/s1600-h/DSCI0940.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 180px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SbX5YYIzYoI/AAAAAAAAAhc/33TtGK44LV8/s200/DSCI0940.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311425532744917634" /&gt;&lt;/a&gt;Orang Sunda menyebut jenis jamur yang kami temukan itu dengan sebutan Supa (Jamur) Suung. Permukaannya licin berwarna putih kecoklatan. Diameter 'payung'-nya beragam tergantung kesuburan tanah nampaknya. Dulu saya biasa menemukan jamur itu di antara anakan pohon pisang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang saya herankan, anak-anak suka makan jamur itu, padahal sebelumnya paling nggak suka makan jamur walau dimasak dengan cara apapun. Mungkin karena hidup di alam dan diberi makan secara alami, jamur liar memang lebih komplit nutrisinya ya... Entahlah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-4859896896202814795?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/4859896896202814795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=4859896896202814795&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4859896896202814795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4859896896202814795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/03/menemukan-jamur.html' title='Menemukan Jamur'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SbX8C-RmMHI/AAAAAAAAAhs/L-cjw7hB65w/s72-c/DSCI0906.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-4389186791360511998</id><published>2009-02-24T05:11:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T05:45:07.404-08:00</updated><title type='text'>Mengenal Tumbuhan Liar</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu, kami sekeluarga berjalan-jalan ke pesawahan di belakang komplek. Meski judulnya jalan-jalan, tapi banyak hal anak-anak dapatkan dan pelajari dari kegiatan itu, dan salah satunya adalah menemukan banyak jenis tumbuhan liar yang berkhasiat obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena saya sering melihat-lihat koleksi buku tanaman obat di rumah, tanpa sadar anak-anak juga meniru kebiasaan saya. Setidaknya, mereka juga mulai tertarik menanyakan nama tumbuhan apapun yang mereka temukan di halaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, perjalanan ke sawah ini menjadi ajang belajar yang menakjubkan menurut saya. Tumbuhan liar ada di mana-mana: Bandotan, patikan kebo, pecut kuda, sinyo nakal, pegagan, dan bahkan kami temukan ketepeng cina di tengah pematang sawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun saya tahu, anak-anak sedikit takut berjalan di pematang sawah yang licin, terlebih yang lebarnya kecil, tapi saya juga melihat mereka bahagiaaaa sekali. Dan saya lebih senang ketika mereka langsung memburu buku lagi untuk melihat profil lengkap tanaman yang kami temui di perjalanan. Karena membawa kamera saku, lumayan lah ada dokumentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dulu semasa SMA saya mesti menulis dan menghafal nama-nama jenis tumbuhan, lengkap dengan ordo, spesies, dan lain-lainnya supaya bisa mengisi titik-titik saat ujian, sekarang anak-anak saya yang masih belum genap tujuh tahun justru mencari tahu informasi tentang tumbuhan karena mereka memang tertarik untuk tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, kan kalau kemudian salah satu permainan mereka sekarang adalah menanam tumbuhan liar. Dan suatu hari saya lihat ada sekuntum bunga Ki Tolod yang berwarna putih tertancap tanpa akar dan daunnya di salah satu bedengan sawi. Dengan bangga Luqman berkata, "Mama, tadi Ade menanam Ki Tolod. Jangan dicabut ya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Belajar Bersama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 8 Februari lalu, sebenarnya Komunitas Belajar Bersama bermaksud untuk mengadakan pertemuan rutin dengan tema tersebut, tapi sayang cuaca sedang kurang bersahabat. Angin kencang melanda Tanjungsari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Insya Allah, Minggu (1/3/2009) jadwal baru sudah disepakati. Teman-teman kami tercinta pun ternyata bisa menyempatkan datang. Tunggu "laporannya"  ya :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-4389186791360511998?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/4389186791360511998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=4389186791360511998&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4389186791360511998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4389186791360511998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/02/mengenal-tumbuhan-liar.html' title='Mengenal Tumbuhan Liar'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-4317294752795397663</id><published>2009-02-20T06:12:00.000-08:00</published><updated>2010-11-17T02:16:36.903-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>"Sekolah" Masa Depan</title><content type='html'>Mungkin sudah yang ke sekian kalinya hal ini saya katakan: Betapa banyak inspirasi tentang pendidikan menjejali imajinasi saya gara-gara membaca buku &lt;strong&gt;Revolusi Cara Belajar&lt;/strong&gt;. Oleh karena itu pula tak ada habisnya saya ingin ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait di penerbit &lt;a href="http://www.mizan.com/index.php"&gt; &lt;font color="black"&gt;Mizan&lt;/font&gt;&lt;/a&gt; yang telah mempersembahkan buku inspiratif ini kepada pembaca di negeri ini, termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, saat saya membuka-buka lagi halaman-halaman buku tersebut, saya menemukan paragrap tentang Dr.Pat Nolan. Beliau adalah seorang dosen senior bidang pendidikan dari Universitas Massey di Pinggiran &lt;a href="http://www.palmy.net.nz/aboutpn/index.html"&gt;&lt;font color="black"&gt;Palmerston North- New Zealand&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;. Pat Nolan menggabungkan rasa cintanya pada pendidikan dengan kecintaan untuk mengeksplorasi alam Selandia Baru: Sungai jernih, hutan, gunung es, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep yang ditawarkan Nolan adalah studi terpadu dengan dunia sebagai ruang kelas. Dia berkata bahwa pengajaran SMU "metode lama" terpisah dari dunia nyata. Setiap mata pelajaran terkotak-kotak dan terisolasi dalam satuan-satuan kecil, sehingga semuanya nampak demikian sempit. Padahal jika berbagai mata pelajaran dikait-kaitkan, entah itu matematika, geografi, fisika, kimia, dll, maka kita dapat memahami dunia dengan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal paling menarik dari pendapat Nolan adalah tentang kemungkinan munculnya solusi-solusi baru oleh sekolah, pada berbagai bidang kehidupan, jika proses belajar dilakukan di dunia nyata. Dengan mengubah cara mengajar menjadi lebih aplikatif, setiap siswa diajak untuk mengeksplorasi pengetahuan menjadi basis untuk menemukan jawaban atas persoalan-persoalan kehidupan dan bukan semata hanya sebuah teori yang dilupakan setelah lulus sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, bahkan di tingkat perguruan tinggi di negeri kita, seringkali teori-teori yang diajarkan di ruang kelas mengangkang jauh dari dunia nyata. Mahasiswa berlomba mengejar target SKS tapi kemudian bingung saat hari pertama menyandang gelar sarjana. Mau kemana saya? Mau kerja apa saya? Jadi petani jelas tak mungkin masuk dalam daftar, meski ia seorang sarjana pertanian sekalipun. Lantas mau jadi apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tanda tanya yang tak akan pernah berakhir. Akankah model "sekolah" dengan orientasi teoritis bisa menghasilkan lulusan yang mampu menghadapi kehidupan nyata dengan penuh rasa percaya diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuk, bikin sekolah alternatif!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-4317294752795397663?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/4317294752795397663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=4317294752795397663&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4317294752795397663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4317294752795397663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/02/sekolah-masa-depan.html' title='&quot;Sekolah&quot; Masa Depan'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-5668295707603558965</id><published>2009-01-24T06:37:00.001-08:00</published><updated>2009-01-24T07:19:34.926-08:00</updated><title type='text'>Mengajari Anak Membaca: Sebuah Seni</title><content type='html'>Pengalaman ini bisa jadi tidaklah terlalu istimewa buat Anda, tapi saya pikir tak ada salahnya untuk dibagi, karena bukan tak mungkin ada para bunda atau ayah yang mengalami kesulitan serupa jadi terinspirasi setelah membaca cerita saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putera saya Luqman (4,5 tahun) memang berbeda dengan kakaknya - Azkia (6,5 tahun). Pada usia 3,5 tahun Azkia sudah bisa membaca, sedangkan Luqman, di usianya yang mau menjelang 5 tahun masih belum terlihat berminat untuk bisa membaca. Dia memang senang dibacakan buku, tapi saya belum menemukan metode yang tepat, yang membuat dia antusias untuk belajar membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari saya selalu berpikir keras bagaimana caranya membuat Luqman mau belajar membaca, dengan metode apapun lah! Entah Glenn Doman, suku kata, atau yang lainnya. Terpenting dia mau secara sukarela tertarik untuk belajar. Beberapa kali saya rancang model belajar untuk anak bungsu saya ini, tapi hasilnya belum memuaskan. Mood dia untuk belajar yang satu ini sepertinya menguap sebelum dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah! Sore ini saya seperti dikejutkan oleh ide kecil yang tiba-tiba melintas. Sambil istirahat sehabis bersih-bersih halaman, saya jadi teringat bahwa anak saya ini sebenarnya gampang mengingat sebuah informasi jika disampaikan secara lisan. Meski ia sangat aktif bergerak, tapi dia mampu menyerap info lisan yang dia dengar. Artinya, dia seorang pembelajar haptik - auditori!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya panggil si kecil untuk sekedar bermalas-malasan dan mencoba satu model belajar yang terpikir begitu saja. Saya coba sampaikan pendekatan prinsip suku kata secara lisan tanpa teks terlebih dulu. Saya bilang, "De, kalau B ditambah A dibacanya BA, C ditambah A dibacanya CA, dan D ditambah A jadi DA". Lalu saya tes dia untuk membaca tiga suku kata itu sekaligus BA CA DA. Entah mengapa dia jadi tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah berikutnya, saya masuk ke gabungan 3 konsonan di atas dengan vokal i, u, e, dan o. Hasilnya, dia mampu menyerapnya dengan baik. Lalu saya tes dia untuk membunyikan gabungan konsonan baru: F, G, dan H dengan 5 vokal... Hasilnya sungguh mengejutkan saya, karena ternyata dia mampu membacakannya dengan benar. Sungguh, bukan hanya saya yang senang, dia pun tertawa begitu gembira dengan kemampuannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penasaran, saya pun minta dia mengambil balpoin dan kertas. Duh, dengan semangat si kecil berlari memenuhi permintaan saya. Saya cobakan di atas kertas titian suku kata yang sudah kami pelajari tadi, dengan harapan otaknya terkoneksi dari suara ke visual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan.. subhanallah, kabut yang selama ini menyelimuti pemahamannya seolah mulai terkikis. Dia mengerti dan mulai bisa membaca suku kata yang tertera di atas kertas. Kejutan berikutnya, anak saya bilang setelah selesai belajar, "Mama, Ade lebih suka belajarnya nggak usah pake buku membaca (yang dibeli), ditulis aja pake pulpen sama Mama."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lho! Ternyata anak-anak seringkali tak bisa ditebak. Kita pikir dia suka buku bagus yang berwarna-warni, yang sengaja kita beli supaya dia tertarik, eh ternyata dia lebih suka tulisan orang tuanya, meskipun tulisan ayah atau ibunya mungkin jauh dari bagus. Begitulah saya melihat: Mengajar Anak-anak Membutuhkan Seni tersendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-5668295707603558965?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/5668295707603558965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=5668295707603558965&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5668295707603558965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5668295707603558965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/01/mengajari-anak-membaca-sebuah-seni.html' title='Mengajari Anak Membaca: Sebuah Seni'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3770223194287973679</id><published>2009-01-16T23:44:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T00:31:44.834-08:00</updated><title type='text'>Mengejar Kupu-Kupu</title><content type='html'>Tak disangkal, saat paling asyik buat saya saat masih kanak-kanak dulu adalah bermain. Saya adalah produk kampung. Mainan saya juga jelas mainan ala kampung. Bermain petak umpet, menggali tanah, kucing-kucingan di lapangan rumput, memanjat pohon, dan menjelajah tepian sungai termasuk acara bermain yang paling sering saya lakukan. Lalu  bagaimana dengan anak-anak saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat besar keinginan saya agar anak-anak mengecap asyiknya bermain bebas seperti saya dulu. Saya kasihan melihat mereka hanya bisa bermain balok-balok atau bersepeda di jalanan komplek yang ramai dilalui kendaraan. Mereka jauh dari alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sejak kami pindah rumah ke Tanjungsari, di mana lahan bermain masih cukup luas. Saya menemukan anak-anak saya mulai membaur dan menikmati suasana alami yang masih tersaji gratis di sekitar rumah. Mereka mulai bisa bermain bebas di bawah naungan langit biru yang berhiaskan awan putih berarak . Walaupun awalnya mereka terlihat ragu-ragu mengarungi rumput ilalang yang menghampar ramah, tapi lambat laun keberanian mereka tumbuh. Hal itu mungkin dipicu juga oleh keberanian anak-anak sekitar rumah kami yang setiap sore menghambur ke lapangan ilalang itu untuk mencabuti bunga-bunga rumput sebagai hiasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pagi ini (17/1) saya dikejutkan oleh kemahiran anak bungsu saya. Setelah dia mengendap-endap di antara ilalang, tiba-tiba ia datang menghampiri saya. Dengan gembira ia membawa seekor kupu-kupu cantik berwarna kuning tua dengan bercak-bercak hitam di tepian sayapnya. Ia pun berteriak senang, "Mama, Ade berhasil menangkapnya!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lihat anak saya begitu bahagia dengan kemahiran itu. Saya pun bilang padanya agar melepaskan kembali kupu-kupu itu supaya mereka bebas. Setelah sedikit adu argumentasi, karena ia berisikeras tak mau melepas kupu-kupu itu, akhirnya anak saya rela kupu-kupunya dilepas. Saya ijinkan dia menangkap lagi hanya untuk melihat jenis dan warnanya saja sebentar. Setelah itu dia harus melepasnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, alam menghadiahi kami sumber belajar yang tiada taranya. Sehabis menangkap kupu-kupu, karena matahari sudah mulai naik, anak-anak masuk rumah dan si kecil Luqman menghambur tergesa-gesa untuk mengambil buku Dunia Serangga, mencari topik tentang kupu-kupu, lalu meminta kakaknya untuk membacakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan semua itu, semakin yakinlah saya bahwa belajar tidak ada hubungannya dengan anak-anak sekolah atau tidak, melainkan lebih dipengaruhi oleh cinta atau tidaknya mereka pada kegiatan belajar. Happy homeschooling!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3770223194287973679?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3770223194287973679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3770223194287973679&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3770223194287973679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3770223194287973679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/01/mengejar-kupu-kupu.html' title='Mengejar Kupu-Kupu'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3210690172950209398</id><published>2009-01-06T05:25:00.001-08:00</published><updated>2009-01-06T05:52:01.349-08:00</updated><title type='text'>Kuat dan Mandiri</title><content type='html'>Apakah benar secara umum anak perempuan itu lebih manja daripada anak laki-laki ketika terluka? Entahlah, saya tak punya pembanding. Yang jelas, putri saya Azkia termasuk kategori itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kondisi sekitar rumah kami sekarang sedikit demi sedikit "memaksa" dia untuk berubah dan saya pun mengkondisikan dia untuk beranjak lebih kuat dan mandiri. Seperti pagi tadi (6 Januari 2009), saat adiknya Luqman masih berada di lapangan bersama papanya, Azkia pulang duluan. Wajahnya mengkerut, dan itu cukup membuat saya tahu bahwa ada apa-apa dengan dia. Dan samar-samar saya dengar Luqman berteriak dari lapangan, "Mama, kaki kakak terkelupas!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya putri saya ini akan merengek kalau kaki atau tangannya tergores sesuatu, tapi tadi pagi saya mencoba untuk mencegah itu dengan bertanya lebih dulu, "Kakinya terkelupas, ya?". Dia pun mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cuci kakinya sampai bersih. Ambil obat sendiri, ya!"&lt;br /&gt;"Pakai apa, Mama?"&lt;br /&gt;"Bisa bandotan, tanaman betadine, sirih, atau tanaman yang merambat di pagar itu", ujar saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azkia pun melakukannya dengan semangat. Wajah murungnya mendadak berubah normal kembali. Saya menduga, ada dua hal yang membuatnya menjadi seperti itu: &lt;strong&gt;pertama&lt;/strong&gt;, karena ia merasa diberi kepercayaan untuk mengobati dirinya sendiri, dan yang &lt;strong&gt;kedua&lt;/strong&gt;, ia merasa menemukan momentum untuk mempraktekkan pengetahuannya tentang tanaman untuk mengobati luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, begitulah rupanya. Sesungguhnya anak-anak merindukan dirinya menjadi mandiri, sementara orang tua seringkali menunda-nunda pemenuhan hasrat itu. Saya makin merasakan, memang tak mudah menjadi orang tua ideal yang memahami benar anak-anak kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3210690172950209398?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3210690172950209398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3210690172950209398&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3210690172950209398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3210690172950209398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/01/kuat-dan-mandiri.html' title='Kuat dan Mandiri'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-995220419591956964</id><published>2009-01-05T05:51:00.000-08:00</published><updated>2009-01-05T06:16:06.963-08:00</updated><title type='text'>Anak-Anak Lebih Survive</title><content type='html'>Halaman yang cukup luas untuk berlari membuat anak-anak saya benar-benar berlari tanpa kenal lelah. Kaki belepotan tanah, pipi dan hidung tak kalah kotornya. Mereka luar biasa senang saat melihat randa tapak menempel di ranting pohon jeruk. Luqman pun mulai berceloteh, "Padahal randa tapaknya ditanam, Kak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memasukkan tanaman ke lobang di halaman samping, saya mendengar Azkia pun menimpali, "Tapi, randa tapak itu gulma, De. Nggak usah ditanam, dia tumbuh sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gulma itu apa, Kak?" tanya adiknya.&lt;br /&gt;Azkia pun menjawab, "Gulma itu bisa merusak tanaman." Percakapan terhenti sejenak karena saya menemukan sarang rayap dan memanggil anak-anak untuk menunjukkannya kepada mereka. Tautan pengetahuan pun terhubungkan. Bacaan tentang kehidupan rayap tampil di dunia nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir dua minggu kami tinggal di Tanjungsari, begitu banyak hal yang kami temukan dan ada banyak pula yang berubah pada diri anak-anak. Mereka terlihat lebih berani mengeksplorasi lingkungan. Azkia yang sebelumnya takut-takut menyentuh serangga dan berjinjit saat menginjak rumput karena takut basah, sekarang tampak jadi berani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit anak-anak memang tampak lebih coklat karena sering tertimpa sinar matahari langsung. Tapi hebatnya, tubuh mereka justru menjadi lebih bugar. Harapan saya untuk membuat anak-anak lebih survive di alam ternyata mulai terlihat hasilnya. Alhamdulillah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-995220419591956964?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/995220419591956964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=995220419591956964&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/995220419591956964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/995220419591956964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2009/01/anak-anak-lebih-survive.html' title='Anak-Anak Lebih Survive'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-7621955695902127213</id><published>2008-12-27T04:04:00.000-08:00</published><updated>2008-12-27T04:57:09.853-08:00</updated><title type='text'>Belajar tentang Awan di Halaman</title><content type='html'>Hari ini, 27 Desember 2008, pagi menjelang siang cuaca begitu cerah. Langit pun terlihat begitu biru. Di halaman samping rumah baru kami yang masih lapang ditumbuhi rumput ilalang, anak-anak asyik bermain rumah-rumahan. Bertiangkan beberapa potongan bambu yang diatapi potongan kayu tripleks bekas, Azkia dan Luqman mengamati awan yang tampak jelas bergerak di angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang luar biasa kawasan rumah tinggal kami sekarang ini. Banyak yang bisa kami eksplorasi dan amati, banyak bahan pelajaran faktual yang dihadiahkan alam ciptaan Tuhan ini untuk kami. Ada jangkrik gemuk-gemuk keluar dari liang karena tanahnya tergali, ada bekicot yang menempel di antara ilalang, ada capung dan kupu yang liar beterbangan, ada banyak putri malu yang bisa disentuh kapan saja untuk melihat mereka malu-malu menutup daunnya, dan yang paling menakjubkan pada hari ini adalah ketika Azkia berlari mengambil buku dari kamar untuk mencocokkan bentuk awan yang dilihatnya dengan informasi yang pernah ia baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luqman seperti biasa menguntit kakaknya, yang rajin memberi info terbaru. Dan saya tahu ia juga belajar ketika kakaknya berteriak takjub, "Mama, tadi kakak lihat awan kumulus dan altostratus!". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, karena saya sibuk mengawasi para pekerja yang sedang membangun dapur, tak sempat saya ikut mengamati awan apalagi memotretnya. Tapi jauh di dalam hati, saya bersyukur dan juga takjub dengan spirit belajar putera-puteri saya yang tak surut karena kepindahan kami ke wilayah pinggiran seperti Tanjungsari ini. Bahkan awan yang gratis bisa kita lihat di atas sana pun membuat mereka tak kehilangan momentum belajar. Puji syukur hanya kepada Allah Yang Mahapemurah. Semoga kepindahan kami ke tempat baru ini memberi berkah. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-7621955695902127213?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/7621955695902127213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=7621955695902127213&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7621955695902127213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7621955695902127213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/12/belajar-tentang-awan-di-halaman.html' title='Belajar tentang Awan di Halaman'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-1495474837614764602</id><published>2008-12-14T00:56:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T04:43:34.001-08:00</updated><title type='text'>Belajar Sepanjang Hayat</title><content type='html'>Seminggu mertua saya menginap di rumah kami. Berhubung sebagian besar buku sudah dibawa ke Tanjung Sari, ayah dan ibu mertua saya hanya disuguhi buku-buku tentang tanaman obat untuk selingan, karena buku-buku itu-lah yang masih tertinggal di rumah kami di Bandung. Karena sudah banyak juga keluhan sakit, searching tanaman yang berkhasiat obat pun jadi menarik. Ayah mertua saya sampai mem-foto copy beberapa buku yang bersinggungan dengan penyakit beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang  membuat saya sangat takjub. Saat saya mematikan mesin air, saya lihat sepintas dari jendela, ibu mertua saya sedang menulis di atas secarik kertas. Bahkan mungkin bukan secarik, tapi beberapa lembar juga sudah tergeletak di atas kasur. Saya tak bertanya, karena siapa tahu beliau sedang mencatat surat penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, ketika saya sedang mempersiapkan sarapan di dapur, ibu mertua saya melongok ke dapur dan bercerita bahwa beliau sudah mencatat beberapa tanaman dan khasiat serta resep obat dari buku, dan tinggal sedikit lagi yang belum ditulis. &lt;em&gt;Subhanallah&lt;/em&gt;! Saya sampai geleng-geleng kepala... Saat saya lihat ke kamar, memang benar, catatan itu sudah dengan rapinya tertulis pada beberapa lembar kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu sangatlah tidak bijak bukan, kalau saya membiarkan seorang ibu yang begitu bersemangat untuk mendapatkan ilmu harus mencatat begitu rupa, dengan tulisan tangan pula. Akhirnya buku itu pun saya hadiahkan buat beliau. Wah! Mama mertuaku tentu saja senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan anak-anak muda? Masihkah menyala semangat belajar itu? Sampai kapan? Semoga sepanjang hayat, kita selalu terinspirasi dan bersemangat untuk belajar, tak peduli sudah berapapun usia kita. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-1495474837614764602?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/1495474837614764602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=1495474837614764602&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1495474837614764602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1495474837614764602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/12/belajar-sepanjang-hayat.html' title='Belajar Sepanjang Hayat'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-1010253900738992130</id><published>2008-11-17T17:58:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T19:55:22.175-08:00</updated><title type='text'>Obat Alami untuk Demam dan Batuk</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SSI6z9z5DXI/AAAAAAAAAgs/i0cu5uAdFhc/s1600-h/DSCI0606+copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SSI6z9z5DXI/AAAAAAAAAgs/i0cu5uAdFhc/s200/DSCI0606+copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269839178416852338" /&gt;&lt;/a&gt;Musim penghujan identik dengan munculnya beberapa penyakit khas, yaitu influenza dan batuk. Anak-anak saya juga tak luput dari serangan penyakit itu minggu ini. Seperti biasanya, selama hampir dua tahun terakhir ini, saya tak lagi langsung membawa anak-anak ke dokter ketika mereka demam. Siklus demam yang sudah terprediksi selama ini adalah tiga hari, dan itulah yang dijadikan patokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tiga hari saya merawat anak-anak dengan 85% sentuhan tradisional. Untuk menurunkan demamnya, selain kompres air juga ditambah parutan bawang merah dan jeruk nipis yang dicampur dengan sedikit minyak kelapa atau minyak zaitun. Ramuan itu saya pakai untuk mengurut bagian punggung, lengan, dan kaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penurun panas, saya tetap menggunakan obat kimia. Panadol yang berbahan dasar parasetamol adalah obat penurun panas yang paling direkomendasikan oleh beberapa dokter anak yang pernah saya temui. Menurut mereka, itulah komponen obat berjenis analgesik yang dianggap cukup aman buat anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SSI7JMqtngI/AAAAAAAAAg0/9UsirNFBCT4/s1600-h/DSCI0611+copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SSI7JMqtngI/AAAAAAAAAg0/9UsirNFBCT4/s200/DSCI0611+copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269839543182138882" /&gt;&lt;/a&gt;Sementara itu, untuk mengurangi panas dari dalam, saya pakai ramuan daun kacapiring. Sekitar 10 - 20 lembar daun kacapiring dicuci bersih, lalu disiram air panas. Daunnya diremas-remas sampai sari daun yang hijau dan kental keluar sempurna. Setelah itu ramuan disaring dan didiamkan selama sekitar 15 menit. Buat yang pernah melihat atau menikmati cincau hijau, maka begitulah kurang lebih tekstur dan juga warna ramuan kacapiring ini.Dengan campuran gula aren yang dicairkan, "cincau" kacapiring ini diminumkan pada anak, cukup dua kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan asumsi bahwa kekebalan tubuh sedang menurun, sehingga diperlukan "unsur" tambahan untuk melawan virus dan bakteri, saya gunakan antibiotik alami dari daun sambiloto. Sekitar 5 lembar daun sambiloto direbus dengan segelas air sampai menjadi 1/2 gelas. Setelah disaring dan dingin, untuk sekali minum campurkan 1 - 2 sendok air sambiloto dengan dua sendok madu lalu tambah sedikit air lagi supaya rasa pahitnya tidak terlalu terasa. Ramuan ini juga diminum 2 kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Obat Batuk&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah demamnya turun, biasanya siklus penyakit sejenis ini selalu diakhiri dengan batuk. Saya gunakan ramuan obat berikut ini untuk mengatasi batuk:&lt;br /&gt;- 5 butir kapulaga untuk meluruhkan dahak&lt;br /&gt;- 1/2 sendok teh pala bubuk untuk penenang&lt;br /&gt;- 2 ruas kunyit untuk anti radang dan anti septik&lt;br /&gt;- 1 ruas kencur untuk anti nyeri&lt;br /&gt;- 2 gelas air&lt;br /&gt;- 2 sendok madu&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SSI7e1YHtbI/AAAAAAAAAg8/sgh0ygKiAcY/s1600-h/DSCI0604+copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 176px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SSI7e1YHtbI/AAAAAAAAAg8/sgh0ygKiAcY/s200/DSCI0604+copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269839914887263666" /&gt;&lt;/a&gt;Cara membuatnya:&lt;br /&gt;Kunyit dan kencur diiris-iris atau dimemarkan. Semua bahan kecuali madu direbus dalam panci stainles hingga airnya menjadi tinggal 1gelas. Setelah dingin, masukkan madu dan minumkan 1/2 gelas saja untuk sekali minum. Karena anak saya dua-duanya batuk, jadi satu kali proses ini habis untuk dua anak sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Anda yang mau mencoba resep obat sederhana ini, satu saran saya: "Anda harus yakin dengan khasiat obat-obatan ini, karena jika Anda tidak yakin bisa jadi pikiran Anda akan tetap tersugesti oleh obat kimia dan pengaruhnya juga ada terhadap kesembuhan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-1010253900738992130?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/1010253900738992130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=1010253900738992130&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1010253900738992130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1010253900738992130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/11/obat-alami-untuk-demam-dan-batuk.html' title='Obat Alami untuk Demam dan Batuk'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SSI6z9z5DXI/AAAAAAAAAgs/i0cu5uAdFhc/s72-c/DSCI0606+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-5030401069884730865</id><published>2008-11-16T22:53:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T17:58:09.992-08:00</updated><title type='text'>Akibat Rasa Malas</title><content type='html'>Kemalasan adalah sebuah penyakit berbahaya. Kalau kita tidak mewaspadainya, banyak persoalan muncul berlipat-lipat dan tak jarang menimbulkan kerugian. Tak percaya? Cobalah ikuti rasa malas untuk minum obat saat kita sakit! Cobalah ikuti rasa malas makan saat kita sedang lapar (padahal tidak puasa)! Cobalah ikuti rasa malas untuk mengambil jemuran padahal hari sudah mendung mau hujan! Cobalah ikuti kemalasan demi kemalasan dalam hidup ini, maka kita semua pasti merasakan akibatnya, baik langsung maupun tidak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini banyak terjadi peristiwa longsor, dan di antaranya terjadi di beberapa kecamatan di Kabupaten Cianjur. Ditengarai, salah satu penyebab longsor, selain karena kelabilan tanah di area tersebut, juga disebabkan oleh  minimnya jumlah pohon besar yang akarnya bisa menjadi pengikat tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mengapa jarang ditemukan pohon besar di sana? Yup! Anda pasti bisa juga menjawabnya bukan? Kemungkinan besar disebabkan oleh rasa malas warga untuk menanam pohon. Entah karena jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya terlalu rapat sehingga tak ada ruang untuk menanam pohon atau warga di sana mungkin tidak punya pengetahuan cukup tentang gunanya pohon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian Pikiran Rakyat di Bandung hari ini (17/11)juga memberitakan adanya pergerakan tanah di sekitar lereng Cadas Pangeran. Sebuah foto terpasang, dan tampak jelas bahwa lereng itu memang nyaris tak berpohon. Yang ada hanyalah tonggak-tonggak beton yang sejak tahun 2005 lalu dipasang untuk menahan laju longsor yang juga pernah terjadi di sana. Seberapa lama tongggak beton itu menahan gerakan tanah, tak ada yang tahu. Namun pertanyaan saya adalah, &lt;strong&gt;MENGAPA SOLUSI UNTUK LONGSOR SELALU HANYA BERSIFAT INSTAN SAJA DAN TIDAK DILANJUTKAN DENGAN SOLUSI JANGKA PANJANG YAITU MENANAMI AREAL TERSEBUT DENGAN PEPOHONAN YANG BERAKAR KUAT?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyebab Malas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Malas adalah salah satu tabiat manusia, sehingga wajar kalau ada do'a yang memohon untuk dijauhkan dari sifat malas: &lt;em&gt;Allahuma innii a'uudzubika minal 'ajzi wal kasal... &lt;/em&gt;(Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari kelemahan dan kemalasan...).  Tetapi selain itu, sesungguhnya manusia bisa mengatasi tabiat alamiah itu dengan mengetahui dan mewaspadai benar pemicu malas yaitu &lt;strong&gt;kurang lengkapnya pengetahuan&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;kurangnya kepedulian&lt;/strong&gt;. Kalau kita tidak tahu persis atau tidak peduli akibat yang bisa timbul karena kemalasan kita, kemungkinan besar kita akan terus memperturutkan rasa malas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana dengan mengajar dan mendidik anak-anak di rumah? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hal itu tentu sangat urgen diperhatikan. Memperturutkan rasa malas untuk mengajari anak-anak tentang makanan sehat, mandiri dalam bertoilet, mandiri dalam belajar, mandiri dalam berpakaian, sholat, dan lain-lain  akar berimbas kepada kita sendiri. Termasuk mengajari mereka untuk mencintai bumi yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada kita, menggali potensi-potensinya dengan ramah, dan memelihara kelestariannya, hal itu adalah pe er untuk kita semua, khususnya para orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lawan rasa malas itu. Jangan biarkan ia meraja dan menguasai kita, karena kita tahu bukan? Hari ini tanpa pengetahuan yang cukup, tanpa pendidikan yang komprehensif, tanpa penyadaran yang terus-menerus, banyak persoalan terjadi di sekitar kita. Salam pendidikan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-5030401069884730865?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/5030401069884730865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=5030401069884730865&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5030401069884730865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5030401069884730865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/11/akibat-rasa-malas.html' title='Akibat Rasa Malas'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-1229150810741615820</id><published>2008-11-13T00:27:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T06:08:24.597-08:00</updated><title type='text'>Hidup Sederhana</title><content type='html'>Tak ayal, situasi zaman yang mengubah manusia jadi konsumtif seperti saat ini, membuat hidup sederhana yang disengaja sulit terwujud. Kalaupun seseorang atau sebuah keluarga hidup sederhana, ya karena memang sebegitulah kemampuan finansialnya. Padahal, manakala kita menyengajakan diri untuk hidup sederhana sesungguhnya ada beberapa persoalan penting yang bisa teratasi, di antaranya adalah korupsi dan kesenjangan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup sederhana bukan berarti hidup bersusah-susah, makan tak bergizi, dan tidak berpendidikan. Hidup sederhana adalah meninggalkan sikap berlebih-lebihan, baik dalam makan, minum, berpakaian. Hidup sederhana adalah aktualisasi dari rasa syukur atas rejeki yang dikaruniakan Tuhan seberapapun adanya, dan membagi kelebihannya untuk kemaslahatan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan di rumah merupakan ujung tombak penanaman konsep hidup sederhana. Anak-anak yang terbiasa serba mudah mendapatkan apapun yang dinginkannya, meski mungkin bukanlah sesuatu yang benar-benar penting seringkali akan memiliki tolok ukur yang berlebihan terhadap apapun, entah merek pakaian, jenis makanan, restoran, kendaraan, tempat tinggal, sekolah, dan lain-lain. Mereka akan berusaha mendapatkan semua itu meski harus melanggar kepentingan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat membuka kursus membaca untuk anak usia 3 - 8 tahun. Selain masalah beragamnya karakter dan kemampuan anak-anak, satu hal yang saya cermati adalah interaksi mereka dengan teman-temannya. Tahukah bahwa anak-anak usia 6 tahun sudah mengenal aksi saling pamer dan bisa bertengkar gara-gara semua itu, entah penghapusnya, bukunya, pensilnya, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya kesederhanaan akan mengubah semua fenomena itu menjadi sebaliknya. Jika sedari kecil anak-anak dibiasakan untuk tidak memandang atribut-atribut kemewahan sebagai hal yang penting, maka Insya Allah mereka akan lebih bisa lentur dalam kehidupan. Sepeda jelek tak bermerek, asalkan masih bisa jalan ya senang saja. Meski pergi ke mana-mana selalu naik angkot atau berdesakan di atas bis kota, ya nikmati saja. Walau pakai sandal harga 10 ribu dan celana atau baju 5 ribuan, asalkan bisa mengalasi kaki dan menutup tubuhnya anak-anak akan tetap tersenyum gembira. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya mungkin terjadi hanya jika orang tuanya menerapkan hidup sederhana dan tak mempedulikan strata sosial terhadap apapun yang dimilikinya. Kalau dibuat jenjang kelas untuk semua benda, maka tentulah akan muncul kategori murah, mahal, dan mewah. Sekolah mewah lebih bergengsi daripada sekolah murah, buku baru yang masih berlabel lebih keren daripada buku bekas yang belinya di loakan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya yang memang tidak biasa hidup mewah sedari dulu, seringkali tak mengira bahwa ada orang yang memiliki standar yang begitu tinggi bahkan untuk sebuah merek sandal atau sepatu. Tapi, ternyata hal itu terjadi di banyak tempat dan di semua strata sosial. Ya, mungkin karena zaman memang telah jauh berubah. Bagaimana dengan Anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-1229150810741615820?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/1229150810741615820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=1229150810741615820&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1229150810741615820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/1229150810741615820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/11/hidup-sederhana.html' title='Hidup Sederhana'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3604869033186695823</id><published>2008-11-03T01:01:00.000-08:00</published><updated>2010-11-16T04:06:23.903-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='portofolio HE'/><title type='text'>Saling Mengajari</title><content type='html'>Hal menarik kembali saya temukan pada interaksi kedua anak saya, Azkia (6 tahun) dan Luqman (4 tahun). Selama ini Azkia sebenarnya hampir bisa dikatakan sudah menjadi salah seorang guru buat adiknya. Dia-lah yang membacakan buku-buku dan menjelaskan setiap isi buku serta berbagai gambar yang ada di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini kami malah dikejutkan dengan kemampuan Luqman menghapal nama-nama dinosaurus dengan berbagai ciri-cirinya, padahal kami sendiri terus terang tidak pernah hafal tentang hal itu. Azkia-lah sang guru yang mengajari Luqman apa itu &lt;em&gt;Triseratops&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Tiranosaurus&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Stegosaurus&lt;/em&gt;, dll. Mereka bermain tebak-tebakan tentang tema itu dengan panduan buku DINOSAURUS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, suatu malam, saya cukup  tercengang karena Azkia ternyata juga mau belajar dari adiknya. Dia meminta pada adiknya, "Ade, bikinin gambar ikan dong! Ade menggambar badannya, kakak menggambar ekornya... Soalnya Kakak nggak bisa terus bikin badan ikan" He he.... Lucu kan?! Adiknya pun melakukan permintaan itu dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya, Azkia pun berceloteh, "Mama, kakak sekarang sudah bisa bikin ikan. Ade yang ngajarin kakak." Jadi, saya pikir sekarang tak perlu lagi anak-anak diajari bagaimana harus bersikap &lt;strong&gt;teachable&lt;/strong&gt; atau senang berguru pada siapa saja. Mau belajar pada orang yang lebih muda adalah sebuah tahapan yang luar biasa, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dewasa malah sering merasa gengsi untuk belajar dari orang yang dianggap lebih rendah kedudukannya, ilmunya, pendidikannya, atau status sosialnya. Hmmm... saya juga sebenarnya jadi ikut belajar dari anak-anak....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3604869033186695823?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3604869033186695823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3604869033186695823&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3604869033186695823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3604869033186695823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/11/saling-mengajari.html' title='Saling Mengajari'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-250011828613740612</id><published>2008-11-01T02:04:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T03:59:28.072-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku saya'/><title type='text'>Yuk, Mengenal Tanaman Obat!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SQwgswCddBI/AAAAAAAAAgk/jL7vXvIPHmo/s1600-h/tanaman+obat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 196px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SQwgswCddBI/AAAAAAAAAgk/jL7vXvIPHmo/s200/tanaman+obat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263618017670820882" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa waktu lalu, saya pergi ke tempat foto copy untuk melaminasi kartu yang berisi nama-nama tumbuhan obat. Saya membuatnya untuk menamai koleksi tumbuhan obat yang saya tanam di dalam pot. Anak pemilik tempat foto copy itu sedang tidak sekolah karena takut diimunisasi, katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki yang masih kelas 3 SD itu membaca kata-kata yang ada di kartu dengan heran. Dia pun bertanya, "Ini buat apa, Bu?". Saya jawab, "Buat menamai tanaman obat". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun jadi penasaran ingin tahu apakah dia sudah kenal dengan nama-nama yang tercantum di kartu itu ataukah belum, maka saya pun bertanya balik kepadanya, "Tahu nggak tanaman kunyit kayak apa?". Anak itu menggeleng. "Kalau kencur?" tanya saya lagi. Dia pun menggeleng lagi. "Di dapur juga nggak pernah liat?" lanjut saya. Anak itu kembali menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm... saya menduga, berarti anak sekolah, khususnya di perkotaan saat ini sudah tak peduli lagi dengan hal-hal remeh semacam ini dan di sekolah juga memang nggak ada kan ya pelajaran tentang jenis-jenis tanaman obat atau bahkan tanaman bumbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat teman-teman yang masih menganggap penting pengetahuan semacam ini diberikan pada anak-anaknya, buku &lt;strong&gt;Yuk, Mengenal Tanaman Obat! &lt;/strong&gt; yang diterbitkan oleh ChilPress (Imprint Salamadani-Bandung) mungkin bisa menjadi awal untuk membuat anak-anak tertarik mengenal tanaman obat. Harga bukunya? Saya yakin terjangkau, hanya Rp. 13.500,- per eksemplar. Selamat membaca!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-250011828613740612?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/250011828613740612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=250011828613740612&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/250011828613740612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/250011828613740612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/11/beberapa-waktu-lalu-saya-pergi-ke.html' title='Yuk, Mengenal Tanaman Obat!'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SQwgswCddBI/AAAAAAAAAgk/jL7vXvIPHmo/s72-c/tanaman+obat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3122375845426471310</id><published>2008-10-30T18:04:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:23:18.596-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Semua Butuh Waktu</title><content type='html'>Malam kemarin (30/10/2008) saya mendapatkan sebuah pengalaman menarik dari putri saya Azkia (6 tahun). Sejak saya memutuskan untuk mulai mengajari dan mengajaknya sholat lima waktu, perjalanan ternyata tak semulus yang diharapkan. Ya, kadang masih zig-zag. Adakalanya ia melakukan shalat tapi wajahnya sedikit keruh, namun sering juga sholat dilakukan dengan wajah yang riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah siap dengan semua itu, karena dalam banyak kebiasaan lainnya, sejak ia bayi sampai sekarang nyatanya saya menemukan satu prinsip yang sama, yaitu: &lt;strong&gt;Menanamkan Kebiasaan Membutuhkan Waktu&lt;/strong&gt;. Jadi, saya hanya perlu menahan diri untuk tidak cepat menyerah. Tugas saya adalah tetap konsisten mengajaknya sampai ia terbiasa, sampai ia menganggap kebiasaan tersebut sebagai kebutuhan dalam hidupnya, meski saya juga tidak tahu kapan itu terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar seminggu sebelumnya Azkia pernah bertanya pada papanya, "Kenapa ya Pa, kakak suka malas untuk sholat?" Lantas papanya berkata, "Karena di dalam diri kita ada syaitan yang selalu membisiki hati agar kita malas." Dan seterusnya, terjadilah dialog pendek tentang apa itu syaitan, bahwa syaitan itu adalah musuh manusia yang tidak terlihat oleh mata,dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke peristiwa malam kemarin, saat Shalat Maghrib tiba, Azkia yang sudah tiduran di kasur sejak sore terlihat malas-malasan lagi ketika saya mengajaknya sholat. Mmmm.... saya tahu, memaksa bukanlah cara yang tepat. Jadi, akhirnya saya bilang, "Kakak ngantuk ya? Nggak mau sholat?" Dan ia pun mengangguk. "Ya sudah. Nggak apa-apa, tapi besok sholat lagi ya!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beberapa saat kemudian, ketika saya turun dari tempat tidur untuk mengambil air wudhu, Azkia juga ikut turun. Saya tanya, "Mau ke mana?". Dia pun menunjuk ke kamar mandi. "Mau wudhu?", tanya saya. Ia pun mengangguk. Saya dan papanya tertawa, dan papanya bilang, "Kakak sudah bisa melawan musuh. Ya, kan?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran malam tadi membuat saya semakin yakin, bahwa anak-anak hanya perlu waktu untuk memiliki kebiasaan yang kita harapkan. Dan menjadi orang tua memang membutuhkan cadangan kesabaran yang lebih dari sekedar biasanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3122375845426471310?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3122375845426471310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3122375845426471310&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3122375845426471310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3122375845426471310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/10/semua-butuh-waktu.html' title='Semua Butuh Waktu'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-4155813200904654627</id><published>2008-10-30T06:01:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:33:52.973-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Mengulang Pelajaran</title><content type='html'>Mengulang pelajaran adalah salah satu cara agar kegiatan belajar ada jejaknya, menguat dalam ingatan, dan menjadi &lt;em&gt;database&lt;/em&gt; untuk dikeluarkan lagi pada saat yang dibutuhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang yang pernah mengenyam bangku sekolah pasti mengenal istilah 'ulangan'. Itulah rutinitas yang paling tidak disukai oleh sebagian besar anak sekolah. Ulangan membuat mereka terpaksa harus membaca ulang pelajaran yang sudah dibahas dan mengingatnya sekuat mungkin agar bisa menjawab soal-soal yang diberikan guru, lalu dilupakan setelah ulangan selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menelisik maksud pembuatan mekanisme 'ulangan' di sekolah, saya yakin tujuannya sama dengan apa yang saya paparkan di awal, yaitu agar pelajaran terekam lebih dalam saat anak-anak membacanya kembali. Tapi.... sayang hasilnya ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan tujuan tersebut. Ulangan pada kenyataannya hanya menjadi sebuah peristiwa yang membebani dan membuat sebagian besar anak-anak mengeluh atau mengambil jalan pintas dengan menyontek buat mereka yang malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya agar kegiatan mengulang pelajaran jadi menyenangkan buat anak-anak? Saya sendiri tidak tahu persis prosesnya seperti apa, yang jelas saya heran dengan kebiasaan kedua anak saya yang tak pernah bosan mengulang-ulang membaca banyak buku yang sama hingga beberapa kali padahal &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; pernah ada acara ulangan dan tak pernah juga disuruh-suruh. Uniknya, kalau bukunya bertambah, maka bertambah pula lingkaran pengulangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kecil Luqman yang kini berusia 4 tahun dan belum saya ajari membaca secara khusus, memang masih membutuhkan bantuan kami (saya, papanya, dan kakaknya) untuk membaca buku. Tapi secara prinsip, dia pun termasuk anak yang gila membaca. Tak peduli pagi, siang, sore, atau malam sebelum tidur dia akan minta dibacakan buku pada saat dia menginginkannya. Terlebih sebelum tidur, ia pasti akan membawa setumpuk buku yang diambil secara acak ke tempat tidur dan meminta salah satu dari kami untuk membacakannya. Kalau para pembacanya tidak menawar, pasti semua buku yang dia bawa harus dihabiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin yang saya tangkap dengan mengamati kebiasaan kedua anak saya itu adalah bahwa mengulang pelajaran akan menyenangkan kalau anak-anak menyukai kegiatan belajar dan mereka tidak punya beban apa-apa saat melakukannya, bukan karena mengharapkan &lt;em&gt;reward&lt;/em&gt; (hadiah)dan bukan pula karena ancaman &lt;em&gt;punishment&lt;/em&gt; (hukuman). Mereka mengulang pelajaran karena mereka memang membutuhkan dan menginginkan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira hal itu juga bisa terjadi di sekolah, jika kegiatan belajar di sekolah dibuat lebih menarik, lebih fleksibel, dan kaya dengan pengakuan untuk semua jenis kecerdasan, semua jenis karakter anak. Budaya pemeringkatan anak berdasarkan nilai akumulatif (untuk semua pelajaran) harus mulai dihilangkan agar semua anak memiliki citra diri positif terhadap dirinya, berdasarkan kelebihannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Pendidikan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-4155813200904654627?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/4155813200904654627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=4155813200904654627&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4155813200904654627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/4155813200904654627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/10/mengulang-pelajaran.html' title='Mengulang Pelajaran'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3244900667952712127</id><published>2008-10-26T20:33:00.000-07:00</published><updated>2008-10-27T02:18:41.951-07:00</updated><title type='text'>Berbagi Resep Roti</title><content type='html'>Sejak kasus masuknya unsur melamin pada produk susu dan makanan ringan mencuat, saya sedikit khawatir membeli makanan jadi untuk anak-anak. Oleh karena itu, sekalian mengasah keterampilan mengolah makanan camilan, sudah sebulan terakhir ini saya lebih sering membuat sendiri makanan kecil buat anak-anak daripada membeli camilan siap makan. Memang sih, sedikit repot, tapi tak apalah... Hikmahnya, saya jadi sedikit lebih mahir dari biasanya untuk &lt;em&gt;bikin-bikin &lt;/em&gt;kue .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, buat ibu yang juga senang mencoba-coba resep, mungkin komposisi resep roti sederhana berikut ini bisa dicoba juga di rumah. Bahannya sangat mudah didapat dan cara membuatnya pun bisa di sela-sela kegiatan lain, mungkin sambil menunggu nasi masak atau mesin cuci selesai bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SQU82NNAaeI/AAAAAAAAAYo/EAQWq9YXA8Q/s1600-h/roti2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 143px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SQU82NNAaeI/AAAAAAAAAYo/EAQWq9YXA8Q/s200/roti2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261678641607109090" /&gt;&lt;/a&gt;Bahan:&lt;br /&gt;1. 350 gram tepung terigu&lt;br /&gt;2. dua buah kuning telur&lt;br /&gt;3. 1/2 bungkus ragi instan&lt;br /&gt;4. 2 sendok makan mentega&lt;br /&gt;5. 3 sendok gulapasir&lt;br /&gt;6. 1/3 sendok makan garam&lt;br /&gt;7. 1 gelas air hangat&lt;br /&gt;8. 1 buah kuning telur untuk memoles&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cara membuat:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Seduhlah gula pasir dan garam dengan 1 gelas air hangat sampai larut&lt;br /&gt;2. Campurkan semua bahan dan larutan air gula-garam menjadi satu.&lt;br /&gt;3. Uleni sampai kalis (tidak lengket di tangan)&lt;br /&gt;4. Tutup adonan dengan plastik, diamkan selama 20 menit&lt;br /&gt;5. Kempiskan adonan lalu bentuklah menjadi beberapa bagian (12 - 14 bagian). Bisa diisi meses atau susu jika suka. Olesi permukaannya dengan kuning telur.&lt;br /&gt;6. Siapkan loyang persegi, olesi margarin&lt;br /&gt;7. Taruhlah potongan adonan yang sudah dibentuk di atas loyang dengan jarak cukup renggang.&lt;br /&gt;8. Biarkan selama 10 menit untuk mendapatkan tahap pengembangan kedua&lt;br /&gt;9. Oven di atas api sedang selama 10 - 15 menit.&lt;br /&gt;10. Roti siap disantap. Kita bisa memasukkan tambahan susu atau selai ke dalam roti dengan cara membelah roti dan mengolesi bagian dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya resep ini sudah saya coba hari ini, dan anak-anak ketagihan mau nambah. Selamat ber-eksperimen!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3244900667952712127?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3244900667952712127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3244900667952712127&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3244900667952712127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3244900667952712127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/10/berbagi-resep-roti.html' title='Berbagi Resep Roti'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SQU82NNAaeI/AAAAAAAAAYo/EAQWq9YXA8Q/s72-c/roti2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-5525341515849827357</id><published>2008-10-25T21:19:00.001-07:00</published><updated>2008-10-27T02:16:30.844-07:00</updated><title type='text'>Mengapa Orang Lebih Senang Menanam Tanaman Hias daripada Tanaman Herbal atau Sayuran?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SQP2UyVLBZI/AAAAAAAAAYY/gymdidU3XE0/s1600-h/ephorbia2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SQP2UyVLBZI/AAAAAAAAAYY/gymdidU3XE0/s200/ephorbia2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261319626667263378" /&gt;&lt;/a&gt;Kalau saya perhatikan, di sepanjang jalan di komplek tempat saya tinggal, hampir semua rumah menghiasi halaman depannya dengan tanaman hias. &lt;a href="http://www.toekangboenga.com/uploads/20060815083429@Num_Choke_(BY-02)l.jpg "&gt; &lt;font color="black"&gt;&lt;strong&gt;Euphorbia&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/font&gt;, aneka sansevieria, dan tanaman berdaun lebar seperti kuping gajah adalah jenis-jenis tanaman hias yang mendominasi hampir setiap halaman rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, hal itu cukup memberi arti untuk membuat pekarangan depan terlihat lebih asri, namun saya sendiri berpendapat, jika hanya tanaman yang berfungsi sebagai hiasan saja yang kita tanam di halaman rumah kita, sayang sekali ya... Terlebih jika kita hanya memiliki halaman sempit, saya pikir akan jauh lebih berguna jika tanaman yang kita tanam juga berupa jenis yang bisa dikonsumsi atau digunakan sebagai obat-obatan alami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SQP3bRdoDpI/AAAAAAAAAYg/qPtJ024_byE/s1600-h/sirih.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SQP3bRdoDpI/AAAAAAAAAYg/qPtJ024_byE/s200/sirih.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261320837615062674" /&gt;&lt;/a&gt;Selain tanaman hias, sirih, kunyit, kencur, melati, cabai keriting, tomat, cabe rawit, jahe, atau sayur-sayuran seperti bayam dan kangkung, rasanya tak kalah indahnya berada di teras rumah kita jika tanaman-tanaman tersebut ditata dan dirawat dengan baik. Entahlah, saya sendiri sedikit kurang mengerti, mengapa kebanyakan orang lebih suka menanam tanaman hias daripada tumbuhan obat atau sayur-sayuran? Mungkin ada yang bisa menjawabnya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-5525341515849827357?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/5525341515849827357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=5525341515849827357&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5525341515849827357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/5525341515849827357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/10/mengapa-orang-lebih-senang-menanam.html' title='Mengapa Orang Lebih Senang Menanam Tanaman Hias daripada Tanaman Herbal atau Sayuran?'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SQP2UyVLBZI/AAAAAAAAAYY/gymdidU3XE0/s72-c/ephorbia2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-7485299466691295980</id><published>2008-10-19T06:23:00.000-07:00</published><updated>2008-10-19T06:36:50.273-07:00</updated><title type='text'>Buku: Kreasi Kertas Koran</title><content type='html'>Aktivitas sangat penting untuk manusia, tak terkecuali buat anak-anak. Salah satu aktivitas yang menarik, melatih motorik anak, sekaligus bernilai ekonomi adalah membuat aneka craft atau kerajinan. Buku berjudul &lt;strong&gt;Kreasi Kertas Koran&lt;/strong&gt;, hasil karya Bapak Rubiyar, yang diterbitkan oleh Tiara Aksa dapat kiranya membantu memicu gagasan untuk kebutuhan tersebut. Mau lihat covernya dan juga salah satu contoh produknya? Berikut saya bagi fotonya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPs2l4f9rxI/AAAAAAAAAXw/U33SOIsF4N4/s1600-h/jkl.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPs2l4f9rxI/AAAAAAAAAXw/U33SOIsF4N4/s200/jkl.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258857014334697234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPs24ON1eUI/AAAAAAAAAX4/7gfnHll45CI/s1600-h/DSCI0349.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPs24ON1eUI/AAAAAAAAAX4/7gfnHll45CI/s200/DSCI0349.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258857329401887042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-7485299466691295980?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/7485299466691295980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=7485299466691295980&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7485299466691295980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7485299466691295980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/10/edutivity.html' title='Buku: Kreasi Kertas Koran'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPs2l4f9rxI/AAAAAAAAAXw/U33SOIsF4N4/s72-c/jkl.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-7223053450658261745</id><published>2008-10-16T21:13:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:36:00.298-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Contoh Poster Untuk Stimulasi Membaca</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu saya pernah memposting &lt;a href="http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2007/07/kekuatan-poster-untuk-media-belajar.html"&gt;&lt;font color="black"&gt;&lt;strong&gt;tulisan tentang manfaat poster untuk kegiatan belajar&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/font&gt;. Kali ini saya tampilkan beberapa contoh poster stimulasi kemampuan membaca yang bisa dipergunakan di rumah maupun di kelas-kelas prasekolah atau bahkan Sekolah Dasar. Semoga memberikan inspirasi dan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPlF9-lTj1I/AAAAAAAAAXo/kobDsqiGcXk/s1600-h/senter2.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPlF9-lTj1I/AAAAAAAAAXo/kobDsqiGcXk/s200/senter2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258310971005570898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPlF2SSYwcI/AAAAAAAAAXg/-gUPE1aels4/s1600-h/raket2.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPlF2SSYwcI/AAAAAAAAAXg/-gUPE1aels4/s200/raket2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258310838855975362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPlFkLK4TTI/AAAAAAAAAXY/ZgwAnLjLqcs/s1600-h/an+nisa2.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPlFkLK4TTI/AAAAAAAAAXY/ZgwAnLjLqcs/s200/an+nisa2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258310527707794738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-7223053450658261745?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/7223053450658261745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=7223053450658261745&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7223053450658261745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/7223053450658261745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/10/contoh-poster-untuk-stimulasi-membaca.html' title='Contoh Poster Untuk Stimulasi Membaca'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPlF9-lTj1I/AAAAAAAAAXo/kobDsqiGcXk/s72-c/senter2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-36084564455245023</id><published>2008-10-16T05:02:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:04:49.794-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi pembelajaran'/><title type='text'>Menggambar, Menggunting, Lalu Buatlah Cerita</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPc2nU6jFgI/AAAAAAAAAWQ/hJ2Lwh2-fGE/s1600-h/DSCI0306.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPc2nU6jFgI/AAAAAAAAAWQ/hJ2Lwh2-fGE/s200/DSCI0306.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257731139235419650" /&gt;&lt;/a&gt;Hobi anak-anak, terutama si kecil Luqman ( 4 tahun) sekarang ini adalah menggambar, menggunting, dan mendongeng. Kereta api, rumah, mobil, dan ikan adalah gambar favoritnya. Percaya dirinya lumayan tinggi. Dia bisa menggambar dengan cepat dan dengan cepat pula menggunting gambar yang dibuatnya, lalu dibuatlah cerita tentang gambar itu tanpa merasa minder gambarnya akan dibilang jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, karena hobinya itu, kertas-lah yang paling sering diminta. Sekarang koleksi gambarnya mereka kumpulkan dalam sebuah stoples. Sebagian gambar juga dihasilkan dari &lt;em&gt;print &lt;/em&gt;&lt;em&gt;out &lt;/em&gt;dari komputer. Tentu saja gambarnya sudah jadi, di-&lt;em&gt;copy &lt;/em&gt;dari internet. &lt;em&gt;Nggak &lt;/em&gt;apa-apa kan ya &lt;em&gt;copy&lt;/em&gt;-&lt;em&gt;paste &lt;/em&gt;dari internet, asalkan bukan untuk keperluan komersial.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPc3BidXUKI/AAAAAAAAAWY/sSo8IPJscXE/s1600-h/DSCI0278+copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPc3BidXUKI/AAAAAAAAAWY/sSo8IPJscXE/s200/DSCI0278+copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257731589547708578" /&gt;&lt;/a&gt;Dan... Salah satu kebiasaan mereka saat menggambar dan menggunting adalah berceloteh, berisi dialog cerita apa saja yang mereka ingat. Hal itu bisa jadi tak mungkin dilakukan jika dia berada dalam sebuah kelas. Celotehan mereka bisa membuat anak lain terganggu, kan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPc3UmGBVuI/AAAAAAAAAWg/ovMOM-lPg-o/s1600-h/DSCI0307.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPc3UmGBVuI/AAAAAAAAAWg/ovMOM-lPg-o/s200/DSCI0307.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257731916941055714" /&gt;&lt;/a&gt;Saya kira, itulah kiranya salah satu kelebihan &lt;em&gt;homeschool&lt;/em&gt; yang kami rasakan buat keluarga kami: Membuat anak-anak bisa mengeksplorasi gagasan dengan cara yang khas, tanpa khawatir gagasannya dicela atau dikomentari secara berlebihan. Keep &lt;em&gt;homeschool&lt;/em&gt; buat yang menganggapnya cocok!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-36084564455245023?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/36084564455245023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=36084564455245023&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/36084564455245023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/36084564455245023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/10/menggambar-menggunting-lalu-buatlah.html' title='Menggambar, Menggunting, Lalu Buatlah Cerita'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_u3XY2dsltds/SPc2nU6jFgI/AAAAAAAAAWQ/hJ2Lwh2-fGE/s72-c/DSCI0306.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-8857113640332816339</id><published>2008-10-14T22:41:00.001-07:00</published><updated>2010-11-16T04:02:19.648-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Berbagi Peran dalam Mendidik Anak</title><content type='html'>Cari uang urusan ayah dan ngurus anak bagian ibu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kira-kira pandangan lama tentang pembagian peran ayah dan ibu dalam keluarga. Apakah harus sedemikian mutlaknya cara suami-istri mengelola peran untuk mendidik anak-anak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat,paradigma tersebut justru akan membuat proses pendidikan menjadi berat sebelah. Bukan dalam konteks keadilan jender tapi dalam konteks kepentingan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal-hal yang khas pada sosok ayah dan ibu. Anak-anak perlu mendapatkan input positif dari keduanya agar mereka memiliki figur yang seimbang dalam pendidikan. Anak perempuan kelak akan menjadi ibu dan dari contoh yang diperlihatkan ibunya ia akan belajar tentang pendidikan anak-anak. Demikian pula anak laki-laki suatu saat akan menjadi ayah, sehingga ia perlu figur seorang ayah yang peduli dengan pendidikan anak-anaknya agar kelak ia pun bisa menjadi ayah yang bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah yang jarang terlibat dalam kegiatan belajar anak-anaknya sesungguhnya telah menanamkan citra bahwa bukanlah tugas ayah mengajari anak-anak, itu adalah tugas seorang ibu. Nah, Bagaimanakah pembagian peran ayah dan ibu dalam keluarga Anda? Sharing pengalaman Anda di pendidikan_rumah@yahoogroups.com.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-8857113640332816339?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/8857113640332816339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=8857113640332816339&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8857113640332816339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/8857113640332816339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/10/berbagi-peran-dalam-mendidik-anak.html' title='Berbagi Peran dalam Mendidik Anak'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-6121250331473594660</id><published>2008-10-13T21:16:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:29:33.419-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Homeschooling dan Trend Profesi Masa Depan</title><content type='html'>Homeschooling (HS) sebagai pendidikan alternatif memang masih tetap diragukan orang. Kritik masyarakat terhadap HS tak hanya menyangkut sosialiasi dan legalisasi yang dianggap lemah, melainkan juga pesimisme terkait pekerjaan dan profesi anak-anak kelak setelah dewasa. Kekhawatiran akan hal itu wajar  terjadi jika kita melihat pekerjaan dan profesi hanya dari kaca mata formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, seperti kita ketahui era digital telah menyumbangkan informasi bak banjir tak terbendung bagi masyarakat dunia. Hal itu telah melahirkan beragam jenis profesi baru yang seringkali mampu menyingkirkan aspek-aspek formal sebuah pekerjaan. Profesi di  masa yang akan datang  bisa jadi akan sangat-sangat berbeda dengan definisi profesi yang ada hari ini. Setidaknya akan ada tambahan varian profesi dan pekerjaan selain apa yang kita kenal sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, bersekolah formal ataupun tidak, berijazah formal ataupun tidak, bisa jadi tak lagi berpengaruh banyak terhadap eksistensi seseorang di masa yang akan datang. Skill, wawasan, attitude, dan kemauan belajar adalah penunjang terpenting yang bisa menghapuskan parameter-parameter formal dalam memperoleh kesempatan bekerja dan berkarya serta memperoleh penghasilan yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, tak dapat disangkal bahwa jaminan pekerjaan dan profesi masih menjadi alasan utama mengapa orang tua menyekolahkan anak-anaknya. Sayangnya, fakta menunjukkan, sekolah formal pun ternyata belum mampu memberikan jaminan itu. Hanya anak-anak yang memiliki kapabilitas bersaing yang akan bisa diserap oleh pasar kerja, yaitu anak-anak yang rajin menambah skill dan wawasan mereka di luar kegiatan akademik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang dididik dengan model HS masih mungkin dan bahkan lebih mungkin memiliki kriteria seperti tersebut di atas. Tanpa kurikulum yang mengikat, anak-anak bahkan  punya kesempatan lebih banyak untuk  menggali potensi terbaik mereka pada beberapa bidang yang disukai. Kita tentu menyadari bahwa bidang-bidang profesi yang digeluti seseorang pada akhirnya hanya satu atau dua saja dari banyak bidang yang ada dan pernah ia kenal dan pelajari secara sepintas di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu menunjukkan bahwa sesungguhnya jika seorang anak mampu memaksimalkan potensi mereka pada bidang-bidang tertentu secara serius, tentu hasilnya juga tidak akan kalah dengan mereka yang bersekolah di sekolah formal, yang mempelajari serba sedikit dari banyak pelajaran yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang anak benar-benar mampu menjadi seorang ahli di bidang yang ia sukai, hasil dari proses belajar yang sangat dalam dari berbagai sumber dan guru terbaik di bidang tersebut, yakinlah bahwa ia akan dicari banyak perusahaan untuk menjadi ahli mereka. Selebihnya, jika anak-anak yang tumbuh menjadi ahli tersebut sekaligus juga memiliki kemampuan enterpreunersip  maka ia bisa mempergunakan kemampuannya untuk melakukan usaha mandiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pendidikan di negeri ini tengah mengalami banyak persoalan, kehadiran homeschooling mungkin lebih nampak seperti riak-riak  protes dan keraguan akan pendidikan formal. Padahal lebih dari itu HS sesungguhnya sebuah pilihan untuk menikmati pendidikan secara merdeka dan berorientasi pada masa depan anak. Bahkan akhirnya  anak-anak sendirilah yang dibimbing untuk menentukan masa depan mereka, sehingga mereka tahu harus mempelajari apa dan harus belajar pada siapa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-6121250331473594660?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/6121250331473594660/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=6121250331473594660&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6121250331473594660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/6121250331473594660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/10/homeschooling-dan-trend-profesi-masa.html' title='Homeschooling dan Trend Profesi Masa Depan'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3850741658898378416</id><published>2008-10-12T06:06:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:35:26.998-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Maksimalkan Pendidikan Alternatif</title><content type='html'>Sudah terlanjur masyarakat menganggap, bahwa pendidikan itu mesti dilakukan di sebuah lembaga formal, seperti halnya sekolah. Sementara itu, serangkaian persoalan klise berkaitan dengan sekolah, seperti gedung yang ambruk, kelas yang rusak, SPP yang mahal, DSP yang membengkak, gurunya kurang, dan banyak persoalan lainnya, sampai saat ini masih sulit untuk dituntaskan. Mayoritas berujung pada persoalan dana, sementara di sisi lain sektor pendidikan disinyalir merupakan tempat yang rawan penyelewengan dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ironis dan menyedihkan. Jika pendidikan bertujuan untuk meninggikan kualitas manusia, sehingga tercipta masyarakat yang positif, produktif, dan bertakwa, maka dunia pendidikan di negeri kita nampaknya jauh meninggalkan tujuan itu. Imam Ghazali dalam bukunya Ayyuhal Walad, menetapkan makna pendidikan (tarbiyah) itu, bagaikan seorang petani yang tengah mencabut duri dan membuang tanaman asing yang mengganggu di antara tumbuhan yang ia tanam, agar tanaman tersebut tumbuh dan berkembang dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme secara berangsur-angsur memang telah berhasil  membumbui hampir semua sisi kehidupan dengan tujuan-tujuan materil, tak terkecuali bidang pendidikan. Sementara itu, berbicara penyelesaian masalah pendidikan yang kompleks, kunci satu-satunya justru adalah kepedulian; dan itu jelas berseberangan dengan prinsip-prinsip kapitalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menggalang Kepedulian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sejak subsidi pendidikan dikurangi, efek yang langsung terasa oleh masyarakat, adalah mahalnya biaya sekolah. Terlebih dengan kebijakan otonomi sekolah, maka sekolah tak jauh beda dengan perusahaan. Tidak bisa tidak sekolah harus bisa mencari dana sendiri untuk memenuhi kebutuhannya dan jika dimungkinkan tentu bisa meraih keuntungan yang besar sebagaimana layaknya perusahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu terjadi bahkan sejak level prasekolah, di mana sekarang berjamur Taman Kanak-Kanak dan Play Group yang  biayanya mahal bukan kepalang. Kisaran minimal 2 juta hingga mencapai lima atau 6 juta hanya untuk uang pangkalnya saja. Belum lagi SPP dan uang seragam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa yang akan pertama kali dipelajari oleh anak-anak bahkan di usia yang sangat dini? Yakinlah bukan kualitas kurikulumnya, melainkan perasaan ekslusif karena mereka belajar di sekolah yang mahal, fasilitasnya lengkap, dan gedungnya megah. Jadi tidaklah salah bukan, jika kita katakan, bahwa dengan format sekolah seperti yang ada hari ini, anak-anak sudah menampung benih kapitalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak yang orang tuanya tak punya uang untuk membayar biaya sekolah semahal itu? Bagaimana pula nasib sekolah yang murid-muridnya dari kalangan kelas akar rumput, yang gedungnya pun tinggal puing-puing? Kesenjangan itu hanya akan semakin menganga lebar andai kita tak menggalang kepedulian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pengadaan dana untuk rehabilitasi ratusan bahkan mungkin ribuan gedung sekolah negeri memberatkan pemerintah, sehingga tidak semua sekolah bisa tersentuh dana rehabilitasi, maka  sebenarnya pemerintah bisa menggandeng tangan-tangan masyarakat yang masih peduli akan pendidikan. Salah satu contoh yang mungkin patut dipertimbangkan adalah gagasan yang dipaparkan di Tajuk Rencana PR (Jumat, 5/5) tentang program Cinta Almamater. Para alumni setiap sekolah bisa bergotong royong menyumbang ke sekolahnya masing-masing untuk membangun kembali gedung yang roboh, dengan catatan penggunaan dananya diawasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berupa dana, masyarakat pun bisa berpartisipasi, seperti yang dicontohkan para sarjana di Ciamis yang membuka sekolah terbuka untuk anak-anak petani.&lt;br /&gt;Adapun kepedulian pemerintah yang diharapkan dalam hal ini, adalah menaungi kegiatan pendidikan alternatif itu dengan &lt;strong&gt;pengakuan terhadap legalitas lulusannya&lt;/strong&gt;, sehingga mereka juga punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formalnya ke jenjang yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Alternatif Pengganti Gedung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Faktor penunjang mahalnya biaya sekolah biasanya dinisbatkan kepada biaya gedung. Setiap siswa baru pasti terkena beban untuk membayar uang bangunan, yang jumlahnya bisa jadi cukup besar. Jika pemerintah mendukung lahirnya sekolah-sekolah alternatif yang dikelola masyarakat, persoalan gedung sebenarnya bisa diminimalisir; dan secara otomatis pula, hal itu akan menekan angka DO (Drop Out) karena biaya sekolah bisa menjadi lebih murah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan kata lain, gedung bukanlah segalanya untuk mendidik anak. Bukankah sesungguhnya rumah, pantai hutan, taman bermain, dan seluruh permukaan bumi ini adalah sumber-sumber dan sekaligus tempat yang disediakan Tuhan untuk mendidik manusia? Oleh karena itu , terlepas dari persoalan politis, ‘tak punya gedung sekolah’ tidak bisa lagi dijadikan alasan untuk menghentikan kegiatan pendidikan atau melemahkan semangat para pendidik untuk membimbing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Sekolah Alam telah membuktikan bahwa anak-anak bisa dan bahkan sangat antusias belajar di alam terbuka. Semangat mereka untuk pergi sekolah seolah tak terhentikan. Mereka selalu menemukan hal baru setiap hari. Karena begitu banyak rahasia di alam yang bisa dipelajari. Peran guru adalah membimbing untuk mengarahkan anak-anak didiknya agar mau melakukan penjelajahan dan pembelajaran terhadap seluruh media belajar yang tersedia di alam. Meskipun dari segi biaya tidak lebih murah dari sekolah konvensional, namun sebagai sebuah alternatif untuk memecahkan kekakuan format pendidikan, model sekolah semacam itu bisa dijadikan pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah alternatif untuk anak petani di Ciamis, yang  pernah diberitakan di harian Pikiran Rakyat- Bandung, juga merupakan contoh , bahwa anak-anak tetap bisa antusias belajar meski mereka belajar tanpa seragam dan atribut-atribut formal lainnya.. Semangat mereka untuk belajar bisa jadi mengalahkan anak-anak sekolah di kota yang sepatunya berharga ratusan ribu, gedung sekolahnya megah,  dan uang sekolahnya jutaan rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sudah banyak sekolah-sekolah alternatif didirikan, dan tempat belajarnya bukanlah di dalam sebuah gedung sekolah, seperti umumnya kita temui. Ada orang yang membuat sekolah di kolong jembatan, gerbong kereta api, atau rumah-rumah penduduk. Di satu sisi hal itu mungkin tampak menyedihkan, karena sebenarnya banyak orang kaya yang kelebihan hartanya lebih banyak dipakai untuk berfoya-foya, dan tak tersalurkan untuk mereka yang kekurangan. Namun jika kita berpikir positif, maka keberadaan sekolah ‘darurat’ itu merupakan sumber inspirasi untuk membuat bentuk-bentuk kreatif tempat belajar, di saat kebutuhan menuntut demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan jika konsep ini bisa diterima, maka murid-murid dari sekolah yang sudah berjalan pun, jika sekiranya gedung sekolah masih belum berfungsi, maka mereka bisa didistribusikan ke beberapa tempat belajar. Rasanya masih banyak juga, terutama di pedesaan, orang tua siswa yang bersedia menyiapkan halaman,  teras, ataupun salah satu ruangan di rumahnya (kalau ada) untuk dijadikan tempat belajar sejumlah 5 atau bahkan 10 anak. Bagaimana dengan gurunya? Dengan semangat peduli, rasanya masih banyak juga sarjana pendidikan maupun non kependidikan yang mau menyumbangkan tenaga, pikiran, dan mendedikasikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya untuk anak-anak.  Dan masyarakat yang memiliki kekuatan dana juga bisa “dipanggil” kepeduliannya untuk  membayar upah para tenaga sukarela yang mau mengajar. Andai situasi itu bisa terjadi, alangkah indahnya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3850741658898378416?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3850741658898378416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3850741658898378416&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3850741658898378416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3850741658898378416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/10/maksimalkan-pendidikan-alternatif.html' title='Maksimalkan Pendidikan Alternatif'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5452376376983192765.post-3518359986999516712</id><published>2008-10-10T07:12:00.000-07:00</published><updated>2010-11-16T04:34:31.293-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='portofolio HE'/><title type='text'>Ketika Anakku Belajar Sholat</title><content type='html'>Sedikit terharu, takjub, dan harap saya rasakan saat menyaksikan anak sulung saya Azkia begitu gembira dengan kegiatan barunya, yaitu &lt;strong&gt;sholat lima waktu&lt;/strong&gt;. Mungkin beberapa orang tua lain sudah mengawali pelajaran penting ini jauh lebih dulu dibandingkan saya, saat anak-anaknya berusia jauh lebih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azkia sekarang sudah 6 tahun, tepatnya tanggal 7 Oktober yang lalu. Saya sudah meniatkan jauh-jauh hari untuk mulai menggarap proses belajar dan pembiasaan sholat secara konsisten setelah ultahnya yang ke- 6 ini. Alhamdulillah, mungkin karena saya memang bersungguh-sungguh, anak saya seolah bisa menangkap spirit itu, sehingga ia mau menjalankannya dengan senang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya kegiatan berwudhu, rukuk, dan sujud hanyalah sebuah pengetahuan sepintas lalu, yang ia tahu karena sering dilakukan oleh orang tuanya. Tapi sekarang, dengan mukena warna pink, gadis kecil saya benar-benar diajak untuk melakukan itu semua untuk menjadi "habit" dan kebutuhan yang abadi sepanjang hidupnya, rukuk dan sujud, menyembah Tuhannya dan Tuhan seluruh makhluk berikut alam semesta ini. Kami kini melakukan sholat berjamaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa saya merasakan berat sekaligus mulianya tugas menjadi orang tua kian menghunjam. Hal itu pula yang membuat saya makin banyak melakukan introspeksi diri. Saya belumlah menjadi orang tua yang bisa diteladani, tapi mau ataupun tidak, ditunda atau dipercepat, tugas sebagai orang tua untuk mendidik anak-anaknya harus ditunaikan. Disebutkan dalam sebuah peribahasa:  &lt;strong&gt;Anak adalah cerminan orang tuanya&lt;/strong&gt;. Ya Allah, semoga Engkau memberi hamba dan juga kaum muslimin kekuatan, pengetahuan, dan jiwa yang istiqomah, yang dapat memberi anak-anak kami teladan yang baik untuk bekal hidupnya kelak. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5452376376983192765-3518359986999516712?l=pendidikan-rumah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/feeds/3518359986999516712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5452376376983192765&amp;postID=3518359986999516712&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3518359986999516712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5452376376983192765/posts/default/3518359986999516712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/10/ketika-anakku-belajar-sholat.html' title='Ketika Anakku Belajar Sholat'/><author><name>Maya A Pujiati</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
